Kematian

Kematian

Sebuah pembuktian jika Tuhan memang ada.

Tak mungkin mememanipulasi, menunda, apalagi meniadakan.

Seperti kelahiran.

Kadang direncanakan dan ditunggu.

Namun kadang tak diharapkan.

Disambut penuh kebahagiaan atau dihindari penuh ketakukan.

Itulah kematian.

Kalimat sederhana yang penuh wibawa.

 

Iklan
Jiwa tanpa suara

Jiwa tanpa suara

Sama seperti hari sebelumnya

Dikala sunyi mulai menyapa

Bukan terasa hampa

Melainkan keindahan rasa

Jiwa berkelana

Mencari jejak keagungan

Terlalu padat

Semua berjejal pada satu masa

Terlalu sesak

Sementara pintu menyerebak

Jiwa berkata

Dengan rasa dan kasih

Jiwa bercerita

Dengan cinta dan damai

Jiwa tergugah

Jiwa mengubah

Jiwa berkata tanpa suara

Memang bukan

Memang bukan

Kau tahu yang paling menyedihkan? Merindukan seseorang yang pernah mengisi masa lalumu tetapi dia sudah memiliki masa depan yang berbeda.

Kau tahu yang paling menyakitkan? Ditinggalkan. Sebab itu, aku selalu memilih pergi lebih awal. Tapi ternyata, rasa itu masih bersarang.

Memang aku yang lebih dulu pergi. Tapi, terasa seperti aku yang ditinggalkan sendiri.

Ah, rindu. Betapa kejamnya. Aku baru merasakan kosong itu sekarang. Dulu sewaktu-waktu dia ada untuk kubutuhkan. Lima tahun sudah tidak pernah bertemu. Lima minggu terakhir kau cek kabarku. Lima bulan kau kabarkan istrimu mengandung anakmu.

Senang dan berduka. Senang kau berbahagia. Berduka bahwa kau tak bisa lagi ada untukku selamanya. Itulah mengapa persahabatan antara pria dan perempuan adalah bias.

Kau

Kau

Ternyata lebih. Lebih terluka. Aku tak tahu. Tapi seperti ada yang hilang. Terindukan.

Seperti harus melangkah tanpa boleh melihat jalan. Seperti itu rasanya, mencium harum bunga tanpa boleh berkomentar.

Umpan yang tak ditujukan. Hanya seperti lampu jalan. Sekedar menerangkan. Bukan satu atau dua. Tapi setiap bayang yang terhalang.

Aku beranjak. Melihat dari atas sana. Tersenyum. Sebuah lambaian. Lambaian itu tak berlaku untuk satu.

Terlalu mudah jatuh hati pada jiwa yang tulis mengasihi. Memyedihkan. Bahkan ketika sudah diberikan tempat yang sewajarnya. Tanpa bisa berkata. Aku kan selalu ada.

Terluka. Kembali. Hanya sebatas ini. Ungkapan kata kasih yang terganti. Tersirat meski mudah dipahami. Hanya saja, akankah kau mengerti?

Rasa

Rasa

Tak perlu berkirim pesan setiap waktu

yang aku tahu aku tersimpan di hatinya.

tak perlu mengingatkan atau ibadah

yang perlu diingatkan adalah diri sendiri untuk selalu mendoakan.

sederhana namun indah.

ssstt kapan? Tahun berapa ini? Oh, lupa itu sudah usang 7 tahun yang lalu 😄😄 sudahlah tidur siang lebih baik

Pinocchio

Pinocchio

Apa yang lebih menyebalkan dibanding melawan hati nurani?

Dal po, seberapa besar pun keinginan untuk menyudutkan. Pikiran yang dingin membuat alur cerita jadi lebih indah. Bukankah ia berhak untuk marah dan menjatuhkan?

Aaah betapa kedewasaan itu kunci dari perdamaian. Rifki sensei bilang. Ki. Kita tidak bergerak jika lawan tidak menyerang.  Harmonisasikan.  Maka kita bisa melihat kemana arah yang sebenarnya. Siang ini.

perasaan yang sama. Masih kesedihan yang sama. Masih airmata yang sama.  Mungkin karena  satu hal yang belum tersampaikan.  Dae gu, rasa sakit dan kemarahan . Tidak membakar. Justru diam dan menemukan persahabatan.

Siang hari. AD 10 . Juanda. Depok

Masih orang yang sama

Masih orang yang sama

Tak nampak gelagat akan berpindah dari masa lalu.

“Bodoh kau. Untuk apa pula kau berharap dan menunggu Pik?! Kau pikir kau medan magnet yang dapat menariknya dengan kau dekati perlahan?! Bah! Sudah gila rupanya anak Jawa ini”

“Bukan begitu namboru, aku sudah coba pergi dan menghapus semua memori. Tapi dia begitu lekat. Sepertinya Korinku sudah jatuh hati padanya. Maka dipenuhilah otakku dengan gambaran dia. Bantulah aku namboru”

Epik. Selat disebrangi, beberapa kota dilalui, rupanya tak merubah rasa pada sang “ksatria”.