SOFIA PASTI BISA

“Sofiaaaaa. Ayoooo kamu bisaaa!”. Rabu ini berbeda. Tidak seperti pada rabu-rabu sebelumnya.  Sofia sudah 8 menit bertahan pada instalasi outbond bamboo bridge. Posisinya sudah berada di tengah. Tangannya gemetar memegang tali di atas. Kakinya gemetar di atas bamboo yang menjadi pijakan. Badannya sudah mengayun-ayun, ke depan ke belakang. Mukanya pucat dan matanya menahan air mata yang sebentar lagi turun deras seperti hujan. Rata-rata murid membutuhkan waktu 2-3 menit untuk menyelesaikan instalasi tersebut. Tapi berbeda dengan sofia.

***

Sofia adalah murid kelas empat sekolah dasar yang baru pindah tahun lalu ke Sekolah Brotowali. Tidak banyak yang bisa ia lakukan dulu. Jika berjalan, jalannya sangat lambat. Pelan-pelan seperti takut jatuh. Kedua tumitnya terangkat. Jinjit tidak bisa menapak. Ketika menaiki atau menuruni tangga kedua tangannya harus berpegangan pada besi atau kayu pinggiran tangga, jika tidak maka ia tidak akan berani melangkah. Pelajaran yang diajarkan kepada Sofia masih seperti murid kelas satu SD. Suaranya tidak terdengar, bicaranya sepotong-sepotong sehingga seringkali Bu Hera, guru pendamping Sofia, mengulang apa yang dibicarakan Sofia agar teman-teman mengerti. Kata Bu Hera, Sofia mengalami delay development, perkembangannya terlambat sehingga kemampuannya tidak sama seperti kemampuan anak di usianya. Meskipun begitu, Sofia adalah anak yang ceria, murah senyum, dan selalu memberikan semangat pada semua orang.

Hana, Syifa, Arina, Fathia, Nida, Ajeng adalah teman-teman yang selalu siap membantu Sofia.  Fathia senang mengajarkan Sofia membaca. Hana dan Arina sangat piawai memainkan warna, mereka mengajarkan mewarnai. Syifa pandai berbicara. Suaranya lantang dan tegas. Sekarang suara Sofia terdengar jelas, Syifa yang melatih. Nida dan Ajeng senang sekali mendandani Sofia dengan kain dan kertas kreasi yang mereka buat. Hingga suatu hari Sofia dengan percaya diri tampil di depan kelas memperkenalkan diri, berjalan seperti pragawati dan membacakan 2 baris puisi.

**

Pagi ini Sofia menyaksikan satu per satu temannya melewati bamboo bridge dengan sangat cepat. Terutama Arina dan Nida. Dengan wajah pucat, Sofia menatap Bu Hera dan teman-temannya. Hana mendapat giliran tepat sebelum Sofia.

“Hanaa!” panggil Sofia “Hana bisa. Hana bisa..”

Hana tertawa dan berkata “Iya Sofia, kamu itu selalu menyemangati orang lain”. 3 menit 3 detik waktu yang dibutuhkan Hana. Giliran Sofia.

“Sofia, ayo” kata Pak Andy, Wali Kelas Sofia.

“Takut”  Sofia memegangi Bu Hera, tangannya dingin seperti es.

“Pak, Sofia belum pernah setinggi ini. Keseimbangannya juga belum sempurna,” Bu Hera menjelaskan kondisi Sofia. Bu Hera minta supaya Sofia diberikan instalasi yang lebih mudah. Pak Andy tidak mengizinkan karena Pak Andy  percaya Sofia bisa.

Akhirnya Sofia memanjat tangga dengan sesekali menengok ke Bu Hera. Teman – teman menyemangatinya.

“Ayooo Sofia!” teriak mereka.

Perlahan kakinya menapaki tangga hingga tangga teratas.

“Oke, Sofia. Sekarang jalan pelan-pelan sambil pegangan tali di atas” kata Pak Andy memberikan instruksi. Selangkah demi selangkah Sofia mencoba. Langkahnya sangat pendek. Butuh waktu lebih lama untuk Sofia.

“PAK ANDY!!” keseimbangan Sofia terganggu angin yang berhembus cukup kencang.

“PAAK ANDYY!!” teriak Sofia. Pak Andy menenangkan Sofia. Teman-temannya memberikan semangat dari bawah. Menit kedelapan, posisi Sofia masih berada di tengah – tengah.

Udah Paak, turun turun” Sofia meminta Pak Andy menarik tali pengaman dan menurunkannya. Tangannya gemetar memegang tali di atas. Kakinya gemetar di atas bambu yang menjadi pijakan. Badannya sudah mengayun-ayun, ke depan ke belakang. Mukanya pucat dan matanya menahan air mata yang sebentar lagi turun deras seperti hujan. Bu Hera menatap dan berdoa dari bawah. Dua setengah meter di atas tanah. Ini yang tertinggi yang Sofia coba kata Bu Hera dalam hati.

“Sofia pasti bisa! Ayo semangat” kata Pak Andy.

“Ayo Sofia.. Kamu pasti bisa. SOFIAA SOFFIIAA BISA. SOFIA PASTI BISAAA..” teman-teman setianya memberi yel-yel. Semangat Sofia bertambah. Air matanya turun. Tapi wajahnya tersenyum. Perlahan Sofia melangkah lagi.

“SOFIA BISAAA!” katanya menyemangati diri sendiri. Teman – temannya tertawa. Bu Hera terharu. Dukungan semakin bertambah. Bukan hanya teman-teman sekelas tetapi guru-guru yang berada di perpustakaan dan melihat pun memberikan dukungan melalui jendela.

Seperti diberikan energi dan keberanian lebih oleh Tuhan. Sofia bergerak secepat Arina dan Nida.

“AA AA AAA!” Bamboo bridge bergoyang semakin kencang. Sofia bahagia dan ketakutan. Ujung bamboo bridge sudah terlihat. Bagaimana kalau jatuh, pikirnya.

“Sofia pasti bisa. Sofia bisa. Sofia pasti bisa,” gumamnya. Beberapa doa pun ia ucapkan, dan…

“HORREEEE. SOFIA HEBAATT!”  Semua orang berteriak senang. Sofia perlahan diturunkan. Air matanya masih ada tapi senyumnya cerah seperti matahari. Bu Hera segera memeluknya.

“Sofia hebat nak,” katanya.

“Tuh kan, Sofia bisa. Pak Andy yakin Sofia bisa. Sofia cuma perlu waktu lebih lama dibandingkan teman lainnya. Dengan sabar, tetap berusaha, dan berdoa, Sofia bisa membuktikan bahwa apapun bisa kita raih. Pak Andy bangga sama Sofia”.

“Sofia bisa, Sofia pasti bisa Pak Andy,” Ah Sofia..

Iklan

PUISI ZIYA

Ziya senang sekali menulis. Ziya menuliskan apapun yang terjadi setiap harinya. Selain itu, ia juga pandai membuat puisi, cerita dongeng, dan cerita pendek. Bunda sangat senang melihat Ziya selalu bersemangat menulis. Bunda bilang, tulisan Ziya bisa saja dikirimkan ke majalah atau koran untuk diterbitkan. Namun, Ziya yang pemalu tidak memiliki kepercayaan diri untuk mengirimkan tulisannya.

***

Tahun ajaran baru telah dimulai. Tiba saatnya Ziya memilih ekstrakulikuler di sekolahnya. Tahun ini ada ekstrakulikuler baru. Penulis cilik namanya, disingkat Pencil. Ziya senang sekali. Akhirnya ia memutuskan untuk bergabung bersama Pencil dan memberitahu Bunda tentang kabar gembira ini.

“Bunda… Assalamu’alaikum” Ziya berlari memasuki rumah.

“Wa’alaikumussalam sayang, hati-hati” jawab Bunda yang sedang berada di dapur.

“Bunda, hari ini ada ekstrakulikuler baru di sekolah. Bunda tahu? PENULIS CILIK!” katanya sambil menghampiri Bunda.

“Wah Ziya pasti senang sekali dong..”

“Iya Bun, sangat senang” Ziya mencium tangan Bunda sambil tersenyum.

***

Semakin lama semakin banyak karya yang telah Ziya hasilkan. Tidak terasa satu semester berlalu. Akhir semester pertama telah di depan mata. Pak Anto dan Pak Wisnu sedang menyiapkan hadiah akhir semester yang istimewa untuk anggota Pencil.

“Anak-anak. Pak Anto dan Pak Wisnu bangga sekali dengan kalian. Tidak terasa, satu semester kita bersama dan Bapak telah membaca berbagai macam karya yang indah. Tapi rasanya, tidak cukup jika hanya kita yang bisa menyaksikan keindahan tulisan kalian saja. Sudah saatnya kalian membagi cerita ini pada teman-teman di luar sekolah kita. Bapak dan Pak Wisnu akan mengirimkan karya kalian ke koran minggu. Siapa yang berkenan?” Pak Anto memberikan penawaran pada anak-anak.

“Saya, Pak.”

“Saya!”

“Saya mau, Pak!”

“Saya juga.”

Anggotan Pencil sangat antusias pada tawaran Pak Anto, tetapi tidak dengan Ziya.

“Ziya, kenapa kamu tidak bersuara” Pak Wisnu mendekati Ziya.

“Saya malu Pak. Saya memilih Pencil karena saya senang menulis dan tidak nyaman jika harus berbicara di depan banyak orang. Saya juga tidak percaya diri dan takut karya saya tidak cukup bagus untuk dibaca.”

“Ziya, kau tahu peribahasa buku adalah jendela dunia? Seorang penulis bukan menulis untuk bersembunyi dari dunia. Tapi, untuk membantu orang lain melihat indahnya dunia. Tulisanmu penuh kebaikan dan pelajaran bagi banyak orang. Tulisanmu mengajarkan sopan santun dan saling menghargai antar sesama. Kamu mengemasnya dengan cukup baik. Lalu apa yang kamu takutkan?”

“Saya hanya tidak mau Pak. Saya ga mau karya saya dilihat orang. Cukup Bapak dan Pak Anto saja. Nanti saya malu seandainya orang lain baca dan ternyata tulisan saya tidak sebaik harapan saya”

“Kalaupun ternyata tulisan kita belum baik untuk diterbitkan tentu bisa kita ambil sebagai pelajaran. Tugas kita hanya berlatih, membuat karya, hasilnya kita serahkan pada Tuhan. Ziya tahu J.K Rowling? Penulis Harry Potter. Ternyata banyak penerbit yang menolak karyanya dulu. Namun, ia tidak menyerah. Sekarang seluruh dunia mengenal Harry Potter. Tapi Ziya, tujuan kita adalah berbagi lewat tulisan kita dan terus belajar.”

Benar apa yang dikatakan Pak Wisnu, tetapi ketakutan Ziya lebih besar dari semangat yang diberikan Pak Wisnu. Akhirnya Ziya tetap pada keputusannya. Menyimpan karyanya di dalam laci dan lemari.

***

Bunda menghampiri Ziya yang sedang tertunduk lesu di kamar.

“Sayang, sudah tidak apa-apa. Sebenarnya, Pak Wisnu sama seperti Bunda. Pak Wisnu tahu cerita Ziya akan menyebarkan kebaikan. Sebab itu, Pak Wisnu ingin Ziya mengirimkan karyanya ke koran minggu. Supaya banyak anak-anak yang baca dan terinspirasi.”

“Bunda sudah tahu?!” Ziya terkejut.

“Iya tadi Pak Wisnu telepon Bunda.”

Semua orang sama saja, pikir Ziya. Tidak ada yang bisa memahaminya.

“Aku hanya ingin menulis dan tidak perlu pembaca.” Kata Ziya dalam hati.

***

Dua minggu sudah berlalu sejak karya-karya anggota Pencil dikirimkan. Pak Anto bilang ada karya yang terpilih. Tapi, Pak Anto tidak memberitahu karya siapa yang terpilih. Ziya penasara. Minggu pagi ini, ia lebih dulu mengambil koran ayah dan membaca kolom karya nusantara.

“Indah.. Surya.. Ziya… Ziya? Ziya?!!!” teriakan Ziya mengagetkan seisi rumah.

“Bunda.. Ziya! Ziya! Karya Ziya ada di koran Bunda!!! Ziya! Bunda!! Ayah!” Ayah segera berlari ke arah Ziya.

“Iya nak, Bunda tahu. Pak Wisnu sudah memberitahu Bunda.” Kata Bunda sambil berjalan membawa potongan apel di atas piring.

“Bunda tahu?!” Ziya dan Ayah bertanya bersamaan.

“Iya, Bunda tahu. Bunda percaya Ziya bisa. Tapi ternyata harus ada orang lain dulu yang memulai. Kalau begini apakah Ziya masih malu pada karyanya? Jangan lupa telpon Pak Anto dan Pak Wisnu ucapkan terima kasih karena masih mengirimkan karya Ziya.”

“Waah, Ziya.. Ternyata memang tidak ada yang peru dikhawatirkan. Coba saja. Kita tidak pernah tahu kapan kita berhasil. Seperti ini.” Kata ayah bangga.

Ziya terharu. Terima kasih Pak Wisnu, Pak Anto.

“Terima kasih Ayah, terima kasih Bunda” kata Ziya sambil memeluk Ayah dan Bundanya.

“Maafkan Ziya, ternyata Ziya harus lebih percaya diri dan mencoba. Terima kasih”

ANINDITA, HABISKAN MAKANMU.

Mbah Uti selalu sedih jika melihat kotak bekal makanan Anindita. Selalu saja ada sisa makanan dan tidak pernah sedikit. Beberapa kali Mbah Uti mengingatkan Anindita untuk mengambil bekalnya sendiri. Mungkin saja dengan begitu bekal yang dibawa akan habis dimakan. Tapi, sayangnya hal itu tidak terjadi. Setiap kali ditanya alasannya adalah kenyang.

“Anindita, kenapa masih sisa bekalnya?” Mbah Uti terdengar putus asa.

“Sudah kenyang Mbah Uti,” ujar Anindita.

“Kalau kenyang harusnya kan Anindita ga jajan makanan lagi pulang sekolah tadi.” Anindita tidak menjawab dan sibuk dengan mainanannya.

“Assalamu’alaikum..” terdengar suara dari pintu.

“Tante Amaaaahhhh….” Anindita langsung berlari menuju pintu dan memeluk tantenya. Sudah lama tante Amah tidak datang berkunjung ke rumah Anindita.

“wa’alaikumussalam,” jawab Mbah Uti.

“Tante Amah, Anin udah pinter dong di sekolah. Tadi Anin sama Alvaro disuruh Miss Iche maju nyanyi.” Anindita tidak akan berhenti bercerita jika bertemu Tante Amah. Tante selalu mendengarkan cerita Anindita dengan sabar dan selalu tersenyum.

“Anindita ga pinter tante, soalnya kalau makan ga pernah dihabisin”. Mbah uti menjawab dari dapur.

“Masih belum habis juga makannya sampe sekarang sayang?” Tante sudah tahu kebiasaan ini. Anindita pun hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Tante Amah.

“Tante, bacain cerita dong” Anindita memang senang dibacakan cerita oleh tante. Buku cerita yang dibelikan Bunda sampai robek.

“Tante ga mau baca cerita ah sekarang. Tante mau ceritain sesuatu dari gambar yang ada di handphone tante.” Klik, klik, klik, klik. Tante seperti sedang menyiapkan sesuatu. Tante menunjukkan foto Anindita ketika di restoran cepat saji dan disampingnya foto seorang anak mengenakan pakaian yang kotor dan sedang memungut sesuatu dari tanah.

“Anindita berapa umurmu sekarang?”

“Lima tahun tante.”

“Waah, sama ya sama foto yang ini. Anak ini juga umurnya lima tahun. Anindita tahu bedanya dia dan Anin?”

“Ehm, dia pakaiannya jelek.” Anindita menjawab sambil memikirkan jawaban selanjutnya. Tante memang pandai membuat Anindita terlibat dalam ceritanya.

“Apalagi?”

“Anin lagi makan di Mall duduk di kursi. Dia lagi jongkok di tanah”. Tante tersenyum. Ponakannya semakin pintar.

“Hebat kamu cantik. Anin memang lagi makan di Mall, di restoran. Ada tante juga kan waktu itu. Makannya habis ga? Tante inget loh. Anin sampe rajin banget beresin mainan karena mau makan di restoran ini.”

Ga habis” kata Anindita termenung.

“Sayang sekali ya Anin ga pernah menghabiskan makanan. Padahal ada anak lain di tempat yang berbeda sedang kelaparan mencari makanan yang bisa buat mereka tetap hidup. Ini contohnya, mengambil sisa gandum yang jatuh.”

“Memangnya benar  ada yang begini Tante?” tanyanya sambil menunjuk anak tersebut.

“Ada beneran loh, ini nyata. Ini Tante kasih gambar lainnya. Yang ini di Somalia, yang ini di Afganistan. Kita bahkan ga tahu orang tuanya masih hidup atau ga. Bersyukur ya Anin masih ada Bunda, Ayah, Mbah Uti, Mbah Akung, Tante dan semua yang sayang sama Anin. Coba bayangkan, jika Anin yang jadi mereka. Ketemu makan di jalan pun sudah sukur. Air juga demikian. Belum habis air di gelas sudah ambil gelas baru lagi, akhirnya minuman Anin buang-buang. Mereka rela minum dari genangan air di jalan karena susah bertemu air bersih. Waah kita harus bersyukur selalu ya sayang.” Mata Anin sudah berkaca-kaca. Anin membayangkan jika dirinya menjadi salah satu dari anak – anak itu.

“Tante ada lagi fotonya?” perbincangan pun kembali berlanjut.

Seminggu kemudian, Tante kembali berkunjung. Seperti biasa.

“Tante Amaaaahhh… Anin udah pinter dooong” ceritanya sambil memeluk Sang Tante.

“Iya Tante,” Bunda membenarkan.

“Kemarin Miss Iche cerita sama Bunda, katanya Anindita sudah pintar, makannya dihabiskan. Bunda Jenny juga cerita seneng lihatnya. Anindita kalau makan rapi, bersih, dan habis.”

“Anin ceritain ke teman – teman. Kalo makan harus habis, banyak anak – anak lain yang ga bisa makan seperti kita”.

“Waah Anindita semakin baik dan pintar” Mbah Uti memeluk dan menggelitik Anindita. Disusul Bunda dan Tante Amah.