Sae Penggalih

Seperti kebanyakan history. Sedikit terekam. Banyak terlupakan.

Sae Penggalih. Santun, lembut, tegas, entahlah. Mungkin dia alterego dari jendral sudirman.

Banyak yang pergi tetapi ia tetap tinggal. Sae* (baik)

Penggalih* (hati/piker)

Sebuah nama yang tersemat sempurna. Mungkin Ibunda dulu mengidamkan dubia yang damai. Kelembutan Ibunda menjadi karakter utamanya. Sebenarnya mungkin ia lebih cocok dengan nama Afgan atau Vidi karena semangat dan keromantisannya yang mendunia.

Tenaang. Bukan romantis dengan lawan jenis seperti yang kau pikirkan. Tapi romantis pada kesyukurannya.

 

_bersambung_

Iklan

Masih orang yang sama

Tak nampak gelagat akan berpindah dari masa lalu.

“Bodoh kau. Untuk apa pula kau berharap dan menunggu Pik?! Kau pikir kau medan magnet yang dapat menariknya dengan kau dekati perlahan?! Bah! Sudah gila rupanya anak Jawa ini”

“Bukan begitu namboru, aku sudah coba pergi dan menghapus semua memori. Tapi dia begitu lekat. Sepertinya Korinku sudah jatuh hati padanya. Maka dipenuhilah otakku dengan gambaran dia. Bantulah aku namboru”

Epik. Selat disebrangi, beberapa kota dilalui, rupanya tak merubah rasa pada sang “ksatria”.

Memori SMA:: Epik Story

Eeeeeeppppiiiikkkk!!! Ke sini lo cepeett!!! Waah ni anak ya beneran deh. Lo mau gw suruh push up 50 kali atau cepet ambil sepatu ke sini??!!” 

Haduuhh, lagi-lagi nih nenek sihir, ga tau apa gue butuh effort yang luar biasa untuk gerakin badan gw ke sana. Lagian sih udah gw bilang ga bisa jadi kiper masiiihh aja. Gue itu bisanya digaris depan! Ga liat body gue yang super ini. Ga ada yang bisa ngehalangin gue bawa bola smpe gawang. Ini gara-gara si della yang tiba-tiba dateng telat karena mobil cowoknya ngadat. Lagian siih udah tau timnya masuk semifinal masih aja pacaran. Fokus kek kayak gue..

Plak! Epik sadar! Elu jorok! Jomblo dari orok.

oke bukan bukan jorok. Gue cuma tuas. Aka tuna asmara. Sebutan yang lebih pantas dari sekedar single dari lahir. Yah, sebentar lagi sebutan ini akan disahkan pemerintah.

“Epiikkk!!!” Si nensi udah teriak-teriak lagi tuh.

“Apaan sih nen?? Iyee gue udah siap. Tapi gue gak jamin ya kalo tuh bola masuk ke gawang. Lo sendiri tau selama gue maen futsal gw ga pernah jaga gawang. Tangan gue kan ga kooperatif nen. Segala yamg gue pegang pasti ada aja tiba-tiba jatoh. Hape lah, pulpen lah, remot lah, sampe tuh cawan praktikum kemaren.” Aahh rasanya gue udah mau ngaku kalah aja.

“kenapa ga anak-anak yang lain sih nen. Bayu tuh bisa pilih kan dia pelatih kita. Kenapa elu??” Gue udah ga nisa nahan nih unek-unek.

“epik epik epik..” Dengan gaya yang sok tua. “Buat apa nyokap lo ngasih nama elo epik. Kalo nitipin gawang aja ga bisa. Emang ada mira yang lebih ideal. Lebih tinggi dari elu. Tapi saat ini kita perlu elu pik. Final di depan mata. Lo harus simpen energi. Nah disinilah tempatnya. Sambil nunggu della dateng. Lo istirahat deeh. Enak kan? Selain itu. Cuma elo yang gw percaya auranya bisa nutup apa aja. Buktinya, ulangan kimia kemarin. Elu bisa nutupin gw nyotek di kelas si ibu mata elang, selamat dengan nilai sempurna. Apalagi ini cuma bola futsal. Elo plototin aja tuh bola pasti langsung melambung sendiri ke gawang lawan hahahaha” nenek sihir mulai mengeluarkan suaranya yang mengerikan. Oopss dengan sapu terbangnya mencoba pukul gue.

“Sial lo nen! Lo pikir gw tembok cina apa” gue masuk lapangan dengan wajah cucian kotor.

“eepiiik semangaat! We love youu hahahaha”

Kesedihan Epik

“Emang gitu. Lo harus belajar” Adi mulai dengan ceramahnya.

“Lo pikir, lo hanya butuh teman? Ga lah Pik. Coba deh buka diri lo. Apa yang susah sih?!”

Memang mudah buat sebagian orang, tapi buat gue. Banya kisah yang udah sangat menyakitkan. Gue pun ga mau kesalahan orang lain terulang di diri gue.

“Gue mau bantu lo”

Yah.. lagi dan lagi bantuan yang ntah kapan Tuhan kabulkan terwujud.

“Gue ga mau terluka Di”

“Itu resiko Pik. Mana ada di dunia ini yang ga beresiko. Elo terlalu main aman”

“Gue ga mau malu Di”

“Ya ampun Pik. Apa sih memalukan dari itu? Ga ada. Wajar. Semua orang pernah jatuh”

Ya gue contohnya selalu jatuh.

“Lo terlalu penakut Pik. Pengecut. Badan aja lo gedein. haha becanda. Ok gue akan cari tahu dulu gimana statusnya. Fix?!”

“Terserah loh deh”

bersambung

Pria Impian :: Part 1. Epik Story

Epik Sarla Tarinika, sampai kapan kau akan berhenti kekanak-kanakan? Ehm, ntahlah.

Tak ada undang-undang yang mengatur kedewasaan seseorang dihitung dari kuantitas hidupnya kan?

Berumur seperempat abad namun masih menantikan kisah cinta seperti drama korea. tragis dan mengenaskan. Semua tahu bahwa Korea itu dibangun Tuhan sebagai negeri dongengnya dunia. Membandingkan diriku dengan tante-tante berumur 40 tahun Korea pun aku tak berani. Meskipun mereka bukan artis.

Ya, apalagi didukung perang dinginku dengan ukuran semua pakaianku. Aku tak tahu bagaimana korea bisa meng-kampanyekan anti obesitas, anti pesek, anti keriput, anti jelek, dan anti-anti lainnya. Oh, aku lupa, mereka yang pentas di depan kaca yang menyiratkannya.

Aku tak pernah memimpikan untuk menjadikan diriku putri cantik yang penuh ketenaran seperti member-member girls generation. Aku tak pernah berambisi mendapatkan kerajaan. Aku ingat sekali bagaimana aku bercita-cita menjadi seorang istri pemain bola. kala itu usia sekolah dasar. Aku menyaksikan pra piala dunia. Indonesia melawan Negara-negara asia lainnya. Kulihat sosok Kurniawan Dwi Yulianto seorang penyerang tim nasional. Garuda kita.

Wajahnya yang sepertinya santun, telah menhinoptisku. Dan membawa lamunan yang sangat jauh. Menarikku paksa kedalam khayalan anak pra remaja. Seakan terbawa ke dalam layar kaca, aku berdiri di pinggir lapangan dengan handuk putih dan sebotol aqua (ini merek kawan. dulu belum ada selain aqua). Melihatnya berlari, memberinya semangat sambil melompat-lompat. Go kurniawan Go.

tttteeeeeett.

Kembali ke Korea. Negeri gingseng ini sangat menyehatkan mata, karena penampilan orang-orangnya yang rapi. Ada beberapa sosok pria idaman karakter di drama korea salah satunya Secret Garden yang berkisar bak Cinderella dikawinkan dengan little mermaid namun dalam versi lebih menderita. Hyun Bin sebagai actor utama tentu sudah menjadi daya pikat. Ditambah dengan soundtrack yang mendukung. Hyun Bin yang memerankan Kim Joo Won adalah prngusaha muda yang kemudian jatuh cinta pada seorang stuntwoman.

Yang menarik adalah karekter dari Joo Won yang cukup dingin, berkelas, tapi konyol dan dirindukan. gayanya dewasa tapi berubah menjadi kekanak-kanakan ketika berusaha mempertahankan cintanya. Joo Won, adalah orang yang tegas dan bertanggung jawab pada pilihannya. Pengambil keputusan yang bijak dan jujur. Haaeem. Andai saja ada satu duplikatnya Tuhan. Akulah yang pertama mengantri.

Berhenti berbicara tentang pria-pria korea atau atlet nun jauh di sana. Meski kriteria itu tidak pernah dikesampingkan akan ada satu lagi syarat menjadi pria idaman. Yaitu, Pria Roker prioritas. Apa itu? Pria ROmbongan KEReta yang selalu siap sedia memberikan tempat duduknya pada golongan prioritas (lansia, Ibu membawa anak, dan wanita hamil). Terlihat dewasa dan seperti superhero  episode gerbong kereta.

Aku selalu memiliki skenario di kepalaku. Akan bertemu dengan jodoh di dalam kereta, suasana yang romantis. Itulah kenapa gerbong wanita menjadi alternatif terakhir. Asal kau tahu, gerbong khusus wanita lebih kejam dibandingkan hari perebutan sembako. Injak, dorong, tarik, teriak, omelan. Huufftt khas wanita sekali.

Yap, seperti biasa afirmasi dan visualisasi di kepalaku bekerja. Suatu siang beberapa hari lalu.

Ehm, Epik kau tahu saat yang tepat. Kereta sudah penuh, tak ada bangku kosong tersisa. Skenario berjalan sempurna, kulihat pria dewasa dengan headset dan gadget. Berpakaian casual. Sepertinya korban yang sempurna. Kudekati bangkunya, berharap dia akan berdiri, tersenyum, dan memulai pembicaraan.

BERHASIL!!! EPIK KAU BERHASIL. Akhirnya pria itu berdiri, mempersilakanku menempati tempat duduknya.

terima kasih ya..” hm hm, kuberikan senyuman termanis yang kupunya. Epik kau sempurna. Pakaian hari ini membantuku terlihat berbeda. Tak ada semburat lemak dan lipatannya. AKu sangat percaya diri.

iya sama-sama” aah dia menjawab. Ok, bahasa tubuhnya masih ingin mengatakan sesuatu. Aku tidak akan memulai dulu. Benar akhirnya dia bertanya padaku. Kenalan kenalan ayo minta kenalan.

sendirian?”

iya..” aaahh ayo tanya lagi

turun dimana?”

asiik assiik “Depok. Masnya?”

sama. ok nanti turun bareng aja” yuhuuu berhasil. Tapi…

turun bareng aja nanti sama saya, kasian kan lagi hamil kalo kegencet”

Appaaaahh?? *tears down* 😥 jadi dia perhatian sama gw karena dia pikir gw hamil?? 😥 😥

Yah, begitulah. Afirmasi yang kulakukan tidak selalu berjalan baik. Ok. Sejak itu aku menyatakan mungkin aku seharusnya mengidamkan seorang dokter bedah kecantikan atau seorang dokter spesialis jiwa. Supaya semuanya berjalan dengan lebih baik.

*bersambung*

Intro

“Kenapa ga cukup? Itu udah yang paling besar”

Kuperhatikan pantulan badanku di cermin. Ah untung saja ayah membeli cermin yang pandai berbohong. Setidaknya bobotku berkurang 2 kg di cermin ini.

“EEPPIIKKK!! Lama banget siih, ngapain aja ayoo anak-anak udah pada nunggu”

Aiish berisik, sambil kutarik-tarik gaun yang seakan mencoba melarikan diri ini.

Tunggu sebentar, bentar lagi deh selesai” bibirku sudah tidak beraturan bentuknya. Mataku sudah mulai muak memandangi tubuh dan baju yang tidak pernah mau akur ini.

Epik, Epik, apalah arti sebuah nama katanya. Tapi kasus baju dan tubuh ini mengartikan segalanya. Aku tahu alasan ibu memberiku nama Epik. Terinspirasi dari kisah patih gajah mada katanya. Kisah Epik di tanah jawa. Epik Sarla Tarinika lengkapnya. Tentu nama ini diberikan dengan tujuan yang amat sangat jelas. Begitu kata mbok mia. Bahkan Mbok Mia memiliki nama panggilan yang keren. Nama aslinya. Sumiati.

Epik Sarla Tarinika Pengucapannya lebih seperti kalimat dalam bahasa korea. Namun namaku diambil dari bahasa sansekerta sebagaimana ibu tergila-gila dengan Jawa.

Epik berarti sesuatu yang besar, berkaitan dengan kepahlawanan, bersifat objektif.

Sarla berarti jujur, berkata apa adanya.

Tarinika berarti sekuntum bunga.

yah mungkin ibu berharap aku akan menjadi putri yang membawa nama harum keluarga dengan sikap yang objektif dan jujur.