PUISI ZIYA

Ziya senang sekali menulis. Ziya menuliskan apapun yang terjadi setiap harinya. Selain itu, ia juga pandai membuat puisi, cerita dongeng, dan cerita pendek. Bunda sangat senang melihat Ziya selalu bersemangat menulis. Bunda bilang, tulisan Ziya bisa saja dikirimkan ke majalah atau koran untuk diterbitkan. Namun, Ziya yang pemalu tidak memiliki kepercayaan diri untuk mengirimkan tulisannya.

***

Tahun ajaran baru telah dimulai. Tiba saatnya Ziya memilih ekstrakulikuler di sekolahnya. Tahun ini ada ekstrakulikuler baru. Penulis cilik namanya, disingkat Pencil. Ziya senang sekali. Akhirnya ia memutuskan untuk bergabung bersama Pencil dan memberitahu Bunda tentang kabar gembira ini.

“Bunda… Assalamu’alaikum” Ziya berlari memasuki rumah.

“Wa’alaikumussalam sayang, hati-hati” jawab Bunda yang sedang berada di dapur.

“Bunda, hari ini ada ekstrakulikuler baru di sekolah. Bunda tahu? PENULIS CILIK!” katanya sambil menghampiri Bunda.

“Wah Ziya pasti senang sekali dong..”

“Iya Bun, sangat senang” Ziya mencium tangan Bunda sambil tersenyum.

***

Semakin lama semakin banyak karya yang telah Ziya hasilkan. Tidak terasa satu semester berlalu. Akhir semester pertama telah di depan mata. Pak Anto dan Pak Wisnu sedang menyiapkan hadiah akhir semester yang istimewa untuk anggota Pencil.

“Anak-anak. Pak Anto dan Pak Wisnu bangga sekali dengan kalian. Tidak terasa, satu semester kita bersama dan Bapak telah membaca berbagai macam karya yang indah. Tapi rasanya, tidak cukup jika hanya kita yang bisa menyaksikan keindahan tulisan kalian saja. Sudah saatnya kalian membagi cerita ini pada teman-teman di luar sekolah kita. Bapak dan Pak Wisnu akan mengirimkan karya kalian ke koran minggu. Siapa yang berkenan?” Pak Anto memberikan penawaran pada anak-anak.

“Saya, Pak.”

“Saya!”

“Saya mau, Pak!”

“Saya juga.”

Anggotan Pencil sangat antusias pada tawaran Pak Anto, tetapi tidak dengan Ziya.

“Ziya, kenapa kamu tidak bersuara” Pak Wisnu mendekati Ziya.

“Saya malu Pak. Saya memilih Pencil karena saya senang menulis dan tidak nyaman jika harus berbicara di depan banyak orang. Saya juga tidak percaya diri dan takut karya saya tidak cukup bagus untuk dibaca.”

“Ziya, kau tahu peribahasa buku adalah jendela dunia? Seorang penulis bukan menulis untuk bersembunyi dari dunia. Tapi, untuk membantu orang lain melihat indahnya dunia. Tulisanmu penuh kebaikan dan pelajaran bagi banyak orang. Tulisanmu mengajarkan sopan santun dan saling menghargai antar sesama. Kamu mengemasnya dengan cukup baik. Lalu apa yang kamu takutkan?”

“Saya hanya tidak mau Pak. Saya ga mau karya saya dilihat orang. Cukup Bapak dan Pak Anto saja. Nanti saya malu seandainya orang lain baca dan ternyata tulisan saya tidak sebaik harapan saya”

“Kalaupun ternyata tulisan kita belum baik untuk diterbitkan tentu bisa kita ambil sebagai pelajaran. Tugas kita hanya berlatih, membuat karya, hasilnya kita serahkan pada Tuhan. Ziya tahu J.K Rowling? Penulis Harry Potter. Ternyata banyak penerbit yang menolak karyanya dulu. Namun, ia tidak menyerah. Sekarang seluruh dunia mengenal Harry Potter. Tapi Ziya, tujuan kita adalah berbagi lewat tulisan kita dan terus belajar.”

Benar apa yang dikatakan Pak Wisnu, tetapi ketakutan Ziya lebih besar dari semangat yang diberikan Pak Wisnu. Akhirnya Ziya tetap pada keputusannya. Menyimpan karyanya di dalam laci dan lemari.

***

Bunda menghampiri Ziya yang sedang tertunduk lesu di kamar.

“Sayang, sudah tidak apa-apa. Sebenarnya, Pak Wisnu sama seperti Bunda. Pak Wisnu tahu cerita Ziya akan menyebarkan kebaikan. Sebab itu, Pak Wisnu ingin Ziya mengirimkan karyanya ke koran minggu. Supaya banyak anak-anak yang baca dan terinspirasi.”

“Bunda sudah tahu?!” Ziya terkejut.

“Iya tadi Pak Wisnu telepon Bunda.”

Semua orang sama saja, pikir Ziya. Tidak ada yang bisa memahaminya.

“Aku hanya ingin menulis dan tidak perlu pembaca.” Kata Ziya dalam hati.

***

Dua minggu sudah berlalu sejak karya-karya anggota Pencil dikirimkan. Pak Anto bilang ada karya yang terpilih. Tapi, Pak Anto tidak memberitahu karya siapa yang terpilih. Ziya penasara. Minggu pagi ini, ia lebih dulu mengambil koran ayah dan membaca kolom karya nusantara.

“Indah.. Surya.. Ziya… Ziya? Ziya?!!!” teriakan Ziya mengagetkan seisi rumah.

“Bunda.. Ziya! Ziya! Karya Ziya ada di koran Bunda!!! Ziya! Bunda!! Ayah!” Ayah segera berlari ke arah Ziya.

“Iya nak, Bunda tahu. Pak Wisnu sudah memberitahu Bunda.” Kata Bunda sambil berjalan membawa potongan apel di atas piring.

“Bunda tahu?!” Ziya dan Ayah bertanya bersamaan.

“Iya, Bunda tahu. Bunda percaya Ziya bisa. Tapi ternyata harus ada orang lain dulu yang memulai. Kalau begini apakah Ziya masih malu pada karyanya? Jangan lupa telpon Pak Anto dan Pak Wisnu ucapkan terima kasih karena masih mengirimkan karya Ziya.”

“Waah, Ziya.. Ternyata memang tidak ada yang peru dikhawatirkan. Coba saja. Kita tidak pernah tahu kapan kita berhasil. Seperti ini.” Kata ayah bangga.

Ziya terharu. Terima kasih Pak Wisnu, Pak Anto.

“Terima kasih Ayah, terima kasih Bunda” kata Ziya sambil memeluk Ayah dan Bundanya.

“Maafkan Ziya, ternyata Ziya harus lebih percaya diri dan mencoba. Terima kasih”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s