Education for All

Selama 4 hari mengikuti workshop dari POKJA PI METRO, yang dipandu oleh Mr. Supri dan Pak Dieviel (plus Pak Cepi, tapi saya datang terlambat).

Materi Pak Cepi meliputi Dasar dan Landasan Pendidikan Inklusif

Materi Pak Dieviel tentang Anak Berkebutuhan Khusus

Dan Pak Supri tentang menjadi guru sakti (dan banyak lagi)

Kalau ditanya tentang manfaat, tentu bermanfaat. Tapi saya rasa lebih pada refleksi diri. Manusia itu tempat lupa. Nah di sinilah kita kembali mengingat identitas sebagai guru (even i’m not the real teacher yet).

Apa tujuan kita dan manfaat apa yang kita bisa berikan ke anak-anak.

Friends.. Anak-anak reguler saja sudah cukup kompleks.. Belum kita berbicara tentang ABK. Saya sendiri sudah berkecimpung dengan ABK sejak 2012. Saat itu masih di sekolah Alam Depok. Bertemu dengan S yang kebetulan mengalami delay development. Alhamdulillah selama setahun menjadi guru kelasnya.. Saya melihat banyak kemajuan.. Tentu dibantu dengan shadow yang canggih “Bu hera”. Kemudian.. Saya bettemu dengan A sebagai terapisnya. A didiagnosa Autis. Anak yang cantik dan baik.. Rindu dengannya.. Yang terakhir adalah R. Dengan diagnosa MD tipe ringan.. Dan saya benar-benar belajar jadi mereka.

Workshop kemarin akhirnya merefleksikan perjalanan saya. Banyak masih yang harus diperbaiki. Termasuk memperbaiki hati. Belajar lebih tentang ketulusan. Belajar berbesar hati dan menerima perbedaan. Belajar mendidik diru sendiri sebelum mendidik orang lain. Belajar menghargai dan menghormati mereka yang dititipkan anak berkebutuhan khusus.

Mr. Supri selalu mengulangi kalimat ini. Tuhan itu inklusif.. Bagaimana bisa kita tidak insklusif? Yap betul.. Malaikat yang bertugas menjaga pintu surga tidak akan tuhan pindahkan untuk menjaga pintu neraka. Atau ketika malaikat peniup sangkakala tidak akan mungkin meniup terompetnya jika waktunya memang belum datang.

Seperti itulah dengan mereka… Tugas kita memfasilitasi dan membantu semaksimal yang kita bisa.. Selebihnya biarkan Tuhan yang berperan. Toh semua atas izinNya.

Bersyukur ketika bisa mengikuti workshop dari POKJA PI. Ada rasa rindu untuk kembali berkumpul dan berdiskusi. Memang jika semuanya searah maka hati terasa ringan. Tapi dimana tantangannya? Benar.

Rindu rasanya dengan teman-teman didan seberang sana.. Rindu berdiskusi dan melahirkan sesuatu. Rindu pada mereka yang mungkin sudah mulai mandiri.

Anak-anak dan rekan yang melengkapi.

Perjuangan tidak pernah berhenti. Perjuangan tidak pernah mudah. Istiqomah sangat mahal hingga tidak semua orang mampu mendapatkannya.

Tuhan, terima kasih atas kesempatan yang Engkau berikan. Lindungilah guru-guru kami dan muliakan beliau di surgaMu. Aamiin.Berkunjung ke pusat sumber. SLBN METRO

Iklan

Ayah, peranmu…

Buat para ayah SEBAIKNYA ANTUM BACA ARTIKEL D BAWAH INI, RENUNGKAN DAN APLIKASIKAN… slamat membaca dan smoga bs menjadi amal jariyah kita semua.

Ayah, Ternyata Engkau Tidak Tahu Kapan Aku Mimpi Basah.

Mau berbagi sedikit ilmu yg baru di dpt dari menghadiri majlis ta’lim pembicara nya adalah ustadz Bendri Jaisyurrahman pakar islamic parenting dan konselor pernikahan.

“Peran Ayah dalam pendidikan anak”

Ketika ada tenaga medis bukan dokter hanya mantri lantas asal memberi obat jatuh korban maka akan di anggap mal praktek

Ketika ada sopir metromini lantas mengendarai pesawat tanpa punya ilmu nya akan di anggap mal praktek.

Lalu bagaimana saat ayah dan ibu tidak mempunyai ilmu lantas mereka mempunyai penumpang yang bernama anak —> mal praktek?
Menghasilkan :

1) Anak2 yang kerdil jiwa nya. Jiwa anak kecil yang terjebak dalam tubuh orang dewasa.

2) Degradasi psikis , akibat nya saat ini lemah. Dari anak2 lemah —> menjadi laki2 lemah—> ayah yang lemah—> mencetak anak2 tidak berkualitas.
Anak sekarang hasil penelitian secara psikis setengah umur biologis nya. Anak kuliah berprilaku seperti anak SMP. Anak smp berbicara seperti anak TK “ciyus, miapah,dll”

3) Fenomena cabe2an dan anak alay…
Apa sih anak Alay ?? Mati pola pikir / thinking shock.
Ciri-ciri :
– tidak bisa milih / membuat keputusan.
“Kamu mau makan apa? Hmmm terserah deh… ”
Diajak sholat hayuk, diajak maksiat hayuk..
Pagi ke majlis ta’lim, malam dugem
-tidak bisa describe.
“Yaaa gitu deh..”

Penyebab fenomena cabe2an —> kehilangan sosok ayah

Karena ayahlah yg mengajarkan rasionalitas, otak kiri. Anak yang di besarkan tanpa sosok ayah akan tumbuh emosional dan tdk rasional.

FENOMENA FATHER HUNGER

Indonesia saat ini di sebut sbg Fatherless Country , banyak anak yang berayah namun yatim. Kerusakan psikologis yang di derita anak2 karena kehilangan sosok ayah.

Anak yang dekat dengan ayah nya cenderung menjadi pribadi yang percaya diri dan mudah beradaptasi dengan lingkungan luar. Karena bagi anak2, ayah adalah sosok misterius karena jarang pulang. Namun ketika seorang ayah bisa menjalankan peran nya. Maka anak akan menyimpulkan bahwa dunia luar aman bagi nya.

Stimulus pagi hari, hasil penelitian anak akan termotivasi menjadi sosok orang yang membangunkan dia di pagi hari… Anak yg di bangunkan oleh ayah akan lebih sukses drpd yang di bangunkan oleh ibu. Karena di mindset anak ayah adalah sosok penuh challenge sementara ibu lebih kepada urusan domestik dalam rumah.

Efek dari “father hunger”

1. Kurang dapat beradaptasi dengan lingkungan luar. Sekolah nempel terus ke ibu nya minta di tungguin.

2. Minder

3. Gay/ melenceng orientasi seksual
Hasil research –> 100% gay krn kehilangan sosok ayah

4. Kesulitan dalam belajar

5. Perasa / susah mengambil keputusan
—-> kebanyakan diasuh ibu

6. Kalo perempuan , susah membuat kriteria pasangan. Buat anak perempuan yg dekat dengan ayah nya dia akan dgn mudah apa kriteria pasangan hidup nya? Yang seperti ayah saya.. Karena seharus nya seorang ayah adalah first love bagi anak perempuan nya.

Kebutuhan dasar anak wanita :
– di cintai
-di sayangi
-di puji

“Tau kah kamu nak, tidak ada satu laki2 di dunia ini yg mencintai km melebihi cinta ayah kepada kamu”

“Nak, tidak akan ayah biarkan satu laki2 pun menyakiti hati mu”

“Buat ayah, kamu adalah princess ayah , putri nya ayah yang paling cantik”

Anak2 perempuan yang saat kecil nya tidak mendapat kan ketiga hal diatas akan haus kasih sayang, sehingga ketika beranjak dewasa di rayu oleh laki2 mudah sekali karena dia mendapat apa yg tdk dia dapatkan seharus nya , laki2 yang memuja dia, akibat nya dgn mudah menyerahkan diri dan kehormatan nya…

Buat wanita yang sudah menikah, kalo menghadapi masalah dalam rumah tangga nya dia akan mudah give up, menuntut cerai dia dgn mudah menyimpulkan bahwa smua laki2 brengsek.
Saat ini banyak anak berayah namun yatim, karena fungsi ayah saat ini hanya 2 :
-memberi nafkah
-memberi ijin nikah

Ayah tidak tau kapan anak laki2 nya mimpi basah, subuh ketok pintu “bangun , sholat ke masjid” si anak tdk tau bahwa dia mimpi basah dan harus mandi junub. Berangkat ke masjid tanpa mensucikan diri

Padahal 58% anak Indonesia mengalami mimpi basah pertama nya saat kelas 5 SD (pubertas dini) sementara menurut mendiknas pelajaran mandi junub baru di berikan saat kelas 2 smp. Bayangkan selama berapa tahun si anak sholat ibadah nya tdk sah.

FATHERLESS COUNTRY!

– 0-2 thn pengasuhan full oleh ibu

– Usia pre school –> 90% guru di sekolah2 pre school adalah perempuan
– Usia TK –> sama tenaga pendidik perempuan smua
– Usia SD –> sama tenaga pendidik mayoritas ibu2

Padahal 0-7thn adalah golden age pembentukan karakter , harus imbang stimulan ibu dan ayah

Bayangkan saat cerita ttg sosok Umar ibn Khatab yg bercerita adalah ibu guru tdk bs heroik, harus nya sosok umar itu gagah perkasa. Sosok ibu2 tdk akan bs mewakili.

Maka ketika ada pepataha ttg “al ummu madrasatul ula: seorang ibu adalah sekolah pertama anak2 nya maka tambahkan dan ayah adalah kepala sekolah nya.

Apa fungsi seorang kepala sekolah :

1. Membuat tenaga pendidik nya nyaman. Nyaman kan istri mu , bahagiakan istri mu itu adalah hal terbaik yg bs km berikan kepada anak2 mu. Saat istri kita bahagia maka anak kt akan di besarkan dgn bunga2 yang indah, namun sebalik nya saat istri kt tdk bahagia tdk terjamin hidup nya , kesejahteraan nya dia akan membuang emosi sampah kepada anak2 kita.

2. Menentukan visi dan misi anak didik nya. Mau di jadikan apa anak anak didik nya. Ayah lah yang menentukan lantas mensosialisasi kan nya kepada istri sbg tenaga pendidik

3. Evaluasi, ini lagi2 bukan tugas istri namun tugas kepala sekolah. Panggil tenaga pendidik “umi, kok abi liat anak kita udh umur 10th belum bisa baca al fateha coba gimana sekolah nya , umi ajarkan tdk? Dll

4. Membuat aturan, jangan kebalik ibu2 yang bikin aturan ini itu macem2, saat ayah pulang ayah lah yg melemahkan aturan2 yg ada. Aturan harus nya di buat oleh sang kepala sekolah dan di sosialisasikan pd tenaga pendidik sbg org di lapangan. Misal : kalo abi dengar nanti umi lapor km nonton TV lebih dr 3jam , fasilitas TV abis cabut. Dimana2 yang nama nya kepala sekolah memang tdk selalu hadir tapi peran nya sangat krusial.

Jadi para ayah meski anda harus selalu keluar rumah utk mencari nafkah pastikan saat pulang ke rumah jiwa raga anda untuk anak2 anda. Karena apa? Dalam Al Quran ada 17 dialog ttg anak, 14 diantara nya ttg ayah- anak , Luqman dan anak nya, Ibrahim- Ismail, Ibrahim – Ishak, Syuaib dan anak nya, dsb . Hanya 2 dialog dalam Al Quran yang berisi dialog ibu dan anak, suadara Musa dan Maryam-Isa.

Karena dalam Islam seorang anak akan ikut nasab ayah nya, nasab adalah berarti pertanggung jawaban akan di minta dr seorang ayah berhasil dan gagal ayah yg akan di mintai pertanggung jawaban sesuai nasab nya…

#I share because I care ❤❤❤#

*sosok ayah yg tak tergantikan ^^

Mengapa Anak Begitu Berharga

Abis nonton IMS (Indonesi Morning Show) walau cuma dapet berapa menit tapi airmata ga berenti ngalir. IMS hari ini bahas tentang pornografi pada anak. Sedih rasanya waktu Ibu Eli bilang dengan nada yang bergetar bahwa beliau mau membantu anak-anak untuk lepas dari kecanduan pornografi. Gw pun sama. Walau gw bukanlah Psikolog (belum) tapi gw pingin banget bisa membantu semua anak di dunia (berharap jadi wonder tante, hehe *nangis sambil ketawa). Untuk saat ini gw cuma bisa mulai dengan ponakan gw.

Dunia anak buat gw adalah kamus buat hidup dia kelak. Gw adalah anak yang penuh dengan masalah. Depresi, ga percaya diri, psikosomatik, dll. Itulah salah satu alasan penyakit asma gw bertengger sangat lama. Perjuangan untuk lepas dan bangkit dari segala ketakutan itu gw cari “sendiri” karena gw tau ibu selalu mendoakan. Komunikasi orangtua dan dalam keluarga gw dulu emang ga begitu baik. Tapi, gw percaya akan selalu ada komunikasi ibu pada Tuhan Yang Maha Kuasa.

Menginjak remaja gw banyak kehilangan pedoman dan petunjuk. Gw ga bisa nemuin apa yang harus gw lakukan di kamus hidup gw masa anak-anak. Sekarang gw bandingkan, anak yang dulunya matang dan penuh kasih sayang maka kehidupan dewasanya akan jauh lebih tenang dan terarah. Bukan berarti ge engggak. Tapi, gw cuma sedikit terlambat “dewasa” gw bisa mengejar ketinggalan gw. Tapi gw ga ngoyo karena gw cukup bersyukur bahwa gw dapet banyak pengalaman.Bahkan pengalaman diri gw dan penyakit kejiawaan gw, gw share  ke sodari-sodari gw. Sebagai peringatan, cara kita mendidik anak akan mempengaruhi kondisi mental anak.

Gw pernah nonton di Oprah Winfrey Show tapi gw lupa beliau siapa kira-kira 12 tahun lalu. beliau ada seorang motivator, suatu ketika dia dengan mobul barunya datang ke rumah sang kakak. Ponakannya begitu bahagia, sampai naik mobil dan loncat-loncat. Seperti manusia umumnya. Orangtua anak pun berteriak

jangan lompat-lompat, itu mobil baru paman, nanti kau merusaknya”

dan terjadilah apa yang dikhawatirkan. Sang ponakan pun muntah dan mengotori mobil mewah paman. Merasa sangat kecewa orangtua marah. Namun, sang paman dengan sangat bijaksana mengatakan

sudahlah kak, mobil ini bisa kubersihkan. jangan sampai kebahagiaan mereka rusak hanya karena mobil yang tidak seberapa”.

yaa, manusiawi. Jika orangtua ingin anaknya berhati-hati. Tapi, tahukah anda, bahwa anak sangat mudah belajar. bayangkan jika yang kita lakukan hanya marah dan kemudian muntahnya langsung dibereskan oleh orang lain apa yang anak dapat? Akan berbeda jika kita menganggapinya dengan sikap yang lebih tenang. Atau sama halnya ketika keponakan gw menumpahkan segelas penuh air dimana sebelumnya bundanya sudah memberi tahu untuk menutup yang rapat.

singkat cerita tumpahlah air sebanyakk itu di karpet. Gw adalah penganut marah bukanlah hal yang penting jika tidak terpaksa. atau jangan berikan correctional No, jika tidak timbul perilaku Agresif, distraktif, distruptif, dll. (teori SMART ABA). Maka gw cukup dengan ambil handuk, membantu dia menunjukkan caranya. meletakkan handuk di atas air yang tumpah, hingga airnya terserap, baru kemudian beri penjelasan.

ponakan gw yang begitu senang bermain kek tempat gw ga harus jadii nangis cuma gara-gara air tumpah. dan akan ada ilmu yang dia dapat. lebih berhati-hati. bertanggung jawab sama perbuatannya. kemudian ga harus menyelesaikan masalah dengan emosi negatif. Cukup tenang dan kerjakan semua. Dia akan mendapatkan informasi dan otakknya akan bergerak lebih cepat mencari solusi dari permasalahannya.

Ingat. akan susah mendoktrin otak orang dewasa. sebaliknya akan mudah memasukkan apapun pada anak. Itulah sebabnya, mengapa anak begitu berharga..

*inilah alasan mengapa anak adalah hal yang ingin aku fokuskan. hingga suatu saat jika allah izinkan aku menjadi seorang ibu. Ia jadikan aku ibu yang baik untuk anak-anakku.

yang perlu belajar adalah kita orangtua. MAUKAH KITA MENYADARI KESALAHAN KITA??

Anak bermasalah

pagi ini saya berdiskusi dengan psikolog sekolah di tempat dulu saya bekerja. Berangkat dari kekhawatiran saya terburu-buru dalam menilai seorang anak bermasalah. Rupanya cukup sederhana apakah anak tersebut dikatakan bermasalah atau tidak.

jika tugas perkembangan seseorang terganggu. Sudah cukup bisa dikatakan dia bermasalah. Cobtoh; pada orang dewasa jika sesuatu mengganggu pekerjaannya, itu sudah masalah. Nah sama pada anak. Jika sesuatu membuatnya hingga tidak sekolah itu sudah cukup dikatakan anak tersebut bermasalah. Tentu masalah orang dewasa dan anak-anak berbeda.

Dear ayah bunda. Ibu bapak. Papa mama.. Sama seperti kita. Ketika mereka merasa tertekan maka sikap mereka akan berubah. Berbeda dengan kita manusia dewasa yang bisa menganalisa masalah. Mencari solusi. Mereka butuh ruang “dengar” yang lebih lama dan tulus.

Kita tidak tahu pengalaman apa yang mereka alami (penggunaan kata trauma akan terlalu ekstrim didengar dan kebanyakan orang tua akan menyangkalnya). Iya hal yang mungkin tidak akan kita duga.

Bapak ibu. Cukupkah kita menitipkan anak kita pada mereka yang notabene bukan penanggungjawab utama? Atau masihkah kita akan menyangkal bahwa mereka akan baik-baik saja. Kesimpulan yang diambil berdasarkan pengamatan masa lalu. Keceriaan anak kala dulu. Ayah bunda. Sama seperti kita kenapa mereka berubah. Ya karena mereka memiliki masalah. Sesuatu yang harus kita bantu menyelesaikannya.

Takutkah kita pada kenyataan bahwa anak kita bermasalah? Seharusnya tidak. Intervensi dini yang kita butuhkan. Masihkah kita akan menyia-nyiakan waktu mereka? Yang tidak akan mungkin kita ganti dengan uang. Masihkah pak bu? Demi harga diri kita atau demi anak?

Is she okay?

Sepertinya bukan hal yang istimewa ketika anak sulit untuk membersihkan diri, atau ketika anak enggan untuk pergi ke sekolah.  Menumpahkan isi hati melalui gambar dan berisi rasa rendah diri, tidak dicintai yang amat sangat. merasa tidak  memiliki teman, dll. Menganggap teman khayalan dan ipad adalah yang lebih mengerti. Umumnya orang akan berpendapat

“aahh anaknya aja itu yang susah diatur”

“anaknya lebay”

“biarin aja ntar juga baikan sendiri”.

Benarkah demikian, kenapa hal ini sangat mengganggu saya? dua puluh tahun lalu saya pun termasuk anak yang demikian. Saya mencoba untuk memahami dari sudut pandang anak. Bukan berarti, jika ia mampu berinteraksi dengan normal, tersenyum, mampu mengutarakan apa yang dirasakan sekali waktu dia akan baik-baik saja. Jauh di sana dia butuh “pertolongan”. Pertolongan yang terlambat didapat untuk mengatasi perasaan rendah diri anak akan menghambat batas kemampuan anak dalam mengeksplorasi kehidupannya.

Apakah mereka harus menunggu hingga dewasa untuk menemukan “dirinya” dan berbahagia? Sayang sekali, jangan sampai mereka melewatkan masa kecilnya hanya dengan diisi oleh pikiran-pikiran negatif tersebut. Saya pribadi, harus mengambil jurusan psikologi untuk mempelajari diri saya sendiri. Label yang diberikan pada saya saat saya kecil harus dihapuskan perlahan. Saya tidak dapat mengingat masa lalu saya seperti teman-teman yang lain. Mengapa? karena saya tidak menikmati masa kecil saya. Pikiran negatif selalu menggelayuti. “kenapa begini?” “kenapa aku berbeda?” “kenapa ga ada yang sayang aku?” dan lain-lain.

Trust me. They need help. Jauh dalam diri mereka, mereka sadar ada yang salah. Tapi usia yang begitu belia, belum  mampu membuat mereka untuk bersikap dan mencari solusi.

MEREKA GA LEBAY.

Mereka kebingungan. Di saat lingkungan menuntut untuk kita menjadi anak yang terbaik, berprestasi, namun saat yang sama tidak ada tujuan dalam diri mereka. tentu semuanya terasa kompleks. What should i do? Aku ingin menjadi anak yang baik anak yang dicintai (walaupun orang-orang memang mencintainya). Hanya itu yang ada dipikiran mereka. Seriously, she needs help. She isn’t okay. Baca lebih lanjut

~Cintai Anakmu untuk Selamanya~

Dapet kiriman whatsapp dari Dinna.. buat 😥

Pada saatnya anak-anak akan pergi, meninggalkan kita, sepi..Mereka bertebaran di muka bumi untuk melaksanakan tugas hidupnya; berpencar, berjauhan.   Sebagian di antara mereka mungkin ada yang memilih untuk berkarya dan tinggal di dekat kita agar berkhidmat kepada kita.  Mereka merelakan terlepasnya sebagian kesempatan untuk meraih dunia karena ingin meraih kemuliaan akhirat dengan menemani dan melayani kita.   Tetapi pada saatnya, kita pun akan pergi meninggalkan mereka.  Entah kapan……  Pergi dan tak pernah kembali lagi ke dunia ini….  Sebagian di antara kematian adalah perpisahan yang sesungguhnya; berpisah dan tak pernah lagi berkumpul dalam kemesraan penuh cinta.   Orangtua dan anak hanya berjumpa di hadapan Mahkamah Allah Ta’ala, saling menjadi musuh satu sama lain, saling menjatuhkan. Anak-anak yang terjungkal ke dalam neraka itu tak mau menerima dirinya tercampakkan sehingga menuntut tanggung-jawab orangtua yang telah mengabaikan kewajibannya mengajarkan agama.  Adakah itu termasuk kita?   Alangkah besar kerugian di hari itu jika anak dan orangtua saling menuntut di hadapan Mahkamah Allah Ta’ala.  Inilah hari ketika kita tak dapat dibela pengacara, dan para pengacara tak dapat membela diri mereka sendiri.   Lalu apakah yang sudah kita persiapkan untuk mengantarkan anak-anak pulang ke kampung akhirat?  Dan dunia ini adalah ladangnya…  Sebagian di antara kematian itu adalah perpisahan sesaat; amat panjang masa itu kita rasakan di dunia, tapi amat pendek bagi yang mati.   Mereka berpisah untuk kemudian dikumpulkan kembali oleh Allah Jalla wa ‘Ala. Tingkatan amal mereka boleh jadi tak sebanding. Tapi Allah Ta’ala saling susulkan di antara mereka kepada yang amalnya lebih tinggi.  Allah Ta’ala berfirman:  “والذين آمنوا واتبعتهم ذريتهم بإيمان ألحقنا بهم ذريتهم وما ألتناهم من عملهم من شيء كل امرئ بما كسب رهين”  “Dan orang-orang yang beriman dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikit pun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.”  (QS. Ath-Thuur:21).  Baca lebih lanjut

Menjadi Orangtua yang Sesungguhnya

Didiklah anakmu sesuai dengan zamannya, penggalan dari kata-kata sahabat rasulullah berabad lalu dan masih penjadi panduan di zaman modern ini. Orangtua modern saat ini berlomba memberikan pendidikan karakter pada anak. Disamping dengan pendidikan formal bertaraf internasional.

Pendidikan karakter kembali menjadi ‘trend’ dikala negeri ini disorot karena besarnya kasus yang terjadi. Kehancuran sebuah negara disebabkan oleh kehancuran mental dari anak bangsanya. Maka, pemerintah kembali berjibaku menjadikan pendidikan karakter sebagai syarat utama selain nilai dan prestasi logika lainnya.

Tapi, bagaimana menciptakan karakter anak yang mulia kalau orangtua lupa belajar menjadi tauladan bagi anaknya?

Menumbuhkan pribadi berkarakter dan berintegritas tidak bisa hanya dengan menyerahkan ke lembaga formal dan informal yang berbayar. Bukankakh integritas dan karakter itu ditumbuhkan dan dicontohkan? Itulah mengapa keluarga (Ibu) adalah madrasah, tempat menimba ilmu yang pertama bagi anak-anaknya. Berpengalaman sebagai pendidik satu setengah tahun memberi saya kesempatan bertemu dengan berbagai macam karakter anak dan orangtua. Keselarasan orangtua dan pendidik di luar keluarga sangat dibutuhkan. Anak perlu belajar konsistensi dengan adanya kesamaan peraturan, sehingga hal ini tidak membingungkan mereka.

Banyak orangtua yang menuntut anaknya berperilaku sopan dan santun pada orangtua namun mereka lupa bagaimana mencontohkan.

“coba kakak diajarin gimana di sekolah? emang kamu diajarin mukul?! bentak-bentak? ga sopan begitu?! Untuk apa Bunda sekolahin kamu kak? Percuma kamu sekolah kalau perilaku kamu begitu”

atau

“kamu ngapain hah?! kasar sama adeknya! Mau ayah pukul kamu?! Lempar kamu?! Nangis terus?!!” *sambil melempar barang*

Sungguh ini nyata terjadi pada anak berusia belum gena 5 tahun? Bagaimana mungkin dia tidak belajar membentak, berlaku kasar pada adiknya kika yang dia contoh adallah perilaku yang serupa. Lalu, pantaskah orangtua menyalahkan sepenuhnya pada anak? Apakah mereka sudah belajar menjadi orangtua yang sebenarnya? Terkadang orantua pun tidak ingin disalahkan hingga hanya kata-kata makian yang keluar untuk sang anak. Luar biasa!

Padahal Ali sudah membagi konsep pendidikan anak menjadi 3 tahap yang bisa menjadi contoh bagi orangtua.

  1. Masa 7 tahun pertama (0-7 tahun) Anak adalah Raja: Saat ini adalah saat maksimal pembentukan sel otak pada anak-anak sebesar 70% mereka mencontoh perilaku yang tampak. Kata-kata tidak akan dapat menggantikan perilaku yang mereka lihat. Hal ini bukan berarti memberikan sepenuhnya apa yan gmereka inginkan, tapi membimbing dan menjelaskan bagaimana seharusnya. Bukan dengan kekerasan dan kata-kata kasar namun dengan kasih sayang. Ingat!! mereka mencontoh. Apa yang anda lihat pada diri anak anda itulah apa yang anda lakukan dan apa yang anda lupa contohkan. Kasih sayang akan mengalahkan semuanya. Oleh karena itu, mari perbaiki diri kita.
  2. Masa 7 tahun kedua (7-14 tahun) Anak adalah Tawanan Perang: Pada usia ini anak wajib diajarkan mengenai tanggung jawab. Bukan dalam arti dikekang sepenuhnya tapi mereka akan mendapatkan konsekuensi dari perbuatannya. Orangtua sudah harus mendisiplinkan anak mengenai ibadah wajib, tentang seksualitas, karena ketika masa pubertas datang mereka akan memikul dosa-dosanya sendiri. Anak sudah mampu mencerna informasi secara penuh. Mereka sudah paham mengenai sebab akibat sehingga akan lebih mudah menerapkan aturan. Persiapkan mereka untuk menjadi pemimpin bagi dirinya sendiri di tahun-tahun selanjutnya.
  3. Masa 7 tahun ketiga (14 tahun ke atas) Anak adalah Sahabat: Bekal yang mereka dapatkan di dua tahap sebelumnya adalahmodal untuk membentuk jati diri mereka. So, jangan salahkan anak anda jika mereka belum menemukan jati diri di usia yang seharusnya. Lihatlah apakah kita sebagai orangtua sudah membekali mereka dengan ilmu yang benar? Pada tahap ini orang tua seharusnya memposisikan diri sejajar menjadi tempat berbagi, sebagai sahabat yang mengingatkan pada hal-hal yang benar. Biarkan mereka menentukan atah dan tujuannya. Kita bukan mereka, mereka bukan kita. Membuka hati dan pikiran meleburkan diri menjadi satu dengan mereka akan lebih memudahkan anak menentukan jalannya sendiri.

Apakah kita mengharapkan anak berusia 4 tahun untuk mengerti semua yang kita inginkan? Wow jika iya mungkin anda membutuhkan robot. Karena hanya robot yang akan mengikuti apa yang program katakan, tanpa empati, tanpa kesadaran diri. Baca lebih lanjut