Ujian

Dua minggu lagi ujian bakal digelar. Rasanya gue udah ga mau ikut ujian lagi. Iya sih secara memang beda cara belajar dokter sama gue. Beda satu titik dan koma pun lo bisa bikin orang mati. Itu kata eyang dokter. Beda sama gue yang basicnya sosial dan lemah secara hapalan. Gue ga pernah peduliin kata dan kalimat yang sama persis. Bahkan dulu dosen psikologi umum gue ga terima kalo kata-kata ujian kita di kertas sama persis dengan di buku karena dianggap mencontek.

Dan takdir gue sekarang beda. Gue harus kerja sama dokter yang menurut gue banyak ga cocoknya sama gue. Doi pinter gue enggak. Doi soleh gue belum solehah. Doi tua gue lumayan muda. Doi tegas dan keras gue bebal dan konsisten sama pendapat gue yang menurut doi seribgkali salah.

ntahlah rasanya otak gue udah males. Nolak duluan. Begitulah kira-kira. Untungnya gue ga nangis sih 2 kali ga lulus. Cuma kesel aja sama diri sendiri termasuk sama doi sebenernya. Tapi yaa.. Namanya juga kerja sama orang. Ya aturan beliau-beliaulah yang berlaku.

Di sisi lain, gue bersyukur karena emang kerjaan inilah yang gue mau. Semoga aja gue ikhlas dan bawa usaha gue ini jadi timbangan di akherat. Dimanapun kerja ga akan ada 100% sempurna dan enak-enak aja. Semuanya jadi berasa lebih mudah kalau kita menyukai apa yang kita kerjakan. Yup betul banget. Passion itu emang kunci untuk bertahan. Termasuj di saat badai.

Banyak sih yang nangis karena ga lulus. Pinginnya gitu, ikutan nangis kenceng. Tapi sayang banget. Dosa gue yang bejibun aja ga gue tangisin. Malu sih ga lulus ujian. Yah, mu gimana lagi hanya orang-orang kuat mental (lemah hapalan) yang ga lulus. hahahaa.. good luck

McDojo (Dojo oh Dojo)

Dojo oh Dojo.. Bagaimana nasibmu kelak? Terlanjur jatuh hati sudah pada olahraga ini. Tapi apalah arti kami tanpamu Dojo. Ibarat tuna wisma 😀 *lebay dikit.

Dojo itu (abis googling haha)…..

Kata dojo (道場,) adalah istilah bahasa Jepang yang secara harfiah berarti “tempat jalan”. Pada mulanya dojo sebagai tempat untuk belajar dan mengajarkan Buddha, dalam perkembangan dewasa ini istilah dojo adalah tempat latihan, belajar budo, tempat mencari pencerahan, atau place of the way. Istilah dojo juga digunakan untuk menggambarkan ruang meditasi tempat praktek meditasi Zen Buddhis zazen, sebagai  pengganti dari “zendo” istilah yang lebih spesifik, dan lebih banyak digunakan untuk menyebut ruang meditasi mereka, seperti yang dilakukan master pendiri mereka, Taisen Deshimaru. Istilah dojo merujuk pada tempat pelatihan formal untuk orang Jepang melakukan seni, tetapi lebih spesifik  dianggap tempat pertemuan formal bagi murid dan guru dari berbagai seni bela diri gaya Jepang untuk melakukan pelatihan, ujian dan pertemuan terkait lainnya. – See more at: http://aikidojogjakarta.com/?p=625#sthash.XloggTAc.dpuf
Kalo liat-liat dojo di internet kayaknya keren banget ya. Pertama kali ngebayangin mau latihan juga wiih kayaknya asik tuh tempatnya adem, ayem, PERMANEN.. Ternyata sejarah Dojo untuk jritsukai ga begitu (hahaha). Kami seperti manusia purbakala yang hidup dalam kehati-hatian terhadap mangsa dari luar (apa siihh). Jadi begini, dojo kami sedang dalam kegalauan. Apalagi masalahnya kalau bukan karena penjaganya.. Huhuhu babeehh.. Katany sih Dojo ini baru pindah sekitar 1 tahunan (eh apa 2 tahun ya?) dimana sebelumnya sempat menyewa gedung pertemuan. Yang kemudian pindah lagi karena tidak ada kesepakatan dengan TUAN GEDUNG. permasalahan matras juga jadi penyebabnya. Mau ditaruh dimana matrasnya kita… (pake nada armada ya..) gitu deh. Trus sekarang juga gitu. Si TUAN PENJAGA KUNCI pun terkadang tidak mengindahkan kita. 😦
Hari dimana seharusnya kita latihan ada aja alasannya gedung dipake, trus belum diberesin dan lain lain..
Lagi-lagi iri sama dojo lainnya.

Baca lebih lanjut

Guru Nasibmu Selalu

Memasuki akhir tahun, biasanya akan selalu diramaikan oleh demo kenaikan upah. Yah, memang apalaggi Indonesia lagi asyik mengalami kenaikan BBM, yang katanya hanya 2ribu rupiah, tapi dampaknya mulai kita rasakan. Mulai dari kenaikan biaya tansportasi, naik harga kebutuhan pokok, dan lain-lain. Banyak pekerja yang akhirnya mencoba membela kepentingan mereka dengan minta dinaikan upahnya.

Sayang seribu sayang… Buruh yang dianggap “menderita” disepakati untuk dinaikkan upah minimumnya. Upah DKI misalnya, mengalami kenaikan menjadi 2,7juta atau upah yang paling besar adalah jawa barat 2,9juta. Bagaimana dengan gaji guru? Yang notabene menjadi pilar awal pembangunan bangsa? Bukannya saya membanding-bandingkan profesi, tapi bukankah bersikap adil adalah lebih biak. Ingat sekali, ketika dulu saya memilih untuk mengajar Upah minimun kala itu ada 2,5juta namun gaji yang pertama kali saya terima sebagai guru adalah 900ribu rupiah. Bukan gaji yang menggeraakkan saya untuk bekerja dulu. Tentu saya terima tawaran tersebut dengan senang hati. Bekerja lima hari seminggu plus hari sabtu untuk beberapa waktu tidak membebankan saya dan teman-teman. Bukankah menjadi guru adalah tugas mulia.

memang guru tidak terikat dengan undang-undang yang sama dengan buruh terlebih dari sekolah swasta, yang kemudian sistem pembayaran akan dikembalikan lagi pada kemampuan dari yayasan tersebut. Saya ingat, bagaimana kami sebagai guru kala itu benar-benar tulus berjuang untuk anak-anak. Beberapa ketidaksamaan pandang dengan yayasan pun awalnya membuat kami tergerak untuk meninggalkan mereka di tengah jalan (mogok mengajar), atau bahkan demo hanya sekedar menuntut keadilan dan kejelasan. Bahkan orangtua murid sudah mendukung.

Tapi kemudian, salah seorang rekan kami berkata

janganlah gimana juga kita guru, kalau kita mogok ga ngajar, gimana anak-anak. Bisa memang kita juga tinggalin pembelajaran ini. Toh, mereka ga bisa apa-apa tanpa guru kalau semuanya sepakat, tapi kita liat lagi, apa pantas dilihat anak-anak”

Ya, begitulah guru, hanya sekedar ingin dimengerti saja, akan mengerti dan mendahulukan kepentingan orang lain. Sebagaimanapun tidak adilnya sistem yang dijalankan sebisa mungkin guru akan “melindungi’ itu dan berkata semua baik-baik saja.

Untuk waktu kerja tidak ada yang berbeda antara guru dan pekerja lainnya. Mereka pun bekerja dengan jumlah jam yang sama tugas yang sesuai dengan bidangnya. Belum lagi ketika harus melaksanakan outing, fieldtrip, event sekolah, dan masih harus memantau perkembangan siswa. Bukan hanya output berupa angka, tapi juga bagaimana mereka bisa benar-benar berkembang dengan bakat dan minatnya.

Kalau anda pikir ini pekerjaan mudah cobalah menjadi guru untuk beberapa waktu

Baca lebih lanjut