ANINDITA, HABISKAN MAKANMU.

Mbah Uti selalu sedih jika melihat kotak bekal makanan Anindita. Selalu saja ada sisa makanan dan tidak pernah sedikit. Beberapa kali Mbah Uti mengingatkan Anindita untuk mengambil bekalnya sendiri. Mungkin saja dengan begitu bekal yang dibawa akan habis dimakan. Tapi, sayangnya hal itu tidak terjadi. Setiap kali ditanya alasannya adalah kenyang.

“Anindita, kenapa masih sisa bekalnya?” Mbah Uti terdengar putus asa.

“Sudah kenyang Mbah Uti,” ujar Anindita.

“Kalau kenyang harusnya kan Anindita ga jajan makanan lagi pulang sekolah tadi.” Anindita tidak menjawab dan sibuk dengan mainanannya.

“Assalamu’alaikum..” terdengar suara dari pintu.

“Tante Amaaaahhhh….” Anindita langsung berlari menuju pintu dan memeluk tantenya. Sudah lama tante Amah tidak datang berkunjung ke rumah Anindita.

“wa’alaikumussalam,” jawab Mbah Uti.

“Tante Amah, Anin udah pinter dong di sekolah. Tadi Anin sama Alvaro disuruh Miss Iche maju nyanyi.” Anindita tidak akan berhenti bercerita jika bertemu Tante Amah. Tante selalu mendengarkan cerita Anindita dengan sabar dan selalu tersenyum.

“Anindita ga pinter tante, soalnya kalau makan ga pernah dihabisin”. Mbah uti menjawab dari dapur.

“Masih belum habis juga makannya sampe sekarang sayang?” Tante sudah tahu kebiasaan ini. Anindita pun hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Tante Amah.

“Tante, bacain cerita dong” Anindita memang senang dibacakan cerita oleh tante. Buku cerita yang dibelikan Bunda sampai robek.

“Tante ga mau baca cerita ah sekarang. Tante mau ceritain sesuatu dari gambar yang ada di handphone tante.” Klik, klik, klik, klik. Tante seperti sedang menyiapkan sesuatu. Tante menunjukkan foto Anindita ketika di restoran cepat saji dan disampingnya foto seorang anak mengenakan pakaian yang kotor dan sedang memungut sesuatu dari tanah.

“Anindita berapa umurmu sekarang?”

“Lima tahun tante.”

“Waah, sama ya sama foto yang ini. Anak ini juga umurnya lima tahun. Anindita tahu bedanya dia dan Anin?”

“Ehm, dia pakaiannya jelek.” Anindita menjawab sambil memikirkan jawaban selanjutnya. Tante memang pandai membuat Anindita terlibat dalam ceritanya.

“Apalagi?”

“Anin lagi makan di Mall duduk di kursi. Dia lagi jongkok di tanah”. Tante tersenyum. Ponakannya semakin pintar.

“Hebat kamu cantik. Anin memang lagi makan di Mall, di restoran. Ada tante juga kan waktu itu. Makannya habis ga? Tante inget loh. Anin sampe rajin banget beresin mainan karena mau makan di restoran ini.”

Ga habis” kata Anindita termenung.

“Sayang sekali ya Anin ga pernah menghabiskan makanan. Padahal ada anak lain di tempat yang berbeda sedang kelaparan mencari makanan yang bisa buat mereka tetap hidup. Ini contohnya, mengambil sisa gandum yang jatuh.”

“Memangnya benar  ada yang begini Tante?” tanyanya sambil menunjuk anak tersebut.

“Ada beneran loh, ini nyata. Ini Tante kasih gambar lainnya. Yang ini di Somalia, yang ini di Afganistan. Kita bahkan ga tahu orang tuanya masih hidup atau ga. Bersyukur ya Anin masih ada Bunda, Ayah, Mbah Uti, Mbah Akung, Tante dan semua yang sayang sama Anin. Coba bayangkan, jika Anin yang jadi mereka. Ketemu makan di jalan pun sudah sukur. Air juga demikian. Belum habis air di gelas sudah ambil gelas baru lagi, akhirnya minuman Anin buang-buang. Mereka rela minum dari genangan air di jalan karena susah bertemu air bersih. Waah kita harus bersyukur selalu ya sayang.” Mata Anin sudah berkaca-kaca. Anin membayangkan jika dirinya menjadi salah satu dari anak – anak itu.

“Tante ada lagi fotonya?” perbincangan pun kembali berlanjut.

Seminggu kemudian, Tante kembali berkunjung. Seperti biasa.

“Tante Amaaaahhh… Anin udah pinter dooong” ceritanya sambil memeluk Sang Tante.

“Iya Tante,” Bunda membenarkan.

“Kemarin Miss Iche cerita sama Bunda, katanya Anindita sudah pintar, makannya dihabiskan. Bunda Jenny juga cerita seneng lihatnya. Anindita kalau makan rapi, bersih, dan habis.”

“Anin ceritain ke teman – teman. Kalo makan harus habis, banyak anak – anak lain yang ga bisa makan seperti kita”.

“Waah Anindita semakin baik dan pintar” Mbah Uti memeluk dan menggelitik Anindita. Disusul Bunda dan Tante Amah.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s