Kekecewaan.

Kekecewaan.

Bukan kali pertama ini kecewa.

Masih saja banyak berharap dan menghasilkan luka.

Bukan kali pertama ini kecewa.

Masihkah berharap pada manusia?

Kelelahan pada dunia akan terbayar, nanti tiba saatnya akan terbaring sendiri.

Menghitung semua hasil dari yang diuji.

Pada siapa lagi berharap, jika Tuhanlah pemilik alam semesta.

Pada siapa lagi meminta, kalau nafas saja tak menjadi kuasa kita.

Kecewa itu biasa, pada orang-orang yang berharap dengan manusia.

Kecewa itu tak pernah ada, jika hanya berharap pada Allah semata.

Koreksi diri, perbaiki hati, tentukan tujuan pada yang hakiki.

Hingga nanti nafas terhenti.

Tersenyumlah, tersenyumlah karena kekecewaan tak kan pernah abadi 😇

Seminung

Seminung

Seminung di kala dibi.

Keindahan yang tak terganti.

Berpandang, tersenyum lalu menghamba pada Tuhan Yang Maha Kuasa.

Seminung di kala dibi.

Membawa hati rindu tak terperi.

Jumpa lagi riuh berlari mencari jalan melindungi diri sendiri.

Seminung di kala dibi.

Suatu saat akan terganti.

Pada pemilik jiwa yang hakiki.

Benar

Benar

Selalu berbicara tentang kebenaran.

Mengagungkan fakta.

Menegakkan idealism diantara pragmatism.

Berkoar koar tentang keadilan.

Memaksakan pemikiran kritis diantara kepercayaan mistis.

Memaksakan detail tanpa menentukan pencapaian.

Benar itu bukan hanya milik perorangan.

Benar itu milik sudut pandang dan norma si tuan.

Benar itu dianggap takkan pernah satu.

Walau dunia tak berkata begitu.

Percaya akan kebenaran darimana berasal.

Bukan sekedar lihat, dengar, dan rasakan.

Tapi penilaian dari hati yang terdalam.

Siap

Siap

Yang terjadi bukan karena kemauan.

Yang terjadi karena kepantasan.

Kepantasan dalam pandangan Tuhan.

Bukankah kita diminta untuk percaya.

Pada takdir dan rencananya.

Siapkan diri.

Bukan selalu untuk suka dan cita.

Tapi juga duka dan nestapa.

Kenapa harus?

Katanya Tuhan yang urus?

Kehidupan bukan hanya senandung bahagia.

Tapi juga air mata penuh luka.

Untuk apa?

Jadi permainan Tuhan?

Bukan.

Hanya Tuhan sedang menunjukkan jalan apa yang akhirnya kita pilih.

Kusiapkan bekal.

Berjalanku ke barat.

Kutinggalkan semua asa yang tak bermakna.

Kusiapkan diri pada harapan yang belum pasti.

Kuyakinkan bahwa semua terjadi atas kehendak illahi.

Hari ini kutemui.

Bahwa apa yang kuinginkan, kuharapkan, bukanlah yang terbaik.

Untuk apa mengejar matahari jika kau juga butuhkan malam.

Untuk apa berlindung dalam gelap jika sinar membuatmu melihat.

Tuhan siapkan semua.

Apakah kita sudah siapkan pada kenyataan yang ada?

Benteng dan Harapan

Benteng dan Harapan

Ada cita-cita besar yang menunggu di belakang sana.

Sesuatu yang menjanjikan kebahagiaan dan ketenangan.

Ada satu penghalang besar tertera.

Menjauh adalah pilihannya.

Mengubur atau melompat bukan hal mudah yang bisa dicoba.

Karena keyakinan dan norma tak selalu sama.

Harga diri menjadi satu-satunya yang dipertaruhkan.

Haruskah melanjutkan atau menghilangkan semua harapan.

Benteng yang tak mau dilalui.

Tangan yang tak mau berusaha meruntuhkan.

Hingga suatu saat. Benteng itu lapuk dimakan usia.

Atau jiwa dan raga ini yang tenggelam bersama harapan.

Diam

Diam

Ada luka yang tak nampak.

Ada yang disembunyikan tapi ingin orang melihat.

Ada kerinduan yang tak mungkin terucapkan.

Semua terasa tenang di balik resahnya angin dan ombak.

Terus menatap jauh dengan kesendirian.

Mendengar tawa riang bocah berlarian bersama butiran pasir panti.

Aku membuang muka. Supaya kau memperhatikanku.

Aku tersenyum. Supaya kau tahu beri senyuman yang dapat sembuhkan lukaku.

Mata beradu tanpa suara.

Hati mulai merasa.

Kembalillah. Kembali ke alam sadarmu. Hidup bukan semata kesenangan dan ketenangan dunia.

Kembalillah. Kembali pada penciptamu. Yang tak pernah berpaling. Yang tak pernah membencimu.

Kembalillah. Karena ketenangan itu ada diantara doa.

Kembalillah.

Dalam diam.