Home Literacy Entertainment; Partisipasi Mental Orang tua dalam Menumbuhkan Minat Baca Anak

Home Literacy Entertainment; Partisipasi Mental Orang tua dalam Menumbuhkan Minat Baca Anak


Buah jatuh tak jauh dari pohonnya, begitu pribahasa mengibaratkan hubungan antara karakter anak dan orang tua. Kita sibuk mengkritik minat baca anak yang rendah di era milenial, berbeda dengan orang tua “zaman now” yang jarang disoroti. Anak yang besar di tahun 1990-an terbiasa melihat orang tuanya membaca koran setiap pagi dan sore. Aktivitas membaca akan sangat lekat. Anak-anak masih sibuk merengek dibelikan majalah Bobo, remaja ramai berbincang-bincang tentang majalah Aneka yess! maupun Gadis. Saling menulis dan bertukar pesan buku dairy. Bagaimana dengan anak-anak saat ini?
Saya sempat memberikan soal terbuka tentang kegemaran keluarga di rumah kepada murid kelas satu. Jawaban yang mereka berikan beragam dan diantaranya sangat menggelitik. Ayahku gemar main game, ibuku gemar chatting-an dan jawaban lainnya. Belum saya temukan jawaban gemar membaca. Rasa penasaran membuat saya menyebar kuesioner singkat yang hanya berisi dua kalimat untuk dilengkapi kepada siswa-siswi kelas 2 sampai kelas 6. Sekitar 80 siswa, hanya ada dua jawaban yang menyatakan ayahku gemar membaca koran dan ibuku gemar membaca novel, dari dua siswa yang berbeda. Minat baca bermula dari keluarga. Penelitian menunjukkan bahwa anak belajar sikap membaca yang baik sebelum memasuki usia sekolah melalui observasi, seperti melihat orang tuanya membaca koran, buku, peta, dan tanda-tanda di jalan (Vasylenko, 2017).
Orang tua adalah guru pertama. Kehadiran orang tua di rumah belum cukup untuk menumbuhkan minat baca anak tanpa diimbangi dengan partisipasi mental. Partisipasi mental (Davis, 2000) sendiri merupakan bentuk tanggung jawab dengan membacakan anak buku, bercerita, mendengarkan cerita dan terlibat secara aktif baik fisik maupun emosi. Hal yang sering terjadi adalah orang tua menuntut anak membaca, sedangkan mereka melakukan aktivitas lain. Orang tua kerap menunjukkan ekspresi negatif, seperti menertawakan anak ketika salah membaca, memarahi anak ketika belum bisa membaca, bahkan mengomentari buku bacaan yang dipilih anak ketika dianggap tidak sesuai dengan pilihan orang tua. Orang tua yang terlibat secara mental dapat membentuk lingkungan literasi di rumah.
Lingkungan literasi di rumah (home literacy environment) berperan penting dalam meningkatkan minat baca anak seperti tersedianya perpustakaan rumah, waktu membaca bersama, jurnal keluarga, dan lain-lain. Home literacy entertainment adalah penggabungan home literacy environment dan entertainment (hiburan). Fasilitas yang sudah tersedia harusnya menjadi berguna dan menyenangkan. Buku belum menjadi pilihan orang tua ketika memberikan imbalan kepada anak. Orang tua cenderung memberikan hadiah/hiburan berupa pergi ke taman hiburan, pusat perbelanjaan, membelikan mainan, atau bahkan gawai terbaru. Fitur terbaru seperti augmented reality di buku dan smart e-pen merupakan contoh teknologi modern pilihan orang tua untuk dapat meningkatkan minat baca. Kenyataannya, minat belum tertanam namun kecintaan pada gawai semakin dalam.
Hiburan yang sesungguhnya dibutuhkan anak adalah partisipasi mental orang tua saat di rumah. Kegiatan bersama orang tua contohnya membacakan buku dengan suara yang keras dan menarik (reading aloud) seperti mendongeng, membedakan intonansi suara, dan memainkan mimik wajah. Penelitian Harvard Child Development Center tentang The Still Face Experiment (Fitzgerald, 2014) mengungkapkan pentingnya mimik wajah orang tua terhadap anak. Orang tua yang tidak memberikan mimik wajah yang menyenangkan akan membuat anak tidak nyaman dan kehilangan perhatian atau minat. Membacakan buku dengan ekspresi wajah yang menarik dan suara yang keras (reading aloud) merupakan senjata yang dapat mengikat minat anak terhadap buku. Ledger dan Merga (2018) dalam penelitiannya menemukan bahwa hampir 70% anak-anak menginginkan dibacakan buku oleh orangtuanya. Membacakan buku kepada anak menumbuhkan keberanian anak untuk dapat membaca sendiri, kelekatan kepada buku, dan tentunya menumbuhkan minat membaca di masa depan. Menginginkan anak memiliki minat baca tanpa berpartisipasi secara mental adalah laksana mencari sungai yang tiada berhulu.


Daftar Pustaka
Davis, Keith. 2000. Human Relations at Work The Dinamik Of Organization Behavior. New York: McGraw-Hill Book Company.
Fitzgerald, Dr. Brenda. 2014. Improving Early Child Development with Words. [Tedx Talk Seminar: at TEDxAltanta]. Tersedia online http://youtu.be/y8qc8Aa3weE. Diakses 24 Agustus 2019.
Ledger, S., & Merga, M. K. 2018. Reading Aloud: Children’s Attitude toward being Read at Home and at School. [Australian Journal of Teacher Education]. Vol 43(3). Tersedia online http://ro.edu.au/ajte/vol43/iss3/8. Diakses 30 Agustus 2019.
Vasylenko, Olena V. 2017. The Parents’ Role in Helping Children to Develop Reading Skills. [Scientific Articles]. Vol. 12 no 4(46). Tersedia online: http://cejsh.icm.edu.pl/. Diakses 07 Agustus 2019.

What’s wrong with me?

What’s wrong with me?

Ini jam 01.45 pagi, gue belum bisa tidur. Masih sibuk liatin instagram dengan berbagai macam dramanya. Tiba- tiba aja gue liat ada berita nenek-nenek yang tertangkap mencuri makanan dan sempat dipukul sama seorang warga. Rasanya airmata kayak air keran yang ga ditutup. Terlepas itu nenek emang aalah mencuri tapi perlakuan yang didapatnya ga pantas.

Terbayang wajah emak gue di nenek itu. Gimana kalau memang dia bener2 mencuri karena terpaksa. Gimana kalau dia ternyata menghidupi cucunya yang masih kecil di rumah dan kelaparan. Ya rabb, ditengah situasi yang serba susah sekarang ini, masih aja ada orang yang bertindak tanpa pikir panjang. Tapi, gue bersyukur karena masih pula ada orang yang memberi dengan hati yang riang tanpa ria.

Ada apa dengan gue? Rasanya percuma gue selalu nangis baca berita-berita yang menyedihkan dan mengharukan tanpa bisa bantu banyak. Ya Rabb, janjiMu adalah benar. Doa saja yang kupunya saat ini untuk mereka yang dimanapun sedang berjuang demi keluarga. Ya Rabb jadikanlah kami manusia yang bermanfaat bagi sesama, yang memberikan kebaikan, dan kebahagiaan, yang meringankan beban dan memberi senyuman.

Jika memang tidak sampai tangan kami membantu. Jadikanlah hati satu dalam doa seluruh umat manusia. Ya rabb, janjiMu adalah benar. Kau akan berikan balasan bagi mereka yang bersabar dan bermanfaat bahi sesama. Kelak bersama di sisiMu.

Corona Change Everything

Corona Change Everything

Corona hadir bukan tanpa sebab. Sebagai muslim tentunya gue harus dan tentu percaya dengan takdir baik ataupun buruk. Sebagian menanggap corona adalah senjata biologis yang sudah disiapkan oleh musuh-musuh (ntah musuh siapa) untuk menyerang oposisi (dari sudut pandang masing-masing). Tapi, satu hal yang pasti. Semua tidak akan terjadi tanpa izin allah..

Apapun alasan dibalik hadirnya corona, gue rasa yang jelas adalah perubahan dimana-mana (baik dan buruk). Dampak negatif yang jelas terasa adalah kesulitan ekonomi yang dirasakan sebagian besar golongan. Kehilangan pekerjaan, kehilangan pelanggan, berkurangnya mata pencaharian bagi buruh harian dan lain-lain. Panic buyer yang menyebabkan kelangkaan barang sehingga harga melonjak. Penjahat yang mengambil kesempatan dalam keadaan sulit, menjual masker dengan harga mahal, dan bahkan menipu. Hal yang selama ini saya rasa hanya ada di movie ternyata tergambar jelas dalam masyarakat. Situasi sulit akan memperlihatkan hati manusia yang sesungguhnya.

Corona change my life also. Bekerja di rumah bukan perkara yang mudah. Sebagai guru apalagi kelas 1 membuat rasa bersalah semakin besar. Tidak dapat mendampingi anak-anak. Menambah beban orangtua murid di rumah dan kekhawatiran pada kemampuan mereka menyerap pelajaran. Gue merasa teman-teman guru sudah merasa melakukan yang terbaik diantara segala macam aturan birokrasi. Tetapi masih pula menjadi sasaran orang tua yang merasa tidak puas dan terbebani.

Corona membuat orang-orang berdiam diri dan ketakutan. Di saat bahkan Tuhan saja diabaikan. Corona membuka mata bahwa mahluk kecil yang sebenarnya terurai dengan sabun bisa membawa kematian massal di dunia. Bagaimana dengan Tuhan yang selama ini memberi nikmat dan menciptakan segala sesuatu di dunia? Nikmat manalagi yang gue dustakan.

Honestly, Corona membuat gue cukup “depresi” bukan karena berdiam diri di rumah tetapi karena berbagai informasi dan keinginan untuk terlepas dari krisis itu sendiri. Gue yang hanya mengalami sedikit masalah psikis saja udah begini pingin nangis. Bagaimana dengan teman-teman yang sudah dalam tahap berat? Tentu dadanya akan semakin sesak dan timbul pikiran yang macam-macam.

Semua duka akibat corona terkespos di media. Hanya sebagian kecil yang menampakan bahagia. Bumi menangis karena corona katanya. Bumi sedang bersedih. Tapi, gue rasa bumi merasakan keduanya. Bersedih karena manusia sedang berduka. Bahagia karena dirinya pulih dari segala luka yang disebabkan manusia. Gue selalu percaya Tuhan beri waktu kita untuk kembali pada-Nya, meskipun kita memilih untuk menunda.

Corona change me. Gue adalah orang yang terbiasa cepat dalam mengambil keputusan. Hingga hidup gue terasa seperti roller coaster. Tapi kali ini beda. Kali ini gue amat sangat lama dan berhati-hati. Corona membuat semuanya berjalan perlahan. Kecuali kematian.

Do’a gue semoga Tuhan berikan kemudahan dan kekuatan bagi seluruh ciptaan-Nya dalam melampaui situasi saat ini. Karena bisa jadi sesuatu yang kita anggap buruk sekarang adalah rencana Allah untuk kebaikan di masa depan. Wallahua’lam.

Be Strong

Be Strong

Jika lelah beristirahatlah.

Jika penat bernyanyilah.

Lenggangkan semua gelisahmu, hingga terurai satu persatu.

Be strong doesn’t mean you can’t cry.

Be strong doesn’t mean you beat everyone.

Be strong with your own anger, be strong from your own regrets.

Jika kakimu terseok, bersandarlah.

Jika hatimu terluka, basuhlah.

Jika jalan mulai tak terarah, mungkin inilah saatnya kembali menengadah

Bersujud, merukuk, dan mengadu.

Segala kekecewaan hadir karena pengharapan yang rimpang.

Mula tak rugi kembali tak berarti. Melangkah menepi, menghayati diri. Pasti suatu hari kan pergi. Sendiri.

With WordPress

With WordPress

Setelah seminggu ga punya hape.. sepi dan rindu sama dunianya maya. Akhirnya googling dan read postingan lama di blog.

Ternyata ga kerasa, sudah 5 tahun bersama wordpress. The one and only blog yang masih hidup diantara blog lainnya..

Bisa sekomit itu ya gue. Biasanya mentok 2 tahun wassalam.

Kalo diliat lagi, ternyata semua kembali ke niat. Dulu buat wordpress ini cuma untuk share dan sebagai coping stress.. metode yang ampuh emang coping stress dengan menulis.

Niat yang tulus membawa hubungan ke arah yang berbeda. Sama halnya dengan pekerjaan, rumah, pertemanan dan lain sebagainya.

Bagaimanakah niat kita ketika memulai sesuatu? Tujuannya akhiratkah? Atau masih membayangi dunia?

Allah Maha Adil. Apa yang kita tanam itu yang kita tuai. Kecuali ada orang lain yang allah perintahkan untuk menghibahkan atau memberikan suatu hasil panen tang berbeda.

Dear wordpress. Terima kasih sudah menjadi media pelepas lelah. Hehe. Penat dan kerinduan untuk teman-teman nan jauh di sana.

Be with me until the day i close my eyes ya..

Kekecewaan.

Kekecewaan.

Bukan kali pertama ini kecewa.

Masih saja banyak berharap dan menghasilkan luka.

Bukan kali pertama ini kecewa.

Masihkah berharap pada manusia?

Kelelahan pada dunia akan terbayar, nanti tiba saatnya akan terbaring sendiri.

Menghitung semua hasil dari yang diuji.

Pada siapa lagi berharap, jika Tuhanlah pemilik alam semesta.

Pada siapa lagi meminta, kalau nafas saja tak menjadi kuasa kita.

Kecewa itu biasa, pada orang-orang yang berharap dengan manusia.

Kecewa itu tak pernah ada, jika hanya berharap pada Allah semata.

Koreksi diri, perbaiki hati, tentukan tujuan pada yang hakiki.

Hingga nanti nafas terhenti.

Tersenyumlah, tersenyumlah karena kekecewaan tak kan pernah abadi 😇

Seminung

Seminung

Seminung di kala dibi.

Keindahan yang tak terganti.

Berpandang, tersenyum lalu menghamba pada Tuhan Yang Maha Kuasa.

Seminung di kala dibi.

Membawa hati rindu tak terperi.

Jumpa lagi riuh berlari mencari jalan melindungi diri sendiri.

Seminung di kala dibi.

Suatu saat akan terganti.

Pada pemilik jiwa yang hakiki.

Benar

Benar

Selalu berbicara tentang kebenaran.

Mengagungkan fakta.

Menegakkan idealism diantara pragmatism.

Berkoar koar tentang keadilan.

Memaksakan pemikiran kritis diantara kepercayaan mistis.

Memaksakan detail tanpa menentukan pencapaian.

Benar itu bukan hanya milik perorangan.

Benar itu milik sudut pandang dan norma si tuan.

Benar itu dianggap takkan pernah satu.

Walau dunia tak berkata begitu.

Percaya akan kebenaran darimana berasal.

Bukan sekedar lihat, dengar, dan rasakan.

Tapi penilaian dari hati yang terdalam.

Siap

Siap

Yang terjadi bukan karena kemauan.

Yang terjadi karena kepantasan.

Kepantasan dalam pandangan Tuhan.

Bukankah kita diminta untuk percaya.

Pada takdir dan rencananya.

Siapkan diri.

Bukan selalu untuk suka dan cita.

Tapi juga duka dan nestapa.

Kenapa harus?

Katanya Tuhan yang urus?

Kehidupan bukan hanya senandung bahagia.

Tapi juga air mata penuh luka.

Untuk apa?

Jadi permainan Tuhan?

Bukan.

Hanya Tuhan sedang menunjukkan jalan apa yang akhirnya kita pilih.

Kusiapkan bekal.

Berjalanku ke barat.

Kutinggalkan semua asa yang tak bermakna.

Kusiapkan diri pada harapan yang belum pasti.

Kuyakinkan bahwa semua terjadi atas kehendak illahi.

Hari ini kutemui.

Bahwa apa yang kuinginkan, kuharapkan, bukanlah yang terbaik.

Untuk apa mengejar matahari jika kau juga butuhkan malam.

Untuk apa berlindung dalam gelap jika sinar membuatmu melihat.

Tuhan siapkan semua.

Apakah kita sudah siapkan pada kenyataan yang ada?