Menikah

Menikah

Satu per satu teman gue beranjak menikah dan memiliki anak. Perubaham itu belum ada di diri gue. Buat gue pernikahan masih terasa sangat berat. Apalagi berbagai kisah menyedihkan tentang pernikahan membuat gue berpikir ulang.

Bukan cuma tidak mau tersakiti tentunya gue ga mau menyakiti orang yang gue sayang. Masih banyak kekurangan gue yang bisa jadi akan menyakiti dan mengecewakan pasangam gue nanti. So, hingga saat ini hato gje masih 50:50.

50 ingin menjalankan sunah dan meraup pahala.

50 lagi hanya ingin sendiri dan membahagiakan mama.

Meskipun mama akan bilang kebahagiannya adalah melihat gue menikah. Tapi setidaknya sudah hue jalaskan alasan tentang mengapa gue belum menikah hingga saat ini.

Allah Yang Maha Penyayang pasti tahu apa yang terbaik. Gue pun berdoa agar jika gue menikah adalah dengan laki-laki yang bisa bersama membangun keluarga dengan tujuan akherat. Yang bersama punya misi jadi orangtua sesungguhnya.

Gue ga pernah mengharapkan pernikahan dengan pesta mewah. Berdiri dan duduk depan banyak orang. Gue cuma ingin pernikahan sederhana dengan doa dari anak-anak yatim.

Gue tetap berdoa karena itu yang Allah suruh. Meski gue ga tahu mana dulu yang datang. Pernikahan atau kematian. Gue pun selalu berdoa jika kematian dulu yamg datang semoga dengan akhir yamg baik. Karena proses hanyalah sebab dan akhir adalah segalanya.

Begitu pula dengan pernikahan. Awal bisa jadi akhir dari segalanya. Perubahan kebaikankah? Atau semakin menjauhkah?

Tentu setiap doa menginginkan yang terbaik.

Iklan
Brainwashing

Brainwashing

Brainwashing atau cuci otak. Buku yang akhirnya saya temukan di perpusda Metro. Sebelumnya saya sering sekali mendengar kata ini karena murid ABK saya yang selalu bilang saya mencuci otaknya. Apakah sebenrnya cuci otak itu? Berikut adaEmpat aspek penting konsep cuci otak

1. Mempunyai tujuan

2. “Perbedaan kognitif” antara keyakinan yang dimilik korban sebelum dan sesudah cuci otak

3. Rentang waktu terjadinya perubahan keyakinan tersebut

4. Penggunaan cuci otak sebagai “konsep usaha terakhir”

Into Cooking!

Into Cooking!

pyong pyong pyong

belum lama ini gue seneng banget masak.

segala yang ada gue bikin.

mulai dari pecel, tahu isi, sampai kimchi ala ala oppa di sana.

karena kemarin gue sendirian dan kulkas kosong. inisiatiflah gue ke pasar sendirian biar waktu nyokap pulang kulkas udah keisi dan gampang mau nyemal nyemil.

yang kemarin gue buat adalah:

  1. cireng
  2. siomay dan pare
  3. pempek isi papaya

resep cirengnya gampang banget tapi gue ga pernah pake ukuran kalo masak. pake insting wkwkwk.

bahan cireng:

  1. tepung sagu
  2. tepung terigu (sedikit aja dan kalau mau)
  3. garam/penyedap
  4. lada bubuk
  5. daun bawang

tahap:

  1. buat adonan pertama yaitu msukin tepung sagu ya kurang lebih 3-5 sendok dan kasih air sekiranya (wwkwk) masak di atas Teflon (biar ga lengket). sampai seperti lem ya. setelah itu masukan ke adonan 2.
  2. adonan 2, tepung sagu dan sedikit tepung terigu dicampur garam/penyedap, lada bubuk dan daun bawang campurkan rata. tuang adonan 1.
  3. pijit-pijit sampai bercampur. kemudian taruh di wadah. masukan kulkas. goring kalau lapar.

bisa ditambah sama keju dalemnya loh kalo suka.

sebenernya sekarang lagi ngidam banget makan selat solo. tapi berhubung belum kuat beli dagingnya ya sudah nanti aja hehe..

kalau buat pempeknya juga gampang loh.

gue beli papaya parut di pasar 2rb rupiah udah dapet banyak.

nah bahannya:

aah. di halaman selanjutnya aja ya. sekarang segitu dulu. begini nih kalo pemalas yang buat resep. hehe.

bye

Sendiri dan Bersama Mereka.

Sendiri dan Bersama Mereka.

Dua hari tinggal sendiri di rumah ternyata melelahkan. Semua pekerjaan dikerjakan sendirian. Terbayangkan gimana mama selama ini. Pekerjaan yang paling berat memang ibu rumah tangga. sudah tidak digaji, tak ada jam istirahat, belum complain dari orang rumah. Luar biasa! Sebab itu, sampai saat ini saya belum diberikan Allah pekerjaan tersebut. Sampai saat ini hanya menjadi asisten rumah tangga saja.

Berbicara tentang pekerjaan, maka banyak sekali yang menjadi pertimbangan kita. Selain tempat dan gaji, tentunya orang-orang yang bekerja sama dengan kita. Semalam menghabiskan waktu berbincang dengan sahabat yang diawali dari rekan kerja. Kami dulu tidak membangun hubungan dengan cepat, tapi bias bertahan lama.

Dia bilang memang ya, mencari pekerjaan sama seperti mencari rumah. Harus lihat lingkungannya juga. Tapi kemudian, bagaimana jika pada akhirnya lingkunganmu tidak dapat membangunmu? Akhirnya kami memutuskan untuk buat saja batasan. Profesional. Bekerja hanya untuk mencari nafkah dan bersosialisasi seperlunya. Jika diminta bantuan maka bantulah. Jika dibutuhkan maka berilah. Namun, tak perlu kau paksakan untuk lebih dari itu.

Sahabat saya yang satu ini paling tahu bagaimana saya. Bagaimana terbukanya saya, apa saja saya ceritakan pada dia bahkan satu hal yang sangat-sangat penting dalam hidup saya yang bahkan tak satu orang pun tahu. Dia tahu. Pun ketika hati saya terkunci juga dia paling tahu. Tentang saya yang kemudian diam dan memilih pergi untuk tidak menyakiti orang lain atau kemudian disalah artikan sebagai keangkuhan dan sebagainya.

Saya bilang bahwa memang dia (sahabat saya itu) bukan satu-satunya. Kami masih memiliki yang lain. Hanya saja dia satu-satunya yang lebih muda dan terkadang membuat saya belajar lebih banyak. Dia menunjukkan semua emosinya. Tapi dia pandai menahan diri jika dirasa dapat merugikan orang lain yang tidak bersalah (ini yang belum saya miliki).

Sungguh betapa rindunya dengan sahabat saya itu dan sahabat-sahabat lain yang akan mengingatkan kita untuk berbuat lebih baik. bukan hanya tertawa bersama, tetapi juga menangis bersama, berbagi suka duka dan segala kesusahan. Bukan hanya manis di luar tapi menusuk di dalam. Mereka justru menjatuhkanmu dihadapan dirimu dan memujimu ketika kau tak bersama mereka.

Mereka yang mencaci makimu, ketika kau bertingkah berperilaku salah.Mereka yang membetulkanmu ketika kau salah arah. Mereka yang dengan tulus memujimu dikala kau kebaikanmu bertambah. mereka yang percaya pada perkataanmu dikala yang lain menilaimu berbohong dan penuh dusta karena mereka tahu, dirimu.

 

Big hug for everyone there.

 

I believe in me

I believe in me

Harusnya ini yang selalu gue pegang. Kebiasaan buruk gue untuk percaya pada orang, apalagi yang baru gue kenal harus gue buang jauh dan tanpa jejak.

Tuhan kasih gue hati yang cukup pandai untuk menilai. Tapi jarng gue gunakan dengan berbagai macam alasan.

Ah sudahlah. Bukan orang lain yang gue benci. Tapi diri gue sendiri, yang tidak pernah mau mendengar kata hati. Yang terlalu percaya orang akan berubah jika gue selalu mendampingi. Gue lupa bahwa bermuka dua lebih berbahaya daripada beremosi naik turun.

Gue bahkan ga berani berjanji akan mengikuti kata hati karena gue sendiri terkadang pergi dari diri.

Ah sudahlah.. Thanks anyway God.