Siap

Siap

Yang terjadi bukan karena kemauan.

Yang terjadi karena kepantasan.

Kepantasan dalam pandangan Tuhan.

Bukankah kita diminta untuk percaya.

Pada takdir dan rencananya.

Siapkan diri.

Bukan selalu untuk suka dan cita.

Tapi juga duka dan nestapa.

Kenapa harus?

Katanya Tuhan yang urus?

Kehidupan bukan hanya senandung bahagia.

Tapi juga air mata penuh luka.

Untuk apa?

Jadi permainan Tuhan?

Bukan.

Hanya Tuhan sedang menunjukkan jalan apa yang akhirnya kita pilih.

Kusiapkan bekal.

Berjalanku ke barat.

Kutinggalkan semua asa yang tak bermakna.

Kusiapkan diri pada harapan yang belum pasti.

Kuyakinkan bahwa semua terjadi atas kehendak illahi.

Hari ini kutemui.

Bahwa apa yang kuinginkan, kuharapkan, bukanlah yang terbaik.

Untuk apa mengejar matahari jika kau juga butuhkan malam.

Untuk apa berlindung dalam gelap jika sinar membuatmu melihat.

Tuhan siapkan semua.

Apakah kita sudah siapkan pada kenyataan yang ada?

Iklan
Benteng dan Harapan

Benteng dan Harapan

Ada cita-cita besar yang menunggu di belakang sana.

Sesuatu yang menjanjikan kebahagiaan dan ketenangan.

Ada satu penghalang besar tertera.

Menjauh adalah pilihannya.

Mengubur atau melompat bukan hal mudah yang bisa dicoba.

Karena keyakinan dan norma tak selalu sama.

Harga diri menjadi satu-satunya yang dipertaruhkan.

Haruskah melanjutkan atau menghilangkan semua harapan.

Benteng yang tak mau dilalui.

Tangan yang tak mau berusaha meruntuhkan.

Hingga suatu saat. Benteng itu lapuk dimakan usia.

Atau jiwa dan raga ini yang tenggelam bersama harapan.

Diam

Diam

Ada luka yang tak nampak.

Ada yang disembunyikan tapi ingin orang melihat.

Ada kerinduan yang tak mungkin terucapkan.

Semua terasa tenang di balik resahnya angin dan ombak.

Terus menatap jauh dengan kesendirian.

Mendengar tawa riang bocah berlarian bersama butiran pasir panti.

Aku membuang muka. Supaya kau memperhatikanku.

Aku tersenyum. Supaya kau tahu beri senyuman yang dapat sembuhkan lukaku.

Mata beradu tanpa suara.

Hati mulai merasa.

Kembalillah. Kembali ke alam sadarmu. Hidup bukan semata kesenangan dan ketenangan dunia.

Kembalillah. Kembali pada penciptamu. Yang tak pernah berpaling. Yang tak pernah membencimu.

Kembalillah. Karena ketenangan itu ada diantara doa.

Kembalillah.

Dalam diam.

Semangat

Semangat

Malam tadi berbincang dengan sahabat lama. Sementara ini kami hanya berbincang melalui aplikasi. Aku yang tadinya sempat mengeluh dan bersedih, tiba-tiba merasa sangat bersyukur ketika mendapat pesan darinya.

Bagaimana ia kembali bersemangat ketika melihatku berjuang tanpa mengeluh (yang ia amati selama ini). Bagaimana ia belajar bersabar ingin sepertiku ketika banyak hal yang tidak menyenangkan terjadi. Bagaimana ia harus membuat hatinya legowo ketika orang lain mendapat nikmat lebih banyak.

Rasanya aku malu karena apa yang menjadi pemicu semangatnya masih sangat kurang untuk menjadi contoh. Bukan ia yang pantas berterima kasih. Tapi aku, karena bisa kembali bersemangat dan bersabar, dan semoga benar-benar bisa menjadi contoh.

Terima kasih sahabatku.

Terima kasih semangatku.

Menikah

Menikah

Satu per satu teman gue beranjak menikah dan memiliki anak. Perubahan itu belum ada di diri gue. Buat gue pernikahan masih terasa sangat berat. Apalagi berbagai kisah menyedihkan tentang pernikahan membuat gue berpikir ulang.

Bukan cuma tidak mau tersakiti tentunya gue ga mau menyakiti orang yang gue sayang. Masih banyak kekurangan gue yang bisa jadi akan menyakiti dan mengecewakan pasangam gue nanti. So, hingga saat ini hati gue masih 50:50.

50 ingin menjalankan sunah dan meraup pahala.

50 lagi hanya ingin sendiri dan membahagiakan mama.

Meskipun mama akan bilang kebahagiannya adalah melihat gue menikah. Tapi setidaknya sudah gue jalaskan alasan tentang mengapa gue belum menikah hingga saat ini.

Allah Yang Maha Penyayang pasti tahu apa yang terbaik. Gue pun berdoa agar jika gue menikah adalah dengan laki-laki yang bisa bersama membangun keluarga dengan tujuan akhirat. Yang bersama punya misi jadi orangtua sesungguhnya.

Gue ga pernah mengharapkan pernikahan dengan pesta mewah. Berdiri dan duduk depan banyak orang. Gue cuma ingin pernikahan sederhana dengan doa dari anak-anak yatim.

Gue tetap berdoa karena itu yang Allah suruh. Meski gue ga tahu mana dulu yang datang. Pernikahan atau kematian. Gue pun selalu berdoa jika kematian dulu yamg datang semoga dengan akhir yang baik. Karena proses hanyalah sebab dan akhir adalah segalanya.

Begitu pula dengan pernikahan. Awal bisa jadi akhir dari segalanya. Perubahan kebaikankah? Atau semakin menjauhkah?

Tentu setiap doa menginginkan yang terbaik.

Brainwashing

Brainwashing

Brainwashing atau cuci otak. Buku yang akhirnya saya temukan di perpusda Metro. Sebelumnya saya sering sekali mendengar kata ini karena murid ABK saya yang selalu bilang saya mencuci otaknya. Apakah sebenrnya cuci otak itu? Berikut adaEmpat aspek penting konsep cuci otak

1. Mempunyai tujuan

2. “Perbedaan kognitif” antara keyakinan yang dimilik korban sebelum dan sesudah cuci otak

3. Rentang waktu terjadinya perubahan keyakinan tersebut

4. Penggunaan cuci otak sebagai “konsep usaha terakhir”