Kunjungan Konsultan ABA ke TK ABA

Kunjungan Konsultan ABA ke TK ABA

Ya Allah.. Permudahlah jangan dipersulit. Jadikanlah akhir yang baik. Aamiin.

Hampir sebulan ini memendam rasa. Rasa gelisah di jiwa (eeaa kayak lagu). Ada penurunan yang tak kasat mata, tapi perlahan menjadi wujud nyata.

Udah lama sih gelisah kalau stimming dan babbling Ai masih terpelihara. Berkali-kali melakukan interview dan meeting. Hasilnya adalah makanan dan diet2 lainnya yang belum terpenuhi.. Mungkin bibir bisa berkata iyyaa, atau data bisa dimanipulasi di atas selwmbar kertas saja. Tapi perilaku, akan selalu tampak.

Apalah dayaku yang hanya seorang terapis. Tidak bisa sembarangan bicara tanpa bukti dan kesaksian tersangka. (Aiih aaiihh). Intinya, memang ABA bisa berhasil tanpa diet san BIT karena prof Lovaas pun dulu tak ada diet apalagi BIT.

TETAPI. Pondasi ABA yang terbangun akan mudah goyah, jika digerogoti hama-hama pengganggu. Racun-racun tak tahu malu.

Seperti kau tahu. . Aku selalu mencoba mencari padanan kata yang baik. Karena kata dalam tulisan bisa berbeda nada dengan apa yang diucapkan.

Tuhan.. Yang Maha Kuasa. Engkaulah yang membolak balikkan hati manusia. Seperti hati kami semua saat ini. Tujuan kami hanya ingin menjadi bagian dari perjalan kehidupan anak yang Kau pilihkan lahir ke dunia.

ABA bukan satu-satunya jalan kesembuhan. Tapi saat ini, jalab yang terbaik yang bisa kupilih… ABA bukan pula satu-satunya sekolahan (ABA lain pun sempat menolak kami). Tapi ABA 04 ini diisi oleh insan-insan mulia.. Yang memberi kami (terapis) kekuatan. Mereka bagai ibu kami sendiri. Nasihatnya, hati yang lapang. Semua bahkan kami rasakan di hati ini.

“Anak itu titipan Allah. Kita dikasih amanah untuk membantu. Membantu mendidik. Bahkan ada pepatah -lebih baik diseret ke surga daripada dengan sukarela ke neraka.. Sabar yaa” ucapnya.

Terima kasih Ibu Sri. Dalam hati kami, sempat ingin menyerah… Ada ketakutan, apakah kami bisa menjadi jalan kesembuhannya. Kami kembali yakin, bahw Allah.. Akan selalu memberi jalan. Harapan akan selalu ada..

“Ya allah.. Berilah kesembuhan kepada Aira. Kesembuhan yang tidak meninggalkan bekas. Aamiin” kaimat itu selalu mengalir dari mulut mungilnya.. Kami pun mengamini.

Kabulkanlah doa kami Ya Allah. Aamiin.

Ujian

Ujian

Dua minggu lagi ujian bakal digelar. Rasanya gue udah ga mau ikut ujian lagi. Iya sih secara memang beda cara belajar dokter sama gue. Beda satu titik dan koma pun lo bisa bikin orang mati. Itu kata eyang dokter. Beda sama gue yang basicnya sosial dan lemah secara hapalan. Gue ga pernah peduliin kata dan kalimat yang sama persis. Bahkan dulu dosen psikologi umum gue ga terima kalo kata-kata ujian kita di kertas sama persis dengan di buku karena dianggap mencontek.

Dan takdir gue sekarang beda. Gue harus kerja sama dokter yang menurut gue banyak ga cocoknya sama gue. Doi pinter gue enggak. Doi soleh gue belum solehah. Doi tua gue lumayan muda. Doi tegas dan keras gue bebal dan konsisten sama pendapat gue yang menurut doi seribgkali salah.

ntahlah rasanya otak gue udah males. Nolak duluan. Begitulah kira-kira. Untungnya gue ga nangis sih 2 kali ga lulus. Cuma kesel aja sama diri sendiri termasuk sama doi sebenernya. Tapi yaa.. Namanya juga kerja sama orang. Ya aturan beliau-beliaulah yang berlaku.

Di sisi lain, gue bersyukur karena emang kerjaan inilah yang gue mau. Semoga aja gue ikhlas dan bawa usaha gue ini jadi timbangan di akherat. Dimanapun kerja ga akan ada 100% sempurna dan enak-enak aja. Semuanya jadi berasa lebih mudah kalau kita menyukai apa yang kita kerjakan. Yup betul banget. Passion itu emang kunci untuk bertahan. Termasuj di saat badai.

Banyak sih yang nangis karena ga lulus. Pinginnya gitu, ikutan nangis kenceng. Tapi sayang banget. Dosa gue yang bejibun aja ga gue tangisin. Malu sih ga lulus ujian. Yah, mu gimana lagi hanya orang-orang kuat mental (lemah hapalan) yang ga lulus. hahahaa.. good luck