Sebelum malam terpejam

Yang kemungkinan besar terjadi. Berjalan terseok namun diam tak berpendar. Lantas, seperti apa? Layaknya lili yang jatuh hati pada rembulan, yang kemudian meringkuk dari sinar aldebaran.

wah wah waah. Mungkin kau terlalu runyam dalam menyulam. Iya ruam-ruam datang dan tak kunjung hilang. Lalu, aku harus apa? Tak beranjak? Maju? Atau menunggu waktu hingga luka semakin kupahat berjenjang.

Seperti syair basejam. Aku bukan pujangga yang pandai merangkai kata. Tapi hati tak berdusta. Aku mencintai seni dan struktur dalam satu wajah yang sama. Pada bingkai yang coba menempatkan keduanya dalam dimensi serupa.

aiih aiih.. Mau apalagi. Padahal semua sudah jelas tak mungkin terjadi. Mengisi ruang kosong? Sebegitu pentingkah? Aah terlalu egois. Langit mulai berdendang. Malam sebentar lagi terpejam. Tapi otakku masih saja memetakan. Di sana? Di sini? Ehm mungkin sedikit ke ehm.. Barat.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s