Mama

Yang buat gue nangis malam ini adalah karena lemahnya gue sebagai anak. Lemahnya gue dalam menahan ego untuk tidak menyukai orang yang menyakiti gue dan mama gue.

Mama gue bilang. De, inget perjuangannya yang dulu. Semua yang harus gue inget adalah kebaikan dia yang dulu. Dulu. Tapi, gue ga boleh inget apa yang udah dia lakuin ke mama gue. Ke saudara-saudara gue.

Adil sekali ya. Kalau pun dia marah selalu aja semua yang di masa lalu diungkit. Lalu darimana gue harus belajar mengingat kebaikan aja. Kalau dia sendiri mengungkit segala sesuatu kesalahan orang lain di masa lalu.

Lebih mengherankan. Tak pernah sekali pun! Instropeksi! Gue sedih karena gue merasa belom bisa menyelamatkan mama. Gue sedih karena gue merasa dalam dilema. Gue pulang untuk mama. Kalaupun gue harus pergi, itu karena mama yang minta. Bukan orang lain! Gue coba untuk tahan walau hati gue bergejolak.

Gue tanya ke mama. Mama maunya apa dari aku? Kalau memang aku harus pergi supaya dia bisa damai aku pergi. Gue sedih waktu mama bilang. Mama seneng ada kamu, ada temen. Mama cuma mau kamu minta maaf. LAGI?? Dari gue belom baliqh, sampai gue dewasa? Harus gue yang minta maaf? Kata mama walau kamu ga salah. Ga ada salahnya kamu minta maaf de. Kalau kamu sayang mama, kamu minta maaf.

Bukannya gue ga sayang mama. Tapi, besar dan semakin besar egonya. Ingin dihormati tidak pernah salah. Bahkan makin berasa paling benar dengan gue meminta maaf. Itulah sebab gue urung niat.

Sekali lagi, bukannya gue ga sayang mama. Rasa sakit gue karena belum bisa menyelamatkan mama yang buat gue begini. Waktu mama bilang, memang kamu mau kemana? Gue bisa kemanapun. Alhamdulillah dibeberapa kota ada orang yang menanti gue. Kalau bukan gue inget tujuan gue pulang adalah nemenin mama.

Gue muak dengan banyak hal. Dengan omong kosong dan kesombongan. Yang tanpa dia sadari sengaja gue refleksikan dengan perilaku gue. Dan dia marah! Lucu. Seharusnya gue memang beli kaca yang besar supaya dia lihat wajah sendiri dulu di cermin!

Mama bilang kamu sama kerasnya. Sekedar informasi. Saya SENGAJA bersikap demikian. Terkadang beberapa orang harus benar-benar disakiti untuk tahu betapa orang lain tersakiti karena perilakunya.

Gue cuma berharap, gue bisa selametin mama dinia akherat. Gue ga butuh yang lain. Mama masih perlu banyak bimbingan. Mama akan sesat jika bersama orang sesat. Mama akan rusak jika bersama orang rusak. Gue ga mau itu.

Untuk yang lain gue ga mau ambil pusing. Jika mau berubah sudah ada banyak waktu. Jika mau tetap sama. Iti pilihan. Tapi jangan bawa orang lain dalam neraka dan kehinaan lainnya.

Gue selalu dengar kata. Sudah berbah ko dek. Apanya? Fisiknya yang jadi lemah? Jadi ga bisa lagi nendang, lempar barang, dorong kepala, lempar pisau, caci maki karena nafas udah pendek? Apa? Apa yang.berubah? Tidak ada satupun data yang mendukung.

Mama memang luar biasa. Bertahan pada orang yang banyak menyakiti. Banyak membuat dia menangis. Di depan mata gue! Dan gue harus tahan emosi karena pertengkaran terakhir sama dia hampir buat dia pingsan. Gie ga mau mama sedih lagi karena gue ngelawan. Meski hati ini sudah terbakar.

Harapan gue cuma bisa bersama mama sampai waktu habis. Mendampingi mama. Pertanyaan besar buat gue? Kenapa harus bertahan pada orang yang selalu membuat kita terluka?

Mama setidaknya aku bisa sedikit menghapus lukamu. Bukan menambah lukamu. Maafkan aku belum bisa memenuhi permintaanmu untuk meminta maaf padanya.

Mama semoga kita selalu bersama dunia dan akherat. Di surga yang Tuhan janjikan.

Love you,

Your 3rd daughter.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s