AYAH – Andrea Hirata

IMG_4699[1]

Beli tanggal 12 Agustus baru selesai dibaca sekarang 8 Oktober. Memang ga ada kata terlambat untuk membaca. Tapi, kalau saja bacanya lebih cepat maka akan lebih merasakan ketulusan dari seorang Sabari. Indah.. Seperti namanya, meskipun hingga akhir hayat, Sabari tak luput dari kesucian cintanya pada Marlena. Sabari juga mengajarkan, tak ada manusia yang sempurna. Terlebih menjadi orang tua. Tapi, setiap orang bisa mencapai kemuliaan dengan memberikan kasih sayang yang terbaik bagi orang-orang yang dicintainya..

Ah… Sudahlah. Tawa dan airmata yang mengiringi setiap lembarnya begitu terbayarkan. Baru saja lembar terakhir ditutup namun kerinduan membaca kembali dari awal sudah menggerogoti hati. Betapa bahagianya Sabari mendapatkan sahabat seperti Tamat dan Ukun. Persahabatan itu bukan hanya berbagi tawa, tapi juga hinaan dan airmata.

Tamat mengatakan  bahwa esok mereka akan ke Sumatra mencari Lena dan Zorro. Jika berjumpa mereka akan membujuknya agar pulang ke Belitong. Sabari tak berkata-kata.

“Karena itu, Boi,” kata Ukun, “tolong jangan gila dulu. Biarlah kami mencari Lena dan Zorro dulu. Klau kami gagal, silakan nanti kau mau menjadi gila, tak ada keberatan dariku dan Tamat sebagai kawan-kawanmu. Untuk sementara ini tahan dulu”

Ayah- page 299.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s