Ketulusan dan Kematian

Benar juga ketika orang bilang. Hari kematianmu adalah hari dimana semua orang mencintaimu. Mengingat semua ketulusanmu..

Ini bukan tentang ras, suku, agama, atau warna kulit. Semua orang bis merasakan ketulusan dan kejujuran. Kebaikan itu menular. Ketulusan itu endemik. Seperti kehangatan yang diberikan matahari. Jauh. Tak mungkin berdekatan tapi merasakan.

Pernahkah kau merasakan kehilangan ketulusan? Atau kehilangan kebaiakan? Lebih mengenaskan jika kita merasakannya karena jasad yang juga hilang bersama pekerti. Aku selalu bersyukur bahwa Tuhan menganugrahkanku kehidupan ini. Ya setidaknya untuk beberapa tahun terakhir. Ini adalah kehidupan yang menyenangkan. Setiap saat aku merasakan syukurku tidak pernah sempurna dan tak akan mampu membayarnya.

Kebaikan dan ketulusan seorang perempuan lanjut usia.

Mama..

Malam ini kembali terbayang bagaimana aku akan berpisah dengannya suatu saat. Berpisah untuk selamanya. Membayangkan saja aku belum mampu. Banyak hutangku padanya. Yang tak mungkin aku bayar lunas di dunia.. Masih belum mampu aku membahagiakanny..

Bahkan aku masih menjadi bagian utama dari doanya. Katanya

“mama mah lagi fokus doain kamu. Karena yang lainnya udah hidup bahagia sama keluarga masing-masing”.

Sanggupkah aku. Diantara ketakutan Terbesarku?

Dialah yang paling semupurna diantara semua manusia dalam menerima kekuranganku. Dialah yang mencoba memberikan terbaik untukku. Diapah yang bersedia malu karena ulahku. Dia pula yang berkata bahwa Tuhan tidak akan memberikan manusia cobaan melebihi kemampuannya.

Maafkan aku jika aku tidak bisa menjadi anak yang sempurna. Membuatmu menangis tengah malam. Mengganggu tidurmu dengan penyakitku. Maafkan aku belum bisa menjadi sandaran di usia senjamu. Menjadi bahu tempat bersandar dan penyejuk dikala gersang.

Diantara kecewamu kepadaku. Ada doa tulus yang kau panjatkan pada Tuhan. Doa yang berulang kali kau katakan. Doa yang benar-benar kau inginkan. Katamu “jangan sampai anak mama seperti mama. Cukup mama aja dek”. Aku selalu mencoba untuk tersenyum dan berbahagia. Karena mereka bilang itu adalah cara supaya engkau berbahagia. Supaya tercipta persona aku baik-baik saja.

aku tahu kau mencoba membayar kesalahanmu dahulu dengan lebih baik sekarang. Bagaimana kau bercerita “kalau keluar rumah sekarang pake kerudung terus” aku tahu betapa engkau bisa berharap ke tanah suci. Rindu menangis di rumah yang diberkati. Aku tahu bahwa kau ingin menjadi lebih baik. Aku bahkan tak mampu bereaksi. Aku hanya terdiam dimana seharusnya pujian yang kulontarkan..

Terlalu rumit pikiranku. Terlalu abstrak bayanganku untu membahagiakanmu. Terlalu takut aku kehilangan ketulusanmu. Pengorbananmu. Aku tak punya amunisi jika suatu saat Tuhan bertanya “apa yang kau lakukan padanya? Hingga ibumu terus menangisimu sepanjang malam?” “Apa yang kau lakukan hingga ibumu terus bekerja di usia senjanya?” Tidak ada. Aku tidak punya jawaban apa-apa. Mama..

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s