Akukah?

Orang-orang terdekatku selalu bilang bahwa aku harus mengasah “kemampuan” itu. Kemampuan apa? Toh aku pun pernah salah dalam menebak/memprediksi. Jika sekarang “tebakanku” makin jitu itu pastilah karena pengamatan yang lebih lama. Yah atau karena setan yang membisikkan dan membuat diriku merasa tahu sehalanya. Subhanallah. Tapi mengkhawatirkan satu hal. Yang aku tak tahu cukuplah waktuku untuk mewujudkannya.

Membahagiakan mama sebelum salah satu dari kami pergi. Iya kau tahu lah, rasa itu. Rasa menggebu yang seakan terdorong ombak begitu besar. Bahwa aku harus dan mampu. Sering aku mengeluh lelah. Bertanya, mungkinkah? Atau sekedar berpikir, iya mungkin.

jiwa yang pecah itu kembali kusatukan. Bukan pada bentuk dan kesempurnaan awal dia diciptakan. Tapi menjadi mozaik yang memancarkan keindahan. Ya, mereka tak menyadarinya. Bahwa mozaik jiwa baru itu kumpulan dari pecahan kebencian kemarahan, kesedihan, keputusasaan. Mereka menjadi sempurna dan terlihat menarik karena ada kasih sayang yang merekatkan. Menyatukan pecahan-pecahan itu kembali.

Aku pernah memperkirakan waktu kepergiannya, ya terbukti dia sekarang pergi. Tuhan yang memanggilnya. Apakah perkiraanku tentang waktu bagi yang lain sama? Seperti ketika mereka berkata. “How do tou know?” I don’t really know. Karena aku memang bukan dukun atau ahli logi tentang ini. Aku hanya mengatakan apa yang aku rasakan.

Seperti itu. Aku kembali berpikir cukupkah waktuku. Membahagiakan mereka. mengabulkan doa mereka? Cukupkah waktuku. Diantara firasat yang abu-abu. Sekali lagi ini mungkin hanya rambu-rambu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s