Is she okay?

Sepertinya bukan hal yang istimewa ketika anak sulit untuk membersihkan diri, atau ketika anak enggan untuk pergi ke sekolah.  Menumpahkan isi hati melalui gambar dan berisi rasa rendah diri, tidak dicintai yang amat sangat. merasa tidak  memiliki teman, dll. Menganggap teman khayalan dan ipad adalah yang lebih mengerti. Umumnya orang akan berpendapat

“aahh anaknya aja itu yang susah diatur”

“anaknya lebay”

“biarin aja ntar juga baikan sendiri”.

Benarkah demikian, kenapa hal ini sangat mengganggu saya? dua puluh tahun lalu saya pun termasuk anak yang demikian. Saya mencoba untuk memahami dari sudut pandang anak. Bukan berarti, jika ia mampu berinteraksi dengan normal, tersenyum, mampu mengutarakan apa yang dirasakan sekali waktu dia akan baik-baik saja. Jauh di sana dia butuh “pertolongan”. Pertolongan yang terlambat didapat untuk mengatasi perasaan rendah diri anak akan menghambat batas kemampuan anak dalam mengeksplorasi kehidupannya.

Apakah mereka harus menunggu hingga dewasa untuk menemukan “dirinya” dan berbahagia? Sayang sekali, jangan sampai mereka melewatkan masa kecilnya hanya dengan diisi oleh pikiran-pikiran negatif tersebut. Saya pribadi, harus mengambil jurusan psikologi untuk mempelajari diri saya sendiri. Label yang diberikan pada saya saat saya kecil harus dihapuskan perlahan. Saya tidak dapat mengingat masa lalu saya seperti teman-teman yang lain. Mengapa? karena saya tidak menikmati masa kecil saya. Pikiran negatif selalu menggelayuti. “kenapa begini?” “kenapa aku berbeda?” “kenapa ga ada yang sayang aku?” dan lain-lain.

Trust me. They need help. Jauh dalam diri mereka, mereka sadar ada yang salah. Tapi usia yang begitu belia, belum  mampu membuat mereka untuk bersikap dan mencari solusi.

MEREKA GA LEBAY.

Mereka kebingungan. Di saat lingkungan menuntut untuk kita menjadi anak yang terbaik, berprestasi, namun saat yang sama tidak ada tujuan dalam diri mereka. tentu semuanya terasa kompleks. What should i do? Aku ingin menjadi anak yang baik anak yang dicintai (walaupun orang-orang memang mencintainya). Hanya itu yang ada dipikiran mereka. Seriously, she needs help. She isn’t okay. Terutama bagi anak kelas 5 SD yang merasa kehilangan masa anak-anaknya. Memang menstruasi adaah tanda seseorang beranjak menjadi remaja yang suda harus bertanggung jawab. Tapi, apakah itu berarti mereka harus selalu berperilaku manis, mengerti segala situasi? Mereka tetap perlu bimbingan dan bukannya solusi sementara. Contohnya, memberikan apa yang dia suka, menempatkan dia di tempat yang “asalkan dia senang dan bahagia”. Karena kebahagiaan bukanlah berdasarkan apa dan dimana tapi hakikatnya sesuatu yang berasal dari dalam diri. Jika demikian, saya menyebutnya kebahagiaan semu. Yang ketika diambil ataupun dijauhkan kebahagiaan juga pergi bersamanya.

Tentu kita tidak mengharapkan hal itu terjadi pada anak-anak kita.

Memang saya belum memiliki anak, tapi saya pernah menjadi anak dan sekarang mampu berfikir secara dewasa. Saya menyukai dunia anak dan ingin menjadi bahwa tidak ada lagi anak-anak yang merasa tidak berharga dan disayangi. Berulang kali saya berpikir, jika dulu saya mendapat pertolongan lebih awal (bukan ketika saya beranjak dewasa) tentu saya dapat meraih lebih dari apa yang bisa saya dapat. Banyak potensi yang akhirnya terpendam. Sayang sekali. Hal ini tentu dipengaruhi kondisi masa kecil, orang tua, pola asuh, dll.

Saya pun percaya bahwa setiap orang tua menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Saya percaya. Tapi, sudahkah kita orang tua mampu menjadi orang tua yang terbaik untuk anak kita?

Ya pendidikan menjadi orang tualah yang mahal dan berkelas. Semua pekerjaan dibayar sesuai dengan kebijakan perusahaan tempat mereka bekerja. Semakin berprestasi maka semakin mahal bayaannya. Mendapatkan waktu cuti, tunjangan, kenaikan pangkat dsb. Semua rumus itu kita dapat dari pendidikan formal. OK, let’s say, it’s profesional. Sekali lagi mampukah kita menjadi orangtua yang profesional? yang kita tahu tanggung jawab kita langsung pada Allah, bayaran  pahala dari Allah, waktu cuti dari siksa api neraka jika kita mampu mendidik mereka dengan baik. Menjadikan mereka anak dengan karakter mulia. Tunjangan rumah di surga dll.

Masya allah. Sekecil apapun masalah yang ada pada diri anak kita. Sudah seharusnya kita di sana. Menjadi orang yang pertama mengetahuinya. Masalah ini harus diselesaikan bukan “aah nanti dia juga baik-baik aja”.

*ya rabb jika Engkau izinkan aku untuk menjadi ibu suatu saat. Bantu aku menjadi Ibu yang bisa mengenalkan anak-anakku padaMu. aamiin*

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s