Rahim yang Tak Pernah Terluka

Mah.. Selamat hari ibu. Seperti anak pada umumnya tentu doa dan kebanggan mempunyai ibu yang luar biasa. Malaikat yang Tuhan turunkan untuk menjaga. Sebuah amanat yang tak lekang oleh masa.

Mah luar biasa pekerjaanmu. Tidak hanya sekedar ibu. Tapi juga, tulang belakang keluarga. Aku ingat ketika kau harus bekerja di dua tempat. Bahkan, tak ada waktu untuk istirahat. Pagi, di sebuah klinik di Rumah Sakit. Malam, di sebuah rumah bersalin. Hmm.. Engkau melakukan itu demi keluargamu.

Mah, mungkin engkau tak tahu bahwa diantara waktu-waktu itu aku sangat rindu padamu. Tidak untuk berbagi cerita, namun hanya sekedar tidur bersama. Memeluk lenganmu, seperti yang aku biasa lakukan dulu.

Mah, mungkin kau anggap aku anak yang cengeng. Mudah sekali menangis jika kau tinggal pergi. Sungguh mah, aku dulu hanya merasa aman jika kau ada disampingku. Kau mungkin bilang aku anak yang manja karena tidak bisa pergi jika tidak bersama. Tapi mah, aku hanya takut tak dapat menghabiskan waktu terakhir bersamamu. Tapi itu dulu mah, sekarang aku yang memilih pergi. Bukannya aku tak ingin bersamamu. Aku hanya perlu belajar untuk tidak membebanimu lagi.

Aku tak percaya betapa besarnya hati yang terbalut tubuh yang mungil itu. Seperti rahim yang terus membesar demi memberiku tempat untuk berkembang.

Mah, maafkan aku jika aku telah berulang kali menyakitimu. Sesaat aku merasa begitu terhimpit, hingga aku melakukan sesuatu yang berlebihan. Sesuatu yang membuat rasa sakit semakin dalam. Maaf mah, bukannya aku tak paham bahwa engkau mencintaiku. Lebih dari itu, jiwamu pun pernah kau lelang untuk hidupku. Nyawamu pernah kau gantung untuk nyawaku. Seperti ceritamu. Sebelas botol infus yang menjadi harapan hidupku dalam rahimmu.

Mungkin benar, aku sudah sangat merepotkan sejak dalam kandugan. Tak seperti yang lainnya. Atau aku terlahir dalam keadaan yang sulit sehingga hatiku pun menjadi sempit. Seperti ceritamu kepadaku tentang masa lalu.

Hanya satu kemarahanku pada diriku hingga saat itu. Melihat airmatamu jatuh, tanpa aku bisa melakukan sesuatu untuk menghentikannya. Aku benar-benar tak mampu. Meski hati tak mungkin diam membisu. Mah, diantara beberapa kebodohanmu. Kau tetap mencoba sempurna. Diantara cobaan yang tiada jeda. Kau anggap itu hanya petikan cerita.

Aku tahu, kau sangat ingin membaca ayat Tuhan. Meski semuanya terasa sama dan membingungkan. Kau hapal satu firmanNya bahwa Tuhan tidak akan memberikan cobaan yang tak mampu dipikul hambaNya. Pilihan itu, pilihan bertahan pada cobaanNya, masih bisa kau ubahkan? Tuhan sediakan banyak pilihan. Sekali lagi, kau pilih menyempurnakan pilihanmu.

Entah aku harus berdoa apa pada Tuhan. Doaku tentu tak berharga jika dibandingkan pengorbanan dan doamu. Mah, airmata itu. Dapatkah aku yang mengusapnya? Mengubahnya menjadi senyum kebahagiaan. Bukan senyum palsu yang selama ini membingkai.

Aku ingat pembicaraan kita. Bahwa akulah bebanmu yang terakhir. Doa yang tulus kau panjatkan. Untuk menghadirkan seorang pelindung yang penuh kasih, yang tak mungkin menyakitiku. Karena kau tak mau melihat luka dan airmata itu pindah padaku.

Mah, aku tak akan berpura-pura menganggapmu mahluk sempurna. Namun dalam kerapuhan itu. Kau tetap menjadi cawan yang menghilangkan dahaga.

Mah, kau ajarkan kami untuk terus mengasihi walau hati tak tertahan perih. Kau ajarkan untuk setia pada pilihan. Walau seringkali hal itu menyakitkan. Karena komitmen bukanlah permainan.

Dapatkah aku memberikan apa yang kau pinta? Menyempurnakan apa yang telah kau berikan? Menjawab doamu yang masih tertunda, tanpa ada lagi pesakitan?

Andai aku pergi duluan, tentu aku tak merasakan sakit kau tinggalkan. Andai kau pergi duluan, pintamu, Mandikan aku dan sholatkan aku anakku. Tak mampu aku bayangkan mengusap badan yang mulai renta. Diantara doa dan keikhlasan. Tak mampu aku bayangkan, pulang ke kampung halaman tanpa melihat lagi sebuah senyuman. Meski semua itu bisa mengakhiri penderitaanmu.

Dapatkah aku menjadi perempuan sepertimu? Yang percaya bahwa harapan selalu ada. Bahwa ada hikmah dari setiap masa. Bahwa kesalahan tak kekal adanya.

Dengan terbata kau doakan kami menjadi anak yang berbakti. Yang berbahagia pada kehidupannya sendiri. Karena katamu, Kebahagiaanmu tentulah kebahagiaan ibu.

Pada rahimmu aku terlindungi. Berkembang meski terkadang menyakiti. Pada rahimmu sembilan bulan aku terlelap. Kau tunggu, kau usap.

Mah, aku akui dulu aku membencimu. Bahkan berharap engkau bukanlah ibuku. Sungguh durhaka aku. Sebagaimana aku tak bisa memilih ibu. Engkau pun tak bisa memilih seperti apa anakmu.

Demi masa yang kita lalui bersama. Aku panjatkan doa semoga Tuhan gantikan sakitmu dengan surga. Sakit yang tak pernah kau ungkapkan, kau rasakan. Karena hal itu kau haramkan.  Sakit yang kadang ingin aku rasakan. Tapi, tak akan pernah kau relakan.

Mah, kerinduanku. Kau ciumi lagi wajah ini sambil kau ucapkan kasih dan doa pada illahi. Mah, sungguh. Jika surga hanya menawarkan satu tempat antara aku dan dirimu. Tentulah tempat itu layak untukmu. Bahkan tak akan cukup untuk membayar pengorbanan seorang ibu.

Tuhan, pada malam yang penuh keindahan cinta untuk mahluk bernama mama. Aku mohonkan, ampunilah dia, izinkan semua niat baik itu kau simpan demi timbangan yang memberatkan di sisiMu nanti. Tahun ini, aku tak sampaikan kata mesra selamat hari ibu seperti tahun sebelumnya. Karena aku terlalu malu. Banyak sekali permintaanmu yang belum bisa aku kabulkan.

Tuhan, cukupkanlah waktu untuk itu. Untuk semua doa yang sudah diucapkan. Jagalah malaikatmu, yang hatinya seluas rahimnya. Selalu memberikan tempat yang hangat untuk buah hatinya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s