Satu

Cahaya di atas cahaya, bolehkah aku bertanya?

Benarkah jalanku? Seperti aku berdoa pada waktu-waktu sebelum itu.

Sederhana saja inginku. Bahagia dalam kebahagiaan sesama. Menjadi kehidupan bagi hidup mereka.

Cahaya di atas cahaya.

Tentu semua Engkau yang campur tangan. Meski malaikat yang menjalankan.

Seperti inikah akhirnya? Hanya kedamaian dan kesederhanaan. Menjadi pengingat bagi yang ingin mengingat?

Sanggupkah aku kelak jika ada sesuatu yang menjatuhkanku?  Meski aku tahu Kau akan selalu ada untuk membantu.

Yang Maha Mulia di atas kemuliaan lainnya.

Jika aku berkata tidak. Aku takut bahwa inilah yang terbaik. Teringat kisah si fulan dan padang bunga. Hingga akhirnya dia kembali tanpa apa-apa.

Ya Cahaya. Jiwa ini selalu haus pada kepastian dan kemudahan.

Meskipun paham surga tak semudah itu untuk didapatkan.

Engkau pasti mengerti. Aku tak ingin lagi salah melangkah. Karena tanpa sadar aku mulai lelah. Lelah dengan segala tuntutan. Dengan harapan mereka yang begitu besar.

Sedangkan Kau tahu, Jika aku mencarimMu dalam setiap upayaku.

Apakah diantara gempuran ekspektasi dunia aku mampu merajut harapan hidup di sana?

Mungkin kerinduan hidup dalam kedamaianMu belum dapat terbayarkan, hingga nanti saat Engkau berkata aku sudah mampu untuk bertangung jawab dan kembali.

Hanya Satu yang tahu tentang apa yang tersembunyi.

Tentang kegamangan diantara kepastian.

Tentang kerancuan dalam harapan.

Tentang doa yang terjawab namun kembali diragukan.

Yang Satu. Bolehkah aku mengadu? Dengan segala keterbatasan pikiran dan analisa. Pada ranah yang tak mungkin bisa kujamah. Aku tak ingin lagi salah mengartikan. Antara takdir dan ketidakberdayaan.

Mungkinkah aku membuka mata pada saat yang tepat? Saat seperti bintang jatuh membawa ksatria. Yang mengira ia telah benar-benar menemukan pencarian. Tapi ini bukan tentang putri. Ini tentang hal yang lebih hakiki.

Yang Satu. Seperti yang Engkau tahu. Aku hidup dalam doa mereka. Ketakutan terbesarku adalah mengkhianati doa mereka yang Kau kabulkan. Karena kecondongan hati pada fatamorgana. Kau tahukan? Aku telah terjun dan memasrahkannya padaMu.

Karena tidak seperti sebelumnya, ketika itu aku merasa begitu bahagia. Tapi, seperti janjiku. Aku mencoba untuk mencerna lagi semuanya. Hingga pikiranku kembali menjadi pikiran Satu. Pikiran sang pemilik waktu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s