Supernova

Fey.. Taukan, hari minggu kemarin aku datang ke bioskop tanpa ada bayangan nonton apa. Diantara yang ada, ntah kenapa pilihan jatuh padaimage

SUPERNOVA

Sebenernya ngerti ga ngerti. Tadinya mau ilangin stress eh malah tambah stress. Apalagi di akhir-akhir film. Aadduuh apa maunya sutradara. Langsung kepala nyut-nyutan πŸ’†

Tapi, Tuhan punya tujuan kenapa akhirnya aku pilih film itu ya Fey. Ferre, aku ibaratkan diriku. Sedang Diva adalah dirimu. Aahh kita ga beda jauh Fey dengan mereka (ya setidaknya, itu yang menjadi harapanku). Bedanya Ferre benar-benar kereeen. Eksekutif muda. Tapi kami sama, mencintai yang seharusnya tidak kami cintai. Dimana kedamaian dan kebahagiaan yang diharapkan akan selalau datang bersama kekacauan. Chaos. Sesuatu yang tidak mungkin bisa kita hindari. Sesuatu yang terlalu beresiko tapi harus hadir dalam diri ini.

Kesadaran Ferre adalah ketika jatuh dalam cintanya. Ketika mempertanyakan kebahagiaan dan keadilan. Seperti aku Fey. Tidak akan ada yang bisa menjawabnya, kecuali diriku sendiri. Seperti batu karang. Menjadi penghancur kapal atau penyelamat nelayan dari lelahnya deburan ombak.

Equilibrium yang aku agungkan. Bukan hal yang mudah untuk diciptakan dan dipertahankan. Bukankah keseimbangan itu akan ada karena ketidakseimbangan. Menarik fey, ketika Supernova meminta kita untuk terlepas dari pandangan hitam dan putih. Bahwa gelstalt. Itu juga penting. Namun, norma dan agama yang kupercaya akan tetap menjadi aturan yang kupertahankan. Yap. Seperti Rana yang setia pada Aswin. Meski, rasa cinta Sang putri pada Sang Ksatria tidak akan mudah dilupakan begitu saja.

Bukankah manusia punya pilihan. Dan tetap bisa bahagia dalam pilihan yang Tuhan pilihkan. Seperti rasa yang begitu dalam saat ini. Tapi, cinta Tuhan terlalu suci dan tulus untuk ku khianati. Untuk berpaling mencari cinta yang juga kehilangan arahnya. Tentu kau paham yang kumaksudkan kan Fey?

Oya, diakhir cerita aku cukup kagum pada sosok Aswin yang rela melepas Rana pergi. Meski akhirnya cinta itu lebih untuk dirinya sendiri. Atau Rana yang masih terjebak namun untuk sementara memilih pilihan yang cukup meenangkan gelombang. Ntah kenapa, diantara mereka ada sosok Diva yang menggambarkan “kebebasan” sesungguhnya. Dimana diantara setiap hitam akan ada putih yang lebih terang dan menerangi. Yang memberi petunjuk pada setiap hati yang tersesat. Dengan harga yang cukup mahal dan hina bagi sebagian orang. Mungkin diriku diantaranya.

Visualisasi yang indah juga memanjakan mataku Fey, seakan aku terhanyut dalam rasa yang dimiliki oleh Ferre. Bedanya Avatar itu menjadi sosok visual. Diva. Sedangkan Fey? Masih menjadi bagian dari diriku ya πŸ˜…

Ah sudahlah, aku mencoba belajar mengemas apa yang ada di kepala menjadi lebih baik nantinya. Bahwa sesempurna apapun tampilannya, setiap orang memiliki celah untuk rapuh dan tenggelam dalam imaji yang ia citpakan. Pada keindahan yang semu. Kebahagiaan palsu.

Aku? Masih mencoba memendam rasa ini. Sebelum tertarik jatuh pada jurang harapan dan kekecewaan yang lebih dalam.

Aku? Masih punya keyakinan bahwa tidak akan ada yang bisa menggantikan peran Tuhan. Tuhanku. Allah. Dan masih berdoa pada pusaran kasihNya. Pada Satu cahaya diantara banyak lubang hitam. Karena aku tak ingin menjadi aurora atau bintang terang yang menyesatkan. Aku hanya setitik debu diantara rotasi bimasakti. Yang mencoba untuk yakin dimana akan kubuka mataku nanti. Karena keyakinan hati yang tak terperi.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s