Guru Nasibmu Selalu

Memasuki akhir tahun, biasanya akan selalu diramaikan oleh demo kenaikan upah. Yah, memang apalaggi Indonesia lagi asyik mengalami kenaikan BBM, yang katanya hanya 2ribu rupiah, tapi dampaknya mulai kita rasakan. Mulai dari kenaikan biaya tansportasi, naik harga kebutuhan pokok, dan lain-lain. Banyak pekerja yang akhirnya mencoba membela kepentingan mereka dengan minta dinaikan upahnya.

Sayang seribu sayang… Buruh yang dianggap “menderita” disepakati untuk dinaikkan upah minimumnya. Upah DKI misalnya, mengalami kenaikan menjadi 2,7juta atau upah yang paling besar adalah jawa barat 2,9juta. Bagaimana dengan gaji guru? Yang notabene menjadi pilar awal pembangunan bangsa? Bukannya saya membanding-bandingkan profesi, tapi bukankah bersikap adil adalah lebih biak. Ingat sekali, ketika dulu saya memilih untuk mengajar Upah minimun kala itu ada 2,5juta namun gaji yang pertama kali saya terima sebagai guru adalah 900ribu rupiah. Bukan gaji yang menggeraakkan saya untuk bekerja dulu. Tentu saya terima tawaran tersebut dengan senang hati. Bekerja lima hari seminggu plus hari sabtu untuk beberapa waktu tidak membebankan saya dan teman-teman. Bukankah menjadi guru adalah tugas mulia.

memang guru tidak terikat dengan undang-undang yang sama dengan buruh terlebih dari sekolah swasta, yang kemudian sistem pembayaran akan dikembalikan lagi pada kemampuan dari yayasan tersebut. Saya ingat, bagaimana kami sebagai guru kala itu benar-benar tulus berjuang untuk anak-anak. Beberapa ketidaksamaan pandang dengan yayasan pun awalnya membuat kami tergerak untuk meninggalkan mereka di tengah jalan (mogok mengajar), atau bahkan demo hanya sekedar menuntut keadilan dan kejelasan. Bahkan orangtua murid sudah mendukung.

Tapi kemudian, salah seorang rekan kami berkata

janganlah gimana juga kita guru, kalau kita mogok ga ngajar, gimana anak-anak. Bisa memang kita juga tinggalin pembelajaran ini. Toh, mereka ga bisa apa-apa tanpa guru kalau semuanya sepakat, tapi kita liat lagi, apa pantas dilihat anak-anak”

Ya, begitulah guru, hanya sekedar ingin dimengerti saja, akan mengerti dan mendahulukan kepentingan orang lain. Sebagaimanapun tidak adilnya sistem yang dijalankan sebisa mungkin guru akan “melindungi’ itu dan berkata semua baik-baik saja.

Untuk waktu kerja tidak ada yang berbeda antara guru dan pekerja lainnya. Mereka pun bekerja dengan jumlah jam yang sama tugas yang sesuai dengan bidangnya. Belum lagi ketika harus melaksanakan outing, fieldtrip, event sekolah, dan masih harus memantau perkembangan siswa. Bukan hanya output berupa angka, tapi juga bagaimana mereka bisa benar-benar berkembang dengan bakat dan minatnya.

Kalau anda pikir ini pekerjaan mudah cobalah menjadi guru untuk beberapa waktu

Atau belum lagi kalau guru membicarakan tentang gaji. Masih ada orangtua atau bahkan yayasan sendiri yang berkata.

guru kok kerja ga ikhlas mikirin gaji, bukan mikirin murid”

Subhanallah, entah bagaimana penilaian itu keluar dari mereka yang belum pernah merasakan menjadi guru. Memang akan ada beberapa oknum yang hanya mengejar uang tanpa memberikan yang terbaik. Tapi, bagaimana dengan mereka yang benar-benar tulus dan berprestasi. Sama halnya dengan profesi lainnya, mereka memiliki keluarga untuk dinafkahi. Bahkan menyebut gaji saja sudah dianggap tidak ikhlas bekerja?

Ucapan terima kasih atas kerja keras kami sebagai guru tentu adalah kebahagiaan. Terutama ketika siswa bisa melampaui apa yang seharusnya dicapai. Itu adalah bayaran yang tidak bisa ternilai. Tapi, guru cenderung hanya ingin mendapatkan keadillan. Hak yang sudah seharusnya dibayar, cobalah dibayarkan, Dana BOS dan lain-lain sudahkah digunakan dengan benar? Terkadang guru yang disalahkan, padahal guru tidak pernah memakai sepeser pun uang untuk kepentingan pribadi. Wong uang parkir seribu saja meskipun itu kepentingan tugas kami bayar sendiri (pengalaman pribadi). Apakah mereka ketakutan karena sesungguhnya mereka yang menyalahgunakan?

Saya, tidak tahu, tapi kami melakukan apa yang benar.

Sebisa mungkin sebagai guru kami sebisa mungkin menjaga perilaku dan kata-kata, bukankah kita adalah contoh nyata? Tapi, masih saja guru dianggap lebih rendah. Alasan saya pribadi, keluar sebagai guru bukan karena saya tidak menyukai gajinya yang rendah. Ya, karakter saya yang seperti itu, harus diperbaiki. Anak-anak mungkin saja akan mendapatkan guru yang lebih baik, tidak vokal, lebih penyayang, heheh.

Kecintaan kami pada anak-anak tidak pernah terbatas. Kami selalu menggap anak-anak bukan sebagai siswa namun sebagai anak yang seperti Tuhan titipkan, layaknya anak kami sendiri. Kasih sayang kami tak berbeda pada mereka. Perhatian kami sama. Maka orangtua, percayalah pada kami, apa yang kami katakan dan berikan pada mereka adalah memang karena rasa kasih sayang yang tulus dari diri kami. Lelah kami untuk mereka pun lelah yang ikhlas. (Aahh jadi rindu cyrus dan brotowali hihii..)

Banyak negara maju yang telah menghargai profesi guru sejajar dengan profesi seperti dokter dan lainnya. Tapi, bagaimanakah dengan Indonesia? Semoga saja ya..

*catatan mantan guru yang sedang merindu anak-anaknya 🙂
Guru, engkau tetap pahlawan tanpa tanda jasa bagiku. Tenang saja penghargaan dunia tidak lebih hebat dari penghargaan akherat. Tetap semangat teman-teman guru di sana. Doa kami bersamamu selalu.
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s