Mr. CEO

Kesempatan yang jarang bisa berbagi kisah dengan Mr. CEO dulu. Beliau pernah “membaca” karakter gw sebagai anak psikologi (ga tau tiba-tiba karakternya disamakan dengan karakter istrinya yang jebolan psikologi juga). Tebakan beliau:

  1. Kamu emang pendiam. Tapi diam-diam dendam “Liat aja nanti”. Ooopss mungkin itu berlaku untuk beberapa tahun lalu. Tapi, saya sekaran tidak mau menyimpan dendam Pak karena saya tahu betapa tidak bahagianya orang mendendam. Jiwanya ga bebas, saya ga mau seperti itu. Naah tebakan Bapak meleset untuk saat ini.
  2. Kamu biasanya bertahan di lingkungan yang tidak nyaman buat kamu. Misalnya kamu itu berteman dengan mereka yang ga sepemikiran. Dulu jawabannya, ga pak, saya mah sukanya sama yang nyaman, kalo ga nyaman saya tinggalin. Sekarang, setelah dipikir-pikir… Ia juga ya, bukan ke pertemanan tapi pada beberapa hal gw akan bertahan pada situasi yang tidak menyenangkan supaya gw ga membuat “keributan”.
  3. Kehadiranmu itu membuat tenang. Kamu itu ngadem-ngademin situasi orangnya. Aaaahh Bapak bisa ajaa hahaha. Kalo ini walau ga sepenuhnya bener gw iyain aja lah.. Berharap jadi doa, dimana kehadiran gw membawa kedamaian. Padahal pada beberapa kasus gw yang nyiptain api. Tapi tetep thank you loh pak mantan CEO
  4. Kamu biasa menganalisa dulu. Yang ini belum jelas maksudnya. Tapi emang gw biasa menimbang semuanya sambil jalan. Kalo dirasa ga berhasil akan ubah haluan tentu semua resiko sudah diperhitungkan. Masih dalam visi semuanya. Btw pak.. Dulu bawahan anda loh (atasan tidak jadi langsung saya) yang mengatakan bahwa analisa saya rendah. Saya dianggap “terbiasa” menjawab soal psikotes. Tapi otak saya tidak mungkin bisa menipu kemampuan berpikir yang satu itu. Analisa. Padahal saya tau dimana saya lemah psikotes kala itu. Memori saya ini memang ajaib pak. Untungnya ujian S1 itu skripsi yang mengharuskan penelitian dan presentasi. Kalau mengerjakan soal hapalan saya mungkin lulus tapi dibawah garis kemiskinan.

Dari pembiacaraan kita kala itu bolehlah saya GR ya pak, hihii, sepertinya Bapak percaya sama saya tapi memang kita tidak berjodoh untuk bertemu lagi di perbincangan selanjutnya, seperti yang dibicarakan sebelumnya. Sayang, saya ga bisa pamit langsung. Tapi, “penilaian” Bapak yang sesaat tentang saya cukup membahagiakan. Setidaknya ada yang berpikiran positif tentang saya. Apalagi diantara teman-teman yang kala itu ada Bapak membuat saya jadi sedikit berharga. haha.. makasih loh Mr. CEO, wish you luck selalu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s