Habiskan Makanmu #PiringBersih

Saat ini semakin banyak kampanye yang mengusung tema sosial. Yang paling terkenal tentu fenomena ice bucket itu ya, atau di Indonesia ada acara goyang dangdut yang sebelum joget menyumbangkan uang untuk yang nantinya disalurkan membangun sekolah di pelosok negeri. Banyak yang ikut katanya sih sebagai wujud partisipasi atau seru-seruan juga. Tanpa menghilangkan esensinya, katanya. Tapi bener ga ya?

Jadi inget di salah satu episode sarah sechan di net, waktu cagub (belum pelantikan) jakarta, Mr. Ahok diminta menjawab kuis katanya sebagai setiap jawaban akan disumbangkan. Dengan santainya Pak Ahok bilang.

nyumbang mah nyumbang aja langsung ga harus pake kuis” yah kurang lebih begitu kalimatnya. Bener juga sih. Terkadang kita direpotkan dengan “ritual-ritual” sebagai publisitas untuk mendongkrak kegiatan kampanye.

Banyak iklan bermunculan di tipi yang menyarankan untuk menyisihkan sebagian bentuk penghasilan kepada mereka yang membutuhkan, entah di daerah konflik atau bencana. Salah satunya untuk mereka yang ga mampu untuk sekedar memnuhi kebutuhan pokoknya. Makanan. Jadi merasa bersalah terutama pada lemak-lemak di pinggang.

Hal ini sebenarnya bisa menjadi pelajaran buat kita, keluarga, dan teman-teman yang terkadang lupa bahwa apa yang bisa kita nikmati saat ini lupa untuk kita syukuri. Contoh:

“yah mbak, ga masak apah? Masa telor doang sih..”

atau

“kok makanannya ga dihabiskan? Sayang kan udah dipesan”

“Abisnya ga suka, udah aja biarin. besok ga usah pesan lagi”

Hmm.. Bahkan kita dengan bebasnya bisa memilih, memprotes apa yang ada dan Tuhan berikan. Satu kisah yang menjadi pembelajaran. Kakak (gadis berusia 4 tahun) jarang sekali menghabiskan makanannya, terutama bekal sekolah, dengan berbagai macam alasan. Aku termasuk orang yang peduli akan makanan. Sebut saja aku #PiringBersih. Kebiasaan kakak ini membuat gerah eyangnya. Berbagai macam cara mereka coba supaya kakak mau menghabiskan makannya.

Dan dengan berbagai macam cara pula kakak mencari alasan untuk tidak menghabiskan makanannya. Hingga suatu saat #PiringBersih mengajak kakak berdialog

kakak kenapa ndak dihabiskan makannya?”

soalnya kakak udah kenyang”

Bener udah kenyang?”

Bener kok, abisnya eyang ngambilinnya kebanyakan”

#PiringBersih tahu itu hanya alasan karena porsinya sudah dikurangi dan kakak setelah pulang sekolah masih suka jajan.

kalo kakak udah kenyang kok minta jajan lagi?”

kakak terdiam. Kemudian

kak, tahu ga? kakak harusnya bersyukur bisa sekolah di Noah dan masih bisa jajan apa yang kakak mau. Di luar sana banyak loh, yang ga bisa makan. sampe tulangnya keliatan. Mau liat?

Kemudian #PiringBersih memperlihatkan beberapa gambar di google. Diantaranya

hqdefaulthunger

Matanya terpaku pada layar iphone. Pada gelombang otak ini penegasan kembali dilakukan

kakak inget ga, waktu jalan-jalan sama amah (tante) kita liat anak kecil yang ngamen malem-malem sama ayahnya pake kostum marsha? Dia begitu karena untuk makan dan sekolah. Nah kakak beruntung bisa tidur pake ac, sekolah di noah, dan bisa pilih-pilih makanan”

Kembali scroll gambar. Maatanya mulai berkaca-kaca

liat deh dia ga ada yang perhatiin sampe makanan bekas orang dia makan. Kita habisin makanan kita sebagai wujud rasa syukur. Bayangin kalo kita jadi mereka.Jadi mulai besok gimana? Masih mau buang makanan? Atau habisin makanan? kakak udah tau kan ada yang seberuntung kita. Makanya, kita harus abisin makanan kita apalagi kita yang pilih makanan itu sendiri. Besok kakak boleh cerita sama temen-temen kakak juga yang ga habis makannya, kalo ada loh anak yang ga bisa makan, harus makan dari tanah sisa-sisa orang”

Dia mengangguk. Esoknya..

amah kakak habis dong makannya” Alhamdulillah, setidaknya dia masih ingat sampai dua hari karena ketika kita sedang menonton tentang Somalia pun kakak berkomentar

amah itu orang yang ga bisa makan ya? Mereka semua ga bisa makan ya? kakak abisin makanan loh”

Dia memang tidak harus merasakan kelaparan untuk mengerti. Taapi, seseorang yang pernah merasakan akan sangat mengerti. Seperti aku. Teringat beberapa tahun lalu. Penghasilan mengajar di awal yang cukup. Cukup membuatku makan biscuit setiap hari. Kemasan kecil harga seribuan. Aku tahu rasanya tidak punya makanan. Tapi lemak ditubuhku menyamarkan setiap orang.. hihihi..

Itulah kenapa Islam mengajarkan berpuasa. Ada nilai-nilai sosial di dalamnya. Setiap orang boleh berkampanye tentang topik tertentu. Aku pun demikian. Mulai dari hal kecil gerakan #PiringBersih sebagai wujud rasa syukur. Bukankah berkah dari makanan kita ada di suapan terakhir? Kampanye boleh boleh dipromosikan dengan berbagai macam cara. Tapi tidak disarankan dengan memakan piring kita ya.. πŸ˜€ kecuali piring atau mangkoknya dari pangsit πŸ˜›

Tips: Masak secukupnya dan Ambil Seperlunya. Stop Buang-Buang Makanan

Pembelajaran juga untuk anak-anak kita kelak. Menumbuhkan rasa empati tapi dengan cara yang indah. See you around

Hati-hati kalau si #PiringBersih datang. Upayakan hidangkan hanya secukupnya makanan atau kau akan menyesal πŸ˜€ πŸ˜€ πŸ˜€

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s