Pusnya

Hmm hari ini teringat si Pusnya yang udah tidur lelap di belakang masjid arrahmanirrahim Pancoran Barat. Pusnya adalah seekor kucing kecil yang ketika itu sedang berjalan lunglai di depan apotek. Tubuhnya dipenuhi  oleh kotoran dan luka. Dulu, kucing bukanlah hal yang boleh aku dekati. Dengan berbagai macam alasan. Alergi, kuman, virus, dan lain-lain. Tapi, aku tidak pernah membenci kucing karena aku tahu kucing adalah hewan kesayangan Rasulullah. Hewan yang bebas berkeliaran di dalam rumah karena tidak ada najis di dirinya.

Hari itu, aku hanya memandangi pusnnya, beberapa orang yang lewat menendang-nendang mungkin dengan maksud menyelamatkan dia dari keganasan jalan raya. Pusnya sudah berjalan terseok-seok. Aku yang tidak memiliki pengetahuan apapun mengenai kucing mencoba untuk menjadi “penyelamatnya”. Aku angkat Pusnya dari jalanan. Lalu, aku amati badannya. Hmmppft, penuh luka dan oli. Apa dia baru saja dari got. Bau sekali. Tanpa berpikir panjang aku mandikan saja. Haduuh dan di sinilah mungkin awal dari nasib si Pusnya.

Aku bawa Pusnya ke gudang untuk kumandikan dengan sabun switszal. Kupikir akan baik-baik saja.. Pikiran yang bodoh. Tubuhnya menggigil. Ok, saatnya kasih kehangatan. Aku dibantu Asisten Apoteker kala itu iyong mencoba berbagai macam cara. Memotong semua kain yang ada, selimutin, jemur. Aaahh satu lagi matanya kasian, ada beleknya, seakan menguasai obat aku beri dia salep mata manusia. Iya, salep mata manusia. hiks hiks.. Aku sungguh tak paham apa yang kulakukan. Setelah kumandikan dan kuberi salep tidak ada tanda-tanda si Pusnya membaik. AAhh aku perlu pertolongan. Aku hubungi semua yang mengerti tentang kucing. BU Tanti adalah orang yang tepat. Ah tapi pulsa hanya bisa ke sesama operator. Pakai telpon kantor ga etis sekali. Cari cari cari.. Oke Pak Wifqi.

“Pak Wifqi, ada Bu tanti ga?”

“Ada nih sebentar..”

“Bu Tan, aku nemu kucing nih, kondisinya udah ga bagus, tadi aku mandiin dan aku kasih salep matanya karena belekan. Dia lemes banget, kenapa ini, aku harus kasih apa ya?”

“kasih aja telor sama madu ya, atau susu. Kita lagi ada pelatihan nih. WA aja ya ki”

Segera saja aku minta inyong cari telor.

“Inyong tolong beli telor buat si Pusnya ya. Beli susu yang tawar juga, ini kasian banget niihh aduuhh”

Iiihh Inyong lama banget. Diapain nih si Pusnya.. Akhirnya aku kasih madu yang ada di apotek tanpa apa-apa. iinyong dataang

Mba telornya belom dapet. Ini susunya”

Ok aku kasih susu lagi, tapi kok dia masih lemes ya.. Ehhm kalo orang dia butuh energi dari yang manis-manis jadilaah aku tambah susu itu dengan gula.

Tiing.. WA berbunyi.

“Niih ane punya sodara, dia suka banget kucing. Ente bisa tanya sama dia. Pasti bantuiin. Namanya Miftah”

Ah Pak Wifqi memang inisiatifnya tinggi. Akhirnya, aku coba hubungi nomer itu.

“Mas Miftah, saya temennya bang Wifqi, saya nemu kucing kondisinya ga bagus, harus diapain ya”

kira-kira begitu bunyinya. Duuuh Inyong cepet dateng aku harus apa nih. Pusnya bertahan ya, Inyong lagi cari telor..

Kring kring… Ada telpon masuk.

“Halo, assalamu’alaikum..”

“Wa’alaikumussalam, ini Miftah, kenapa kucingnya….” dan bla-bla-bla

Alhamdulillah, baik sekali Mas Miftah ini menelpon. Aku ceritakan semua yang kuperbuat sama Pusnya. Tuhan, rupanya salah semua yang kulakukan.

  1. Harusnya aku tidak memandikan kucing
  2. Jangan pernah kasih obat-obatan manusia ke kucing
  3. Jangan kasih madu tanpa dicampur telor
  4. Beri hanya susu yang aman buat kucing. yang plain. dll

Seharusnya apa yang dilakukan

  1. Beri makan segera telor dan madu
  2. Bersihkan matanya dengan kapas dan air hangat
  3. Selimuti supaya ga kedinginan
  4. Hubungi dokter atau siapapun yang paham sama kucing

Ingat kucing berbeda. don’t treat them like a human. They are special. Aku benar-benar buta akan kucing.. mas Miftah sempat bertanya akan diapakan kucingnya. Karena saat itu aku kos maka aku tinggal kucing itu malam pertama di outlet, di dalam kardus berisi kain yang banyak. Aku letakkan juga susu plain di samping. Aku pikir akan memudahkan dia jika mau minum.

Esok hari, aku tengok si Pusnya,, tidak!! Rupanya dia poop, hitam, dia lebih lemah dari kemarin. Ada apa ini…

“Mas Miftah, Pusnya poop item banyak, sekarang ga bisa gerak. gimana ini, diapain”

Aku mulai panik. Apa keputusanku “menolong” Pusnya adalah kesalahan. Bisa jadi dia tetap hidup kalau aku tidak “mengadopsinya” dari jalanan. Bagaimana ini… jantungku mulai berdetak kencang. Aku belum penah memiliki keterikatan pada apapun. Tapi, mata Pusnya saat pertama menatapku berbeda. Pusnya berhasil membuat aku jatuh hati. Dalam hati aku berkata aku akan siapkan tempat tinggal untuk Pusnya nanti kalau aku punya rumah. Selama di kos mungkin aku akan titipkan dl pada siapa yang mau kutitipkan *Bu Tanti*. Yups, Im falling in love with Pusnya

Aku kirim poto Pusnya ke Mas Miftah.

“hmm.. keliatannya masih basah. Coba jemur lagi. Sambil terus disuapin dan dipantau ya”

Sangat membantu sekali. Mulia sekali hati pecinta kucing, bahkan dia bercerita dan mengirimkan gambar kucing-kucing yang menjad bagian keluarganya. Subhanallah..

Malam tiba, Pusnya terlihat lebih baik, mau berjalan tidak seperti siang tadi. Ya, meski dengan langkah tertatih.. Akhirnya aku putuskan untuk membawanya pulang. Tapi, tiba-tiba tubuhnya kembali lemah. Pusnya hanya berbaring di dalam kardus dan kain tanpa ada gerakan seperti tadi. Apa lagi yang terjadi pada Pusnya? Dengan bimbingan Mas Miftah aku mencoba mencari jalan keluar lagi, susu, kain, dan terakhir adalah berdoa. Sama seperrti yang Bu Tanti sarankan. Berdoa yang terbaik untuk Pusnya. Tapi, jujur saja aku seakan tidak terima. Hey, buat apa aku ambil dia jika ujungnya adalah sama kematian. Tapi, dia mengingatkan Allah yang punya kehendak. Mas Miftah pun menceritakan kucing yang pernah dia selamatkan juga.

Ciri-cirinya sama dengan Pusnya, hingga katanya kemungkinan Pusnya pun mengidap penyakit yang sama panleukopenia. Penyakit yang menyerang pencernaan kucing. Oya aku lupa mengatakan selain poop yang hitam, Pusnya juga sempat muntah ketika disuapi. Aku benar-benar tidak bisa tidur. Bahkan aku mengganggu tidur Pusnya. Aku gendong Pusnya, aku ajak dia berbincang. Matanya menatapku. Inyong rupanya sedikit jengah

Mbak tidur.. Udah tidur dulu katanya besok mau dibawa ke dokter hewan. Tidur sekarang biar bisa bangun pagi”

Iya aku berencana akan membawa Pusnya besok. Aku mencari informasi salah satunya melalui Facebook Indonesia Pecinta Kucing. Ada klinik hewan terdekat. Tapi shift kerjaku tidak memungkinkan membawanya hari itu. Aku tunda hingga besok.

Tapi, Pusnya semakin lemah, kakinya dingin semua. Tiba-tiba airmataku menetes

“Pusnya.. Bertahan ya sayang, kamu pasti bisa, besok kita ke dokter ya.. Bisa kok Pusnya bisa bertahan”

Aah kenapa aku berlebihan seperti ini.. Airmataku cukup mahal, tapi ini Pusnya membuatnya tak berharga. Aku letakkan kembali Pusnya.. Aku poto dan kukirimkan ke mas Miftah

Pusnya

Pusnya tidur untuk terakhir kalinya di tanganku

“Pusnya udah lemes banget”

Mas Miftah bilang doakan saja semoga bertahan besok. Akhirnya aku pergi tidur dengan mata sembab. Perasaanku sudah berkata terima saja apapun yang terbaik untuk Pusnya. Subuh, setelah selesai sholat aku liat Pusnya, ada muntahan dibadannya. Pusnya sudah kaku.. Ya Allah Engkau ambil Pusnya. Masih dengan gaya lebay aku menangis hingga membangunkan Inyong.

PUsnya ninggal 😥 Pusnya matiiii 😥 Inyooongg huhuhu”

Sebenerny Inyong bete, aku tau tapi dia harus terima kelebayanku selama 3 hari. Aku sibuk mencari dimana Pusnya akan dimakamkan. Oh Jakarta, bahkan lahan kecil untuk Pusnya saja kau tak ada. Tetangga terlalu pelit kata ibu kos. Di kos sendiri semua sudah menjadi lantai keramik. Aku pergi ke samping apotek, sama saja tak ada lahan. Hingga akhirnya aku beranikan bertanya pada pemuda2 di sana.

“Di belakang masjid itu tanah Pak Haji, bilang aja. Boleh sepertinya”

Bermodal cangkul pinjaman tetangga aku pencet bel rumah Pak Haji, asisten rumah tangga yang membukakan. Aku sampaikan maksudku. Beliau pun mengizinkan. Aku pilih tempat yang paling nyaman untuk Pusnya. Tepat di bawah pohon yang rindang. Dan setiap saat Pusnya akan mendengar adzan. Aku gali tanah sedalam yang aku bisa.. Aku kuburkan Pusnya tanpa embel-embel apa-apa. Baiklah cukup. Doa sederhana semoga Pusnya akan baik-baik saja di sana.

Malam ini, kembali teringat Pusnya.. Tidak lagi aku bekerja di sana. Tapi kenangan akan Pusnya selalu terbawa. Maafkan aku Pusnya jika aku membuatmu menderita di akhir hidupmu. Sampaikan salamku pada malaikat-malaikat di sana ya.. Kangen Pusnya 🙂

Terima kasih Inyong, bu Tanti, Bang Wifqi, Indonesia Pecinta Kucing, dan tentu saja Mas Miftah atas bantuannya kepada Pusnya 😉

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s