Menjadi Orangtua yang Sesungguhnya

Didiklah anakmu sesuai dengan zamannya, penggalan dari kata-kata sahabat rasulullah berabad lalu dan masih penjadi panduan di zaman modern ini. Orangtua modern saat ini berlomba memberikan pendidikan karakter pada anak. Disamping dengan pendidikan formal bertaraf internasional.

Pendidikan karakter kembali menjadi ‘trend’ dikala negeri ini disorot karena besarnya kasus yang terjadi. Kehancuran sebuah negara disebabkan oleh kehancuran mental dari anak bangsanya. Maka, pemerintah kembali berjibaku menjadikan pendidikan karakter sebagai syarat utama selain nilai dan prestasi logika lainnya.

Tapi, bagaimana menciptakan karakter anak yang mulia kalau orangtua lupa belajar menjadi tauladan bagi anaknya?

Menumbuhkan pribadi berkarakter dan berintegritas tidak bisa hanya dengan menyerahkan ke lembaga formal dan informal yang berbayar. Bukankakh integritas dan karakter itu ditumbuhkan dan dicontohkan? Itulah mengapa keluarga (Ibu) adalah madrasah, tempat menimba ilmu yang pertama bagi anak-anaknya. Berpengalaman sebagai pendidik satu setengah tahun memberi saya kesempatan bertemu dengan berbagai macam karakter anak dan orangtua. Keselarasan orangtua dan pendidik di luar keluarga sangat dibutuhkan. Anak perlu belajar konsistensi dengan adanya kesamaan peraturan, sehingga hal ini tidak membingungkan mereka.

Banyak orangtua yang menuntut anaknya berperilaku sopan dan santun pada orangtua namun mereka lupa bagaimana mencontohkan.

“coba kakak diajarin gimana di sekolah? emang kamu diajarin mukul?! bentak-bentak? ga sopan begitu?! Untuk apa Bunda sekolahin kamu kak? Percuma kamu sekolah kalau perilaku kamu begitu”

atau

“kamu ngapain hah?! kasar sama adeknya! Mau ayah pukul kamu?! Lempar kamu?! Nangis terus?!!” *sambil melempar barang*

Sungguh ini nyata terjadi pada anak berusia belum gena 5 tahun? Bagaimana mungkin dia tidak belajar membentak, berlaku kasar pada adiknya kika yang dia contoh adallah perilaku yang serupa. Lalu, pantaskah orangtua menyalahkan sepenuhnya pada anak? Apakah mereka sudah belajar menjadi orangtua yang sebenarnya? Terkadang orantua pun tidak ingin disalahkan hingga hanya kata-kata makian yang keluar untuk sang anak. Luar biasa!

Padahal Ali sudah membagi konsep pendidikan anak menjadi 3 tahap yang bisa menjadi contoh bagi orangtua.

  1. Masa 7 tahun pertama (0-7 tahun) Anak adalah Raja: Saat ini adalah saat maksimal pembentukan sel otak pada anak-anak sebesar 70% mereka mencontoh perilaku yang tampak. Kata-kata tidak akan dapat menggantikan perilaku yang mereka lihat. Hal ini bukan berarti memberikan sepenuhnya apa yan gmereka inginkan, tapi membimbing dan menjelaskan bagaimana seharusnya. Bukan dengan kekerasan dan kata-kata kasar namun dengan kasih sayang. Ingat!! mereka mencontoh. Apa yang anda lihat pada diri anak anda itulah apa yang anda lakukan dan apa yang anda lupa contohkan. Kasih sayang akan mengalahkan semuanya. Oleh karena itu, mari perbaiki diri kita.
  2. Masa 7 tahun kedua (7-14 tahun) Anak adalah Tawanan Perang: Pada usia ini anak wajib diajarkan mengenai tanggung jawab. Bukan dalam arti dikekang sepenuhnya tapi mereka akan mendapatkan konsekuensi dari perbuatannya. Orangtua sudah harus mendisiplinkan anak mengenai ibadah wajib, tentang seksualitas, karena ketika masa pubertas datang mereka akan memikul dosa-dosanya sendiri. Anak sudah mampu mencerna informasi secara penuh. Mereka sudah paham mengenai sebab akibat sehingga akan lebih mudah menerapkan aturan. Persiapkan mereka untuk menjadi pemimpin bagi dirinya sendiri di tahun-tahun selanjutnya.
  3. Masa 7 tahun ketiga (14 tahun ke atas) Anak adalah Sahabat: Bekal yang mereka dapatkan di dua tahap sebelumnya adalahmodal untuk membentuk jati diri mereka. So, jangan salahkan anak anda jika mereka belum menemukan jati diri di usia yang seharusnya. Lihatlah apakah kita sebagai orangtua sudah membekali mereka dengan ilmu yang benar? Pada tahap ini orang tua seharusnya memposisikan diri sejajar menjadi tempat berbagi, sebagai sahabat yang mengingatkan pada hal-hal yang benar. Biarkan mereka menentukan atah dan tujuannya. Kita bukan mereka, mereka bukan kita. Membuka hati dan pikiran meleburkan diri menjadi satu dengan mereka akan lebih memudahkan anak menentukan jalannya sendiri.

Apakah kita mengharapkan anak berusia 4 tahun untuk mengerti semua yang kita inginkan? Wow jika iya mungkin anda membutuhkan robot. Karena hanya robot yang akan mengikuti apa yang program katakan, tanpa empati, tanpa kesadaran diri.Saya memang belum memiliki anak, tapi saya berkesempatan mempraktekan apa yang saya percayai. Karena jika melihat ‘ananda’ ini saya teriingat akan masa kecil saya dahulu. Si Bandel, cengeng, ndableg, bego, dan beberapa istilah lainnya adalah hal yang biasa saya dengar. Percayalah butuh waktu cukup lama untuk bisa membuat saya memiliki kepercayaan diri pada diri sendiri.

Saya mencoba untuk memahami apa yang ananda saat ini rasakan. Saya hanya ingat dulu bagaimana saya perperilaku, sangat menyebalkan. Tapi, saya tidak tahu mengapa saya berperilaku demikian. Wajar saja, karena saat itu masih terlalu kecil.

Ananda terkenal sebagai anak yang hiperaktif, suka beradaptasi, mengeksplorasi, pencontoh yang baik, tapi memang terkadang menjadi tidak terkendali emosinya. Oops, jangan mengira mereka tidak bisa tertekan ya, anak sangat rentan akan stress, sekali lagi dibutuhkan peran orangtua dengan perhatian dan kasih sayang.

Pernah suatu saat ananda marah, menjadi tantrum, menangis tanpa sebab, mengatakan saya orang yang jahat, karena kemauannya tidak saya turuti sepenuhnya. Saya coba tanyakan, dibagian mana saya jahat pada dia? Apakah saya berteriak, apakah saya memukul? Apa yang sudah saya lakukan padanya sehingga dia marah dan berperilaku tidak menyenangkan.

“ananda kenapa? apa yang aku lakukan hingga membuat ananda marah?”

kenapa ananda marah? ananda bisa bilang sama aku kalau memang ada alasan yang tepat ananda marah, tapi sampaikan dengan cara yan baik. karena aku pasti akan dengar apa yang ananda katakan. bukan dengan marah dan teriak, bagaimana aku paham. Ananda boleh sampaikan kepada siapapun yang ananda rasa tidak sesuai dengan apa yang mereka katakan. Ayah, bunda, Mbah dan semuanya”

Ya, saat itu juga amarahnya mereda. Sebisa mungkin saya menjaga intonasi suara, I rise my words, not my voice. Karena mereka memahami kata-kata, menangkap semua informasi dengan nada, ekspresi. Jika, saya sampaikan hal di atas dengan berteriak, ikutan marah-marah tentu ananda tidak akan mendapatkan informasi yang benar. Tidak akan mengerti apa yang kita minta. Akan mengira “ooh komunikasi ini begini. teriak-teriak” hingga suatu saat ananda tidak akan bisa membedakan mana yang tegas, marah, becanda, karena semua intonasi sama. Hingga hanya sanggup membedakan, marah itu jika ayah lempar saya gelas, marah itu jika bunda cubit saya, marah itu jika saya dikunci di luar. Kalau itu terjadi berarti itu semua karena saya salah.

Sayangnya, ananda aktif ini seringkali dianggap memancing emosi keduaorangtuanya. Apakah benar begitu? tentu tidak, jika orangtuanya mau memahami mengapa ananda berperilaku demikian. Sampai saat ini saya masih mencoba menjadi penyeimbang sehingga ananda dapat tumbuh dengan pemahaman yang benar mengenai dirinya. She is unique. Orangtuanya yang mendidiknya menjadi anak yang aktif tapi mereka sendiri yang merasa ananda berperilaku keterlaluan. Sungguh orangtua yang terlalu kata Bang H. Rhoma.

Parents coba ingat ini

Mereka akan melihat apa yang kau kerjakan bukan mendengar apa yang kau katakan.

Mereka akan melihat apa yang kau kerjakan dan bagaimana kau mengatakannya

Saya percaya usia 4 tahun bukanlah alasan untuk memukul anak jika ia menumpahkan air minum. Bukan alasan untuk membentak anak jika ia tak sengaja menyenggol mangkuk supnya. Tentu ya sesederhana itu. Teach them, they’ll understand.

Manage your emotion before your manage your children

Ya, orangtua terlalu fokus bagaimana membentuk anak, mengharuskan anak berperilaku namun lupa bagaimana harus mengatur emosi dan perilakunya sendiri ketika menghadapi perilaku sang anak. Ingatkah kita bagaimana Maya Angelou berkata “i’ve learned that people will forget what you said, people will forget what you did, but people will never forget how you made them feel” Terserah kita bagaimana kita akan membuat anak kita merasakan kehadiran kita.

Apakah kita akan membuat mereka senantiasa waspada pada perilaku kita karena “jangan-jangan ayah marah, udah diem aja deh, daripada nanti dilempar lagi” atau anak dengan perilaku “kalo ayah diposisi ini pasti akan maafin nih, ah sudah legowo, ingetin aja biar ga terulang” Yap sama-sama tentang ayah. Tapi outputnya beda. terserah kita akan memilih yang mana.

Bagaimana mungkin memaksakan anak tidak menangis sedangkan yang ia dapat adalah ancaman.

nangis terus ya!! Papa bakar mulut kamu!’

ekstreem aah ga mungkin. ssttt ini terjadi loh. Waduh bagaimana ga menangis wong ancamannya begitu. Waduh papah. Atau, ketika sang adik sedang terlelap, kakak sedang bermain bersama teman-temannya dan tertawa cekikikan karena takut suara tawanya membangunkan sang adik lantas orangtua berteriak.

kakak kamu tu ya! adiknya lagi tidur malah ketawa”

dan bangunlah sang adik, bukan karena tawa kakak dan teman-teman tapi karena suara orangtua yang sudah kesal memperingatkannya berkali-kali hingga tanpa sadar menambah volumenya. Tapi yang terjadi…

tuh kan! Adeknya bangun. Kamu dibilangin dari tadi!! Dasar ga pernah dengerin! Nakal bener jadi anak!”

Yap.. Terjadi. Hingga anak akan mengambil kesimpulan. Ah apa-apa aku yang salah, aku berbuat benar tetep salah udah aja deh.

Belajar Bersama Anak

Yuk orangtua jangan hanya menyekolahkan anak di sekolah yang mahal dan elite saja. Menuntut mereka mempraktekan semuanya di rumah tanpa diimbangi oleh perilaku kita. Bagaimanapun mereka adalah tanggung jawab kita. Memberi contoh adalah yang lebih utama.

Pendidikan anak yang bagus sangat banyak, membangun karakter yang mulia dan terintegrasi tidak hanya bisa dengan rupiah. Tapi dengan kehadiran orangtua. Mari bukan hanya anak yang belajar, karena sesungguhnya kita pun masih buta menjadi orangtua. Kitalah yang harus banyak belajar. Ingat cara orangtua mendidik kita tidak bisa kita terapkan pada anak-anak kita sekarang.

Carilah sekolah tentang parenting karena hal ini sangat penting. Kita cenderung merasa sudah melakukan yang terbaik untuk anak, sekolah yang bagus, pakaian yang mahal, liburan yang menyenangkan, semua kita berikan dengan alasan kasih sayang. No, itu bukan berarti cinta. Kenyamanan dan rasa aman adalah nomer satu yang anak butuhkan. Jangan sampai kita menyesal karena anak akan lebih mendengarkan orang lain dibanding orangtuanya. Jangan sampai kita menyesal kenapa anak kita belum menemukan jati dirinya. Kenapa anak kita lebih senang jika tidak ada kita di rumah.

Ya… jangan sampai ada sedikitpun penyesalan. Anak kita lebih berharga dari karier dan harta. Lihat banyak yang kaya dan sukses meski orangtuanya tak mampu, karena energi positiflah yang mereka punya. Iman dan ketakwaan. Itu cukup 😉

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s