Emosi

Fey.. Hati mungkin bergejolak yang disebabkan berbagai macam hal. Hal sederhana seperti sebuah pena yang tak diletakkan di tempatnya atau seperti pensil yang lupa entah ada dimana. Tapi, bagaimanakan menahan emosi ini? Bukankan sewaktu kecil kita terbiasa menahan amarah dalam dada. Mereka lupa bahwa anak kecil pun memiliki emosi dan tekanan dalam hidupnya. Justru tekanan itu membuatnya semakin menggila.

Fey, betapa sulitnya mengungkapkan emosi dengan bijaksana. Aku pun hingga saat ini masih belajar. Aku bagaimana belajar untuk memendam, menghilangkan, atau menyatakan emosi dengan cara yang benar. Dulu aku terbiasa untuk tidak berekspresi apalagi menangis, ya seperti kau Fey..

Tapi saat ini, aku mampu menangis (ah bahagianyaa) meski hanya di hadapan orang-orang tertentu.. Aku menangis di hadapan orang yang aku percaya. Di hadapan mereka yang sekiranya mau mengerti (atau seakan mengerti hihi). Bukan empati dari mereka yang kita inginkan pasti, tapi hanya sekedar kesempatan untuk mengungkapkan apa yang sebenarnya. Yang sejujurnya ada dalam pikiran dan hati kita, iya kan Fey?

Seperti itulah pula. Maka lebih banyak tangisku hanya Ia yang tahu. Tentunya Ia tak akan menilaiku, menghakimiku, menyudutkanku. Tangan-Nya dan KasihNya akan ada di sana menerima keluh kesah kita. Menerima semua protes yang kita ungkapkan meski Ia adalah Yang Maha Tahu tapi masih saja aku menganggap diriku paling tahu.

Fey, Ia Maha Bijaksana oleh karenanya Ia terima aku apa adanya, dengan segala dosa dan khilaf yang ada. Fey, betapa beberapa bulan ini aku telah jauh dariNYa, Disepertiga malamku tak lagi aku rela bangun dan menyembahNYa. Berkeluh kesah padaNya, padahal aku sangat tahu Ia menungguku..

Emosi ini masih menunjukkan bahwa aku masih normal. Masih mampu merasakan sakit dan bahagia. Aku dan kamu Fey belajar bagaimana untuk tidak menyakiti orang lain dan bagaimana menghargai orang sebagaimana kita ingin dihargai.

Beberapa kali pasti kita pernah menerima penghinaan bahkan dari orang-orang terdekat, menyakitkan, padahal tak pernah sekalipun kita menyakiti mereka, bahkan sekedar kata-kata. Tapi itu mereka kan Fey? Kita tidak harus seperti mereka yang berbahagia ketika ego dan harga dirinya menjadi lebih baik ketika mengeluarkan kata-kata hinaan itu. Menangis? tentu saja Fey, menangis dapat meredakan semuanya, bahkan amarah yang bergejolak.

Kenapa tidak kita luapkan? Aku terlalu takut Fey, takut akan menyesal karena rasa marah yang keluar akan membawa kerusakan. Bukankah Ia menyukai orang-orang yang pemaaf?

Harga dirimu dimana? Harga diriku bukan berdasarkan penilaian orang lain, terlebih karena kehinaan yang datangnya dari manusia. Aku tahu aku tak lebih baik dari mereka. Tetapi, jika aku berbuat seperti mereka tentu aku sama buruknya dengan mereka bukan?

Kau mungkin menganggapku pembual dan pura-pura menjadi orang baikkan? Terserah orang berpendapat apa, aku hanya menjalankan yang aku percaya. Toh berpura-pura baik bisa menjadi suatu kebiasaan pula. Untuk apalagi usia kita? Kekayaan dan harta tak akan habis dikejar (walau itu masih jadi tujuan utamaku) Jabatan dan kedudukan bukanlah penilaian mutlak (hanya Ia yang berhak menilai). Bukankah ahli agama pun tak akan dijamin surganya ketika ucapannya melukai sesama. Hanya keridhaanNya yang mampu membukakan pintu surga.

teringat lirik ini

wahai Tuhan ku tak layak ke syurgaMu

namun tak pula kami sanggup ke nerakaMU

Memang tak mudah bagiku untuk memaafkan.Tapi aku jamin aku bukan pendendam, aku hanya perlu waktu untuk menetralisir semua rasaku. Bukannya aku tak punya harga diri, tapi apalah arti harga diriku jika sesama menjadi tersakiti. Padahal setiap waktu kita awali dengan menyebut nama Allah yang MahaPengasih lagi Maha Penyayang. Itu pun kita masih bisa berbuat kejahatan..

Iya Fey, itulah yang aku rasakan. Sebagaimana kau hidup dalam khayalku, aku pun ingin hidup dalam hidup yang Ia berikan ini. Emosi tak mungkin hilang, sedih tak mungkin kutepis, amarah tak bisa kuabaikan. Tapi aku bisa mengelola semua itu. Yah meski sekali lagi, aku butuh waktu. Aku ingin emosi ini hanya berupa cinta pada sesama Fey. Hingga saatnya Ia memanggilku, malaikat membantuku berkata “ia telah berusaha” bukankah agama kita agama kasih sayang, Rahmat bagi sesama? Bagaimana bisa aku menjadi rahmat bagi sesama jika rahmat itu tidak ada dalam diriku?

Fey.. Fey… Fey… Airmata hanya sebagian kecil keajaiban bagaimana mekanisme itu telah Ia pikirkan. Airmata yang menjadi representasi perasaan yang dalam, yang tak bisa diungkap dengan kata, yang tak mampu lagi ditahan oleh rasa dan tak bisa lagi disimpan dalam pikiran kita. Luar biasa bukan? Itulah mengapa segala emosi ini wajar adanya. Ia paham. Hanya satu Fey yang Ia minta.. Katanya kita hanya harus taat. Seperti sajak yang dikirimkan oleh guru mengajiku (akan ku post segera) dan seperti coping yang biasa aku lakukan (akan kutulis juga dalam pos yang berbeda).

Terima kasih Fey. Lebih baik rasanya. Akan lebih ringan pula dalam melangkah. Semoga Tuhan selalu mennjaga kita dalam kesalahan yang akan selalu ada. Menjadikan kita sebagai manusia yang hanya akan peduli pada Pendapat Tuhan bukan pada pendapat manusia lain yang juga penuh alfa.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s