Banci Intelektual

Banci Intelektual

ini salah satu protes atas ucapan ketua wakil rakyat beberapa tahun lalu..

Saturday April 7, 2012

Haii kau banci-baci intelektual
Yang berpose pada pameran pendidikan
Merancang dan menegosiasikan masa depan
Mengorbankan sisi kemausiaan.

Haii kau banci-banci intelektual
Yang berkata membela kemiskinan tapi menikmati yang haram.
Kau bilang kau selalu ada di garis terdepan.
Benar rupanya bukan untuk membela lebih kepada penengadah dana utama.

Kau bilang miskin adalah salah kami
Bodoh adalah pilihan kami
Kesengsaraan dan kesusahan itu ya memang takdir kami.
Mahluk apa kau ini? Setan berdasi yang menduduki kursi berlabel mewakili.

Kami sakit kau tak peduli
Mau apapun sepertinya lebih baik mati.
Benar saja megurangi statistic angka kemiskinan
Dasar! Manusia tak bertuhan!

Bernyanyi sajalah kau di media, tersenyum sajalah kau di depan kamera
Karena kau memang hanya pemain sandiwara.
Yag dibayar dengan keringat kaum jelata.
Bilang saja kami kaum marjinal dan terpinggirkan setidaknya kami mulia
Tak menguntit dan berdosa
Tak menggembungkan perut buncit hasil menganiaya.

Kaum terpinggir bersama berjuang, melepas belenggu kenistaan.
Kaum terpinggir bergerak beriringan, membentuk barisan untuk memerdekakan.
Kaum terpinggir bejalar menyusuri kehidupan.

Aku dan Jemuranku

Aku dan Jemuranku


Tulisan lama yang dibuang sayang hihi cekidot


29 Maret 2012

DEPOK, 20.00

AKU DAN JEMURANKU

Baiklah, ini kisahku dan jemuranku

Meempati ruang yang sama, menghabiska waktu

Berutung aku bisa menjemur pakaianku.

Hal sepele yang tak perah aku pikirka sebelumnya

Namun, memiliki arti dan makna yang luar biasa.

Dua hari lalu aku tak berfikir tetangmu jemuraku

Keberadaamu di luar sana membuatku lupa,

Betapa petingnya arti hadirmu.

Jemuranku, maafka aku, kau jadi tak medapat sinar surya.

Karena aku belum mampu menggantungmu di luar sana.

Jemuranku, kutatap dirimu dalam lelah malamku

Kau menemani tidurku, membawa kedamaian yang tak bisa kulukiskan karena jemuran pribadiku.

Jemuranku, air perasanmu menetes membasahi lantai kamarku,

Tak apa. Kupikir ini adalah pedingin alami.

Jemuranku oh jemuranku..

Merah, kuning, biru, ungu, orange,

Bertali, berkacing, atau tidak keduanya

Besar, kecil, panjang, pendek

Kaulah jemuranku yang kadang melorot tak menentu,

Jemuranku oh jemuranku

Hanya seutas tali rapiah dari jendela ke pintu

Subhanallah jemuranku..

Bertahanlah sebentar saja..