Hujan

Sunday April 8, 2012
pukul 12:08

Fey. Jika orang menghindari hujan karena berbagai macam factor. Maka, aku mencari hujan karena hanya ada satu sebab. Aku mencintainya. Semua bilang bahwa hujan membawa petaka. Banjir, logsor, badai. Menurutku itu hanya sebagian dari ungkapan kekecewaan penduduk bumi yang tidak bertanggung jawab. Tuhan bilang hujan itu anugerah. Coba pikirkan lagi. Berapa banyak tarian, sesembahan, atau ritual demi memanggil hujan? Berapa banyak pohon mati dan kekeringan yang dapat berakibat bagi rusaknya perekonomian? Manusia memang tidak pernah bersyukur.

Fey. Hujan tak semata datang karena angin yang membawanya. Ada kuasa yang lebih dari itu semua. Bagaimana pelangi itu ada jika tidak karenanya. Buatlah hujan deras seperti yang Tuhan ciptakan tentu tak ada satupun yang mampu. Kau tahu 2010 lalu pemeritah membuat hujan buatan dari bahan-bahan kimia yang ia tumpahkan di awan bersama garam demi menciptakan tetesan air. Agar kebakaran di Kalimantan tidak semakin besar dan merugikan Malaysia serta Singapura.

Fey. Hujan itu tak selamanya ada. Kenapa tak kau nikmati saja? Sebagaimana kau tahu bahwa aku selalu membawa payung dan jas hujan kemana pun ku pergi. Sekali ku tak membawa mereka, baru kurasakan betapa aku dan hujan bisa menyatu, menjalani takdir Tuhan. Aku tak memerlukan apapun lagi. Cukup aku dan hujan, berjalan bersama, tersenyum diantara langkah kaki. Semua memandangiku, menilaiku dengan tatapan sudut. Kau tahu kan maksudku? Melirik aneh. Bahkan diantaranya meneriakiku ‘menepilah, biarkan hujan pergi dulu’ bagaimana mungkin aku berkata. Jika inilah yang kuinginkan. Bersamanya.

Fey. Hujan tak pernah lagi membuatku sakit.

Bersama hujan aku belajar merasakan kedamaian, ketakutanku berubah mejadi kerinduan jika ia tak ada.

Hujan tak lagi membuatku ragu untuk melangkah keluar. Berbuat, berlaku sesuatu. Fey. Hujan tak kan mungkin dihindari. Dengannya doaku menjadi semakin kuat dimata tuhan. Bersamanya aku belajar bagaimana menerima. Sebagian mencaci. Sebagian mencari. Tapi ia tak peduli. Ia hanya tahu satu. Aku harus hadir saat itu juga.

Fey…Di sanalah aku memandangmu. Saat itulah aku tahu dan mengerti betapa bahagiannya kau lepaskan bebanmu, mengalir bersama rintikan hujan. Langkah kakimu masih tegas dan berirama. Saat itu aku jatuh cinta. Melihatmu tersenyum tulus menyambut kegelapan dan matamu mengerling indah ketika matahari datang. Dan benar Fey. Pelangi akan terlihat lebih indah karena lenganmu yang terbentang menyambutnya. Fey. Kau rasakan itu? itu aku yang menyapamu melalui hembusan angin. Tersenyumlah.. =)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s