An Opening

5.26.2012
repost 10.14.2014

Aku pikir kita adalah senja atau apalah terserah kau menyebutnya apa. Ketika itu matahari dan bulan bertemu. Meramu merah bayangan wajahmu. Tertunduk dan tersenyum. Memalingkan wajah dan melambaikan tangan. Bukankah seperti itu. Akhirnya kedamaian datang bersama pergimu. Menyapaku.

Aku benar, kebosanan dalam pernikahannya membawanya berpaling pada sosok lain. Sedikit berbeda dengan kisah sang penulis mantan penyanyi. Dia jatuh cinta.

    Salahnya. Menghabiskan waktu bertiga bersama sahabat. Bukannya memilih waktu berdua dan memperbaiki semuanya.

Yang ini berbeda. Dia terlihat begitu anggun dan memperhatikan keluarga. Entah apa yang membuatnya pergi. Laki-laki itu pun sama. Setelah membuatnya jatuh cinta. Ia kembali pada keluarganya. Pada istri dan anak yang menunggu bersama kehangatan. Hmm. Seperti itulah. Cinta itu harusnya cerdas. Cerdas memilih ketulusan atau kesenangan.

Tentu ini bukan aku, aku bahkan tidak memiliki seseorang untuk dicintai. Termasuk dirimu. Yang sekejap bayangmu pergi bersama merah yang menua. Sendiri, aku berharap kau kembali. mungkin esok hari waktu fajar menepi.

Aiish. Bahkan waktu itu pun tak pernah cukup. Selalu saja di saat itu. batas waktu. Pertemuan bulan dan mentari.

Ah perempuan tua itu menyibakkan rambutnya yang mulai habis karena usia. Kerutannya mengingatkanku pada sosok yang lebih muda. Yang berjuang, tak berpangku tangan. Seandainya aku bisa mengatakan ia tak pernah menyesal. Tapi fakta menyebutkan ia berkata “andai saja”.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s